OH! MY LIVIA

OH! MY LIVIA
Episode 12


__ADS_3

Dengan langkah berat Livia meninggalkan kakeknya yang terbaring lemah. Dia harus segera menyelesaikan pekerjaannya dan kembali kerumah sakit dengan cepat.


“Apa Livia sudah pergi?” tanya kakek Anwar dengan mata masih tertutup.


“Sudah, Om. Livia sudah pergi.” Jawab paman Samuel.


Kakek Anwar bangun dan duduk diatas ranjangnya. Tubuhnya sangat sehat dan terlihat baik-baik saja.


“Kemampuan aktingmu sangat bagus, Mas. Jika kamu jadi artis, aku yakin kamu akan mendapat penghargaan.” Ucap dokter yang berusia 53 tahun itu.


“Apa kamu mengejekku, hm?” kakek Anwar terdengar tidak senang.


“Mau bagaimana lagi. Gara-gara harus membantumu, aku harus menghianati sumpahku saat menjadi dokter.”

__ADS_1


“Ish! Kamu tidak melanggar sumpahmu, kamu hanya membantu orang tua ini. Di usiaku yang sudah menginjak 65 tahun ini, apalagi yang kuharapkan selain melihat cucu kesayanganku itu menikah. Ini semua kulakukan demi Livia. Aku tidak mau jika nanti aku mati, Livia hidup sendiri dan lebih menderita.”


“Jangan begitu, Om. Kan ada kami. Kami juga adalah keluarga bagi Livia. Dia keponakanku, anak dari mendiang kakakku.”


“Aku tahu itu. Maaf Sam, jika aku menyinggunmu, bukan itu maksudku yang sebenarnya. Yah . . . kamu tahu sendiri, jika sejak kecil Livia tumbuh besar denganku. Dia cenderung lebih tertutup dengan keluarga lainnya, dan hanya denganku dia mau terbuka. Kurasa kamu tahu masalah itu."


“Betul, Om. Livia memang sedikit membatasi diri dan tertutup.”


“Maka dari itu, aku takut jika kehilanganku akan membuatnya semakin terpuruk. Jika nanti dia sudah menikah, paling tidak ada seseorang yang akan selalu mendampinginya.”


“Aku sudah melakukannya.” Protes dokter Joseph. “Jadi mau sampai kapan Mas mau berpura-pura seperti ini?”


“Sampai Livia naik kepelaminan. Aku akan melakukkan sandiwara ini sampai situ. Jadi aku masih memerlukan bantuan kalian. Tolong juga terus motivasi Livi, Sam.” Kakek Anwar menaruh harapan besar agar bisa melihat Livia menikah.

__ADS_1


“Tentu saja, Om. Livia juga keponakan saya.” Jawab paman Samuel dengan pasti. Paman Samuel akan sebisa mungkin membantu apa yang kakek Anwar inginkan, terutama hal itu merupakan hal yang positif.


Tidak pernah sekalipun seorang Samuel Rehardi menolak permintaan kakek Livia itu. Karena dulu, keluarga besar Rehardi memiliki hutang budi kepada kakek Anwar. Kakek Livia itu menolong perusahaan keluarga Rehardi yang hampir saja gulung tikar karena saham anjlok. Kakek Anwar juga meminta anak perempuan pertama keluarga Rehardi untuk menjadi menantunya, yaitu ibu Livia.


Dan paman Samuel tidak henti-hentinya untuk menaruh hormat kepada penguasa perusahaan Admaja Corp itu, disaat ibu Livia yang meninggal karena bunuh diri, kakek Anwar tidak sekalipun menutup mata dari kebenaran. Kakek Anwar memilih untuk mengusir anak laki-laki satu-satunya karena menjadi penyebab kematian ibu Livia.


Keesokan harinya, kakek Anwar meminta Andra untuk datang menemuinya diruang inapnya.


“Selamat siang, Pak. Maaf, saya baru bisa menemui Pak Anwar karena harus menyelesaikan rapat bersama Bu Livia.” Ucap Andra saat dia sudah bertemu dengan pendiri perusahaan kosmetik itu.


“Ya. Tak apa.” Jawab kakek Anwar dengan acuh.


“Apa yang bisa saya bantu, Pak?”

__ADS_1


Kakek Anwar meletakkan koran yang sedari tadi dia baca, “Livia akan segera menikah, aku minta kamu kumpulkan data-data calon yang cocok untuk Livia. Aku rasa kamu sudah tahu apa kriterianya.”


“Me-menikah, Pak? Bu Livia akan segera menikah?” tanya Andra dengan tergagap. Hatinya tiba-tiba merasakan pukulan berat.


__ADS_2