
“Kenapa bukan kakaknya yang menjadi pewaris utama?” Gumam Livia.
“Apa Liv?”
“Oh! Tidak ada apa-apa, Ndra. Apa kamu ingat laki-laki yang sempat bertengkar dengan Intan dipesta ulang tahunnya?”
“Laki-laki itu? Kenapa Liv?”
“Ini dia laki-laki itu.”
“Gila! Kamu harus menolaknya. Jangan sampai kamu berurusan dengan laki-laki yang temperamental seperti itu.”
“Dia tidak temperamental, Ndra. Dia hanya terganggu karena daerah sensitifnya sengaja disentuh oleh Intan.”
“Intan sengaja melakukannya?”
“Betul. Karena dia ingin membuktikan rumor yang beredar. Jika dia seorang impoten.”
“Impoten? Jadi dia tidak bisa . . .”
“Tapi itu lebih bagus, Ndra. Lebih bagus kalau dia benar impoten.”
“Maksudnya?”
“Jadi, dia tidak akan menuntut untuk berhubungan, dan dia juga tidak akan menuntut untuk memiliki anak.” Ucapnya. Livia takut jika anaknya kelak akan merasakan penderitaan yang sama dengan drirnya. Itu adalah sebab lainnya Livia tidak ingin menikah.
“Ah! Kamu benar.” Kali ini Andra dapat tersenyum kembali, karena merasa jika Livianya akan tetap memerlukannya karena dia mempunyai suami yang impoten.
“Buatkan aku janji untuk bertemu dengannya malam ini.”
__ADS_1
“Mau dimana kalian bertemu?”
“Carikan restoran dengan ruangan privat. Aku ingin bicara hanya berdua dengannya.”
“Ok. Aku akan memberikan kabar padamu jika sudah mendapat persetujuan dari sana.”
“Sip. Terima kasih, Ndra.”
“Ini sudah menjadi kewajibanku sebagai teman dan bawahanmu, Liv.” Andra sumringah kali ini dan mendukung keputusan Livia dengan pasti.
Setelah memastikan pertemuan Livia dan Bima, Andra pergi kerumah sakit lagi untuk melaporkan apa yang didapatkannya kepada kakek Anwar. Termasuk persetujuan Livia untuk bertemu dengan cucu Galih Mahardika.
Kakek Anwar yang mendengarnya ikut senang dan langsung menghubungi teman seperjuangannya itu setelah Andra pergi meninggalkan ruangannya.
“Hallo.” Sapa kakek Anwar.
“Ada apa Pak Tua? Kenapa menghubungi malam-malam begini?”
“Apa Livi akhirnya mau menikah?”
“Ya! Dan yang lebih menggembirakan, Livia memilih untuk bertemu dengan Bima malam ini. Sebentar lagi kita akan melihat cicit kita, Galih.” Teriak kakek Anwar dengan bahagia. Ledakan tawa juga terdengar dari seberang sana. Kakek Galih turut bahagia karena nampaknya Bima setuju untuk bertemu dengan Livia.
Setelah menutup teleponnya, kakek Galih berjalan menuruni tangga, dan disusul oleh Bima yang sudah rapi dengan setelan jasnya.
“Mau kemana kamu malam-malam begini?” Kakek Galih pura-pura bertanya.
“Kek, Bima bukan anak perempuan yang harus ditanya mau kemana setiap malam.”
“Kakek tidak selalu bertanya. Kenapa begitu saja sewot!” jawab kakek Galih geram.
__ADS_1
“Bima mau ada pertemuan, Kek.”
“Pertemuan? Dengan baju se-formal itu? Bukan kencan?”
“Hah? Kakek tahu aku mau kemana?”
“Tentu saja Kakek tahu.”
“Jangan coba-coba untuk membuntutiku, Kek.” Ancam Bima pada kakeknya.
“Buntuti apanya. Yang akan kamu temui itu cucu dari temanku. Baru saja dia menghubungi dan memberitahuku. Kenapa kamu jadi berpikir berlebihan kepada Kakek, bikin sebal saja!”
“Maaf. Kek. Bima tidak bermaksud begitu.”
“Ya sudah sana berangkat! Jangan sampai Livi menunggu terlalu lama.”
“Livi?” tanya Bima. Dia heran kenapa kakeknya memanggil gadis itu dengan akrab.
“Iya, Livia. Dia sudah seperti cucu perempuanku. Maka, jadikanlah dia benar-benar sebagai cucuku.”
“Aku pergi dulu, Kek.” Bima tidak menjawab ucapan kakeknya dan secepatnya ingin kabur.
Kali ini kakek Galih akan melepaskan Bima dengan mudah dan tidak akan menahannya untuk berdebat. Hati kakek tua itu sedang senang karena akhirnya cucunya mau menemui seorang perempuan.
Satu jam kemudian, Bima sudah tiba terlebih dahulu. 5 menit kemudian, disusul oleh Livia. Baru saja Livia duduk, Bima sudah bersikap tidak menyenangkan.
“Kamu telat 5 menit.”
Livia mencoba untuk membiasakan diri dari pria kasar didepannya, “Maaf, tapi aku harus mengambil sesuatu dulu.”
__ADS_1
“Aku tidak berurusan dengan sesuatu itu.”
“Tentu saja ada.” Livia mengambil satu kotak kecil berwarna hitam, dan membukanya. Didalamnya terdapat dua cincin couple berwarna perak. Livia meletakkan cincin itu didepan Bima. “Aku melamarmu. Menikahlah denganku, Bima Dwi Mahardika!” ucap Livia dengan pasti.