
“Apa jadwalku hari ini?” tanya Livia selanjutnya karena tidak ada jawaban dari Andra.
“Hari ini cukup selesaikan pekerjaanmu dikantor, tidak ada jadwal rapat keluar. Oh iya, sebentar lagi akan ada peluncuran produk baru.”
“Sudah diperiksa?”
“Sudah. Tinggal kita tentukan saja kapan tanggal peluncurannya. Apa mau aku buatkan jadwal untuk rapat siang ini?”
“Jangan! Seperti biasa, setelah makan siang aku akan kerumah sakit. Kakek hari ini sudah bisa pulang.”
“Perlu bantuan?”
“Tidak. Terima kasih.”
“Kamu pasti lelah setelah beberapa hari ini bekerja dan mengurus Pak Anwar.” Andra melangkah kebelakang kursi Livia dan mulai memijat pundak gadis itu. “Apa enakan?”
“Terima kasih, Ndra. Nyaman sekali rasanya.” Livia menikmati pijatan yang Andra berikan.
“Apa ada yang perlu aku lakukan? Menghiburmu misalkan?” bisik Andra tepat ditelinga Livia.
Livia tanpa sadar langsung menghindar karena merasa tidak nyaman. “Tidak kali ini, Ndra. Aku cukup lelah.”
__ADS_1
“Baiklah. Bilang saja padaku jika kamu memerlukannya.”
Livia mengedipkan matanya dan tersenyum tenang. Setelah itu Livia langsung tenggelam dalam pekerjaannya, dia ingin cepat-cepat menyelesaikannya karena akan segera menjemput kakek yang sangat disayanginya.
Sementara itu dirumah sakit . . .
“Bagaimana keadaanmu, Mas? Oh! Salah, harusnya aku bertanya, apakah membosankan berada dirumah sakit, sehingga memintaku untuk memulangkanmu?” goda dokter Joseph.
“Lanjutkan saja ke-isenganmu, Jo. Kamu akan merasakannya jika berada di usiaku nanti.”
“Tentu saja tidak, Mas. Cucuku masih bayi saat ini, dan entah apakah aku masih hidup saat cucuku nanti berada di usia menikah.”
“Ternyata menyenangkan sekali hidupmu.”
“Ehemm ehemm ehem.” Kakek Anwar sengaja berpura-pura batuk agar dokter Joseph berhenti menggodanya. “Mulutmu sama sekali tidak berubah. Tetap saja berbisa.”
“Semua persiapan sudah selesai, Pak.” Lapor Pak Hermawan.
“Tunggu Livi datang. Tadi dia sudah memberitahuku jika akan menjemput kita. Apa persiapan dirumah untuk malam nanti juga sudah selesai?”
“Sudah, Pak. Semua sudah sesuai arahan dari Bapak.”
__ADS_1
“Bagus . . . bagus.” Kakek Anwar tersenyum puas.
“Selamat siang semuanya.” Sapa Livia kepada semua orang yang berada diruang rawat inap kakeknya.
“Siang Livia. Seperti biasa, kamu tetap cantik walaupun sudah bekerja keras dari pagi. Andai saja aku punya anak laki-laki yang bisa kujodohkan denganmu.” Goda dokter Joseph.
“Aku tidak akan setuju! Jika aku punya besan sepertimu, bisa-bisa setiap hari masuk rumah sakit karena menahan emosi.”
“Justru bagus, Mas. Kan aku memang dokter pribadimu, jadi aku bisa merawatmu.”
Livia tersenyum melihat kakeknya yang sudah semakin emosi. Livia tahu jika hanya dipermukaan saja kakeknya selalu tidak akur dengan dokter Joseph, tapi pada kenyataannya mereka berdua cukup dekat.
“Sudah, sudah. Nanti Kakek kalau sakit lagi tak bisa pulang hari ini. Dokter juga! Tolong ya Dok, jangan membuat kakek saya nanti semakin lama dirawat disini.” Livia berpura-pura marah.
“Hahahaha, betul, betul. Kakekmu sudah sembuh, jadi dia harus segera pulang. Tapi ingat Livia, jangan sampai membuat kakekmu mendapatkan kejutan yang menyakitkan atau mendengarkan kabar yang kurang bagus. Pokoknya yang berakibat fatal, lah.”
“Siap, Dok.”
“Sebentar, biar Livia ambilkan kursi roda.”
“Tidak perlu, Nona. Biar saya yang ambilkan.” Pak Hermawan langsung bergegas mengambil kursi roda.
__ADS_1
Setelah semua persiapan selesai, kakek Anwar meninggalkan rumah sakit dengan diantar oleh dokter Joseph sampai depan lobi rumah sakit. Tak lupa untuk yang terakhir, dokter keluarga Admaja itu mengingatkan Livia untuk tetap membuat suasana hati kakeknya bahagia.