
Dari dapur, Livia masih bisa mendengarkan obrolan kedua kakek tua itu. Sesekali mereka berdua mengenang masa lalu, saat mereka berdua masih muda. Sesekali juga mereka menumpahkan kekesalannya kepada cucu-cucu kesayangan mereka. Livia hanya terkekeh saat mendengar hal lucu yang di obrolkan dari kedua kakek itu.
“Memangnya rumor apa yang menyerang, Bima?” tanya kakek Anwar penasaran.
“Masa dibilang kalau Bima itu impoten?”
“Gila!!!” seru kakek Anwar.
“Tentu saja sangat gila. Anak seperkasa itu bagaimana bisa sampai terjerat rumor yang menyesatkan.”
“Tapi, Bima pernah sekali atau dua kali berkencan, kan?”
“Dia tidak pernah berkencan sekalipun seumur hidupnya.”
“Bagaimana kamu yakin?”
“Tentu saja aku tahu. Aku punya mata-mata yang bisa melaporkan semua pergerakan cucu-cucuku.”
__ADS_1
“Biarkanlah dia bebas menentukan pasangannya, apalagi dia anak laki-laki, Galih.”
“Aku tahu itu, War. Tapi tak pernah sekalipun ada laporan yang mengatakan jika Bima berkencan atau mengencani seseorang. Apalagi dia penerus perusahaanku. Tentu saja cicitku sangat penting untuk lahir dimasa depan.”
“Coba saja kunci dia dengan perempuan lain.” Saran kakek Anwar.
“Aku tidak mau bibit Bima ditebar kesembarang orang. Lagi pula aku sudah pernah mencobanya. Aku kunci dia disatu kamar hotel dengan salah satu anak gadis perusahaan periklanan. Dan kamu tahu apa yang terjadi? Perempuan itu menangis saat dikeluarkan. Dia merasa jika dia sedang ditipu karena disatukan dengan laki-laki yang tak bisa bereaksi sama sekali.”
“Jangan-jangan dia memang impoten?” gumam kakek Anwar.
“Jaga perkataanmu, War!” kakek Galih meradang.
“Yakin? Aku pukul satu kali, ompong gigimu.”
“Hahahahaha. Ada-ada saja.”
“Kakek Anwar dan Kakek Gal, mau berpindah ketaman belakang? Mumpung cuaca lagi bagus. Nanti makanannya biar Livi yang bawa keluar. Kakek bisa berjalan duluan.”
__ADS_1
“Saran yang bagus. Sudah semakin tua, jangan terus menerus ada didalam ruangan.” Jawab kakek Galih.
Saat keduanya sedang turun kelantai satu dan berjalan menuju taman belakang rumah, Livia terpikirkan ucapan kakek Galih tentang cucunya yang dikabarkan impoten.
“Impoten? Apakah cucunya laki-laki yang membuat masalah dipesta Intan kemarin?”
Livia memang dekat dengan kakek Galih, karena dulu sewaktu kecil sering sekali dia di ajak oleh kakeknya untuk berkumpul dengan teman-temannya, dan saat Livia besar, dia lebih sering memilih untuk mengantarkan kakeknya. Namun Livia tidak tahu tentang keluarga kakek Galih, yang hanya dia tahu adalah jika kakek Galih hanya tinggal dengan kedua orang cucu laki-lakinya karena anak semata wayangnya dan menantunya telah meninggal karena kecelakaan.
“Nona?” asisten rumah tangga membuyarkan lamunan Livia.
“Oh, iya, Bik.”
“Sini biar bibik aja yang bawain kebawah makanan dan minumannya. Nona istirahat saja dikamar. Pasti Nona juga capek habis kerja, kan?”
“Terimakasih ya, Bik. Tolong bantuannya.” Livia memberikan satu nampan yang berisikan minuman dan bakpia.
Livia menuju kamar lamanya yang masih tertata rapi dirumah itu, dalam perjalanan, entah kenapa dia terus saja terpikirkan tentang sosok cucu kakek Galih. “Tapi tidak mungkin jika laki-laki kemarin adalah cucu kakek Galih. Sifat mereka saja sangat berseberangan. Kakek Galih penyayang dan agak penyabar, yah walaupun kalau sama kakek selalu saja bertengkar. Hihihihi.” Livia cekikikan sendiri saat mengingat kembali pertengkaran kedua kakek tadi.
__ADS_1
“Tapi masa si jaman gini ada laki-laki yang nggak pernah berhubungan sama perempuan lain? Jajan mungkin diluar. Tapi kata kakek Galih tadi tidak ada. Berarti memang cucu kakek Galih benar-benar impoten. Sudah pasti itu.”
Livia menghentikan pikiran-pikiran liarnya dan memilih untuk menyerahkan tubuhnya pada ranjang yang empuk itu. Hanya dalam beberapa detik, Livia tenggelam pada kenyamanan masa lalu dikamarnya dan akhirnya terlelap.