OH! MY LIVIA

OH! MY LIVIA
Episode 35


__ADS_3

“Bagus! Selamat Tari.” Yuda memberikan selamat kepada temannya itu. “Jadi kapan kamu akan masuk kerja? Aku kewalahan mengerjakan semua urusan kantor.” Tanyanya pada Bima.


“Cutiku masih ada satu minggu lagi. Selama sisa cutiku jangan pernah menggangguku. Jangan telepon atau apapun. Dan jangan menyebarkan gosip murahan kepada orang lain.” Bima sengaja mengungkit masalah perkataan Yuda kepada kakaknya.


“Maafkankan aku.” Jawab Yuda dengan senyum tanpa penyesalan.


“Kalau begitu aku pergi dulu. Aku ingin menjemput Livia.”


“Makan dulu, Bim.”


“Tak perlu.” Bima tetap berjalan pergi tidak menghiraukan permintaan Yuda lagi.


“Pak Bima sudah punya istri?” tanya Tari setelah tinggal mereka berdua dimeja itu.


“Benar. Dan siapa yang menyangka jika Livia bisa menakhlukan laki-laki berhati sekeras baja itu. Tiba-tiba saja dia jadi sebucin itu.”


“Livia?” tanya Tari penasaran.


“Benar Livia. Livia Admaja. Apa kamu mengenalnya?”


“Ti-tidak. Aku tidak mengenalnya.” Jawab Tari dengan sedikit gugup.


Yuda sedikit merasa aneh dengan sikap Tari yang tiba-tiba merasa tak nyaman saat dia menyebutkan nama lengkap Livia. Namun Yuda tak menghiraukannya lebih lanjut, dia meneruskan obrolan mereka berdua sambil bersantap siang.


“Liv.” Sapa Andra dengan suara pelan.


“Hay, Ndra. Bagaimana peluncuran produk kita dibeberapa market online?”


“Sementara ini penjualannya sangat bagus. Dengan adanya contoh pemakaian yang real, kita bisa menjualnya dengan cepat.”

__ADS_1


“Bagus kalau begitu.”


“Kamu baik-baik saja, Liv?”


“Tentu saja aku baik-baik saja. Kamu bisa melihatku tanpa luka, kan?”


“Aku hanya mengkhawatirkanmu sebagai teman dan sebagai bawahan.”


“Terimakasih atas perhatiannya, Ndra.”


Setelah acara selesai, Livia melimpahkan wawancara dengan wartawan kepada tim publik untuk menanganinya. Livia memilih kembali memasuki ruangannya yang sekarang telah beralih keruang direktur utama.


“Jadi bagaimana kehidupan rumah tanggamu?” tanya Andra saat mereka sudah masuk kedalam ruangan.


“Apa kamu sangat penasaran?”


“Tentu saja. Kamu sangat susah dihubungi. Apalagi tiap aku menghubungimu, selalu suamimu yang mengangkatnya.”


“Terus-terus, bagaimana? Apa dia benar-benar impoten?” Andra mendekatkan duduknya.


“Tidak.”


“Hah! Maksudnya?” Andra tak bisa menyembunyikan ekspresi kagetnya.


“Dia tidak impoten, Ndra. Dia laki-laki normal.”


“Tapi, bukannya dia tidak pernah mengklarifikasi rumor anehnya itu?”


“Betul. Maka dari itu aku tertipu dan mengetahui kenyataan dimalam pertama pernikahan kami.”

__ADS_1


“Ja-jadi kalian melakukannya? Kalian melakukan hubungan itu?” tanya Andra dengan ngeri.


“Tentu saja, Ndra. Itu bukan hal yang aneh. Kami suami istri.” Livia memandangi sahabatnya yang bersikap aneh.


“Lalu, apa arti aku bagimu, Liv? Bukannya kita sudah melakukannya juga. Aku kira hanya aku yang akan menemanimu melakukan hal itu. Aku kira hanya aku yang bisa memberikan kepuasan padamu.” Andra menggenggam tangan Livia dengan paksa.


“Tuan Andra Permana!” bentak Livia, “Kamu jangan keterlaluan. Dari awal hubungan kita hanya hubungan yang saling menguntungkan. Tanpa ada perasaan didalamnya.”


“Tapi aku ada, Liv. Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu, Livia.”


Livia membelalakkan kedua matanya, tidak pernah dia kira jika Andra memiliki perasaan lebih untuknya. “Tapi aku hanya menganggapmu sebagai sahabat, Ndra.”


“Mana ada sahabat yang melakukan hubungan badan, Livia!” Andra histeris.


“Jaga mulutmu, Ndra! Dari awal kita sudah sepakat jika hubungan kita hanya hubungan bisnis semata. Kita sama-sama diuntungkan tanpa ada kerugian disalah satu pihak.”


“Tapi aku mencintaimu, Livia. Kumohon, terima perasaanku.” Andra bersujud dihadapan Livia. Dia menangis sambil menggenggam kedua tangan gadis cantik itu. “Berpisahlah dengannya, menikahlah denganku. Aku akan memohon dihadapan Pak Anwar. Kumohon Livia, kumohon.” Andra berlutut dihadapan Livia.


“Aku tak bisa melakukannya, Ndra. Aku sudah menikah dengan Bima.” Livia melepaskan genggaman Andra secara paksa dan berjalan menjauhi Andra.


“Kurasa memang benar apa yang dikatakan Bima. Kurasa aku harus memindahkanmu dibagian lain.”


“Apa? Kenapa dia berfikir seperti itu?” tanya Andra bingung.


“Bima tahu jika aku pernah melakukan hal itu denganmu.”


“Lalu, apa yang dia katakan? Dia baik-baik saja dengan hal itu?”


“Dia menerima masa laluku dengan syarat harus menghapusmu dari masa depanku.”

__ADS_1


“Tidak. Liv. Kamu tidak boleh melakukan itu. Kamu harus menjadi milikku.” Andra mencengkeram kedua lengan Livia kembali.


Plak!! Satu tamparan melayang ke pipi kiri Andra, “Sadarlah, Ndra!” teriak Livia.


__ADS_2