
Bima melepaskan jasnya dan mengendurkan dasinya, dia berjalan dengan santai ditengah terik matahari. Bima menemukan kedamaian dari alam pedesaan yang jauh dari hiruk pikuk dan asap kendaraan. Hatinya sangat tentram, namun tiba-tiba ada sesuatu yang menabraknya.
“Awww!!!” desis bocah laki-laki kecil itu. Sambil terduduk dia membelai lututnya yang terluka.
“Kamu tidak apa-apa, Nak?” tanya Bima. Bima berjongkok menyamakan posisinya dengan anak laki-laki yang terjatuh didepannya.
“Hey, Tuan. Bisakah Anda berjalan menggunakan mata?”
“Anak ini terlihat sopan dalam bicaraanya, tapi juga terkesan kasar.” Batin Bima. “Maafkan, aku. Kamu baik-baik saja. Sini paman bantu.”
“Tidak perlu. Aku laki-laki yang kuat, tidak perlu bantuan.” Ucap bocah yang kira-kira berusia 4 tahun lebih itu.
Bima tersenyum melihat anak laki-laki itu, entah kenapa dia merasa jika bocah itu mirip dengannya. “Siapa namamu?”
“Arya!” panggil seseorang dari belakang. Laki-laki dewasa itu berlari kecil mendekati bocah itu yang terlihat sedang mengobrol dengan orang asing.
“Kamu tidak apa-apa?” laki-laki itu melihat lutut Arya yang terluka.
__ADS_1
“Aku tak apa-apa, Yah. Aku kan laki-laki kuat seperti Ayah.” Ucapnya dengan tegas dan senyum manis anak-anak.
“Ayah?” gumam Bima, “Kak Rendra?”
Rendra menoleh dan dia juga terkejut melihat Bima ada disebelahnya, “Bagaimana bisa kamu ada disini, Bim?” tanya Rendra penasaran.
“Aku hanya sedang mengecek produk yang akan di ekspor, Kak. Jadi, Kakak selama ini ada didesa ini? Lalu, dia . . . dan Livia?”
Rendra hanya tersenyum, “Datanglah kerumahku, Bim.” Rendra menjelaskan alamat rumahnya.
“Pantas saja dia mirip denganku, apa karena dia anakmu, Kak? Anakmu dan Livia?” hati Bima terasa sangat sakit. Dia merasa jika pencariannya selama ini akan berakhir sia-sia. Livia bukan lagi miliknya. Dia kehilangan orang yang sangat dicintainya karena kebodohannya sendiri.
Di malam hari, Bima berkunjung kerumah Rendra. Sebelum berangkat dari penginapan, Bima berkali-kali menyiapkan hatinya. “Bagaimana jika aku tetap memintanya untuk kembali padaku? Padahal ia sudah milik kakakku.” Desis Bima.
Saat Bima masuk kedalam rumah itu, matanya mencari keseluruh penjuru rumah. “Apa yang kamu cari, Bim?” tanya Rendra saat menyadari apa yang sedang dilakukan oleh adiknya itu. Rendra menyuguhkan satu gelas kopi panas dimeja untuk Bima.
“Dimana Arya?” tanya Bima basa-basi.
__ADS_1
“Dia sudah tidur dikamar belakang, istriku ada bersama dengannya.”
“Istri?” Bima terkejut, namun setelah itu ia berusaha untuk menekan kembali keterkejutannya, “Kak. Ada yang ingin kutanyakan.”
“Arya adalah anak Livia, Bim.” Rendra menjawab pertanyaan yang belum terucap dari bibir Bima.
Deg! Jantung Bima serasa terhenti. Habis sudah harapan terakhirnya, sepanjang perjalanan menuju rumah Rendra, Bima terus saja menepis pikirannya tentang siapa ibu kandung Arya. Bima terus menyangkal pikiran buruknya, dan masih menaruh harapan bisa kembali bersama Livia.
“Tapi aku masih belum bercerai dengan Livia, Kak.” Lirihnya. “Dia masih istriku.”
“Itu tak merubah fakta apapun, Bim.” Jawab Rendra bijak.
“Aku masih sangat mencintai Livia, Kak!” ucap Bima dalam hati. Ingin sekali dia mengatakan itu didepan kakaknya, namun dia sadar jika dia sudah tidak mempunyai hak untuk itu. Apalagi Bima melihat sendiri dengan kedua matanya jika Arya memanggil kakaknya dengan sebutan ayah.
“Maafkan aku, Kak.” Wajah Bima tampak murung.
“Aku tidak pantas mendapatkan ucapan maafmu, Bim. Karena Livia-lah yang menanggung penderitaannya selama ini.”
__ADS_1