OH! MY LIVIA

OH! MY LIVIA
Episode 41


__ADS_3

“Baju ini sangat mudah untuk dilepas. Ahhh!!!” teriaknya prustasi, “Ingin rasanya aku melepasnya saat ini juga agar kita tak perlu datang kepesta.”


“Bagaimana bisa begitu? Ini pestamu, Bim. Semua orang pasti sedang menunggu kita. Terutama kakek Galih.”


“Kakek Galih akan mengerti, Sayang.” Bima sudah asik mencumbu sekitar leher putih Livia.


“Bima, hentikan!” perintah Livia saat menyadari jika Bima telah menghisap salah satu sisi lehernya. Livia berlari mendekati kaca dan menemukan titik merah di lehernya.


“Apa yang kamu lakukan, Bima?” Livia terlihat marah. Gadis cantik itu mengambil foundation untuk menyamarkan titik merah karena perbuatan Bima.


“Jangan ditutupi dengan bedak. Aku hanya ingin orang lain tahu jika kamu milikku.”


“Tapi yang ada malah nanti aku di gosipin sama semua orang.” Livia tetap berusaha menyamarkan warna merah dilehernya.


“Tak akan ada yang berani melakukannya.” Bima memeluk istrinya dari belakang.


“Tapi . . . jika kamu tetap berkeras mengenakan gaun ini, kamu harus menurut padaku.” Bima tahu jika ia tak akan menang melawan keinginan Livia, jadi ia memilih untuk memanfaatkan kesempatan yang ada.


“Baiklah.” Ucap Livia pasrah.


“Dan ada satu syarat lagi?”

__ADS_1


“Apa lagi?” tanya Livia cemas.


“Beri aku hadiah malam nanti, saat kita kembali. Karena aku tidak diperbolehkan melakukannya saat ini juga.”


Livia tahu kemana arah pembicaraan mereka, “Baik, Tuan. Satu permainan.”


“Tidak. Aku tidak terima jika hanya satu.”


“Hah? Lalu?”


Bima membentangkan kelima jarinya dengan licik, “5 kali. Aku mau malam nanti kita melakukannya 5 kali permainan dalam setiap kesempatan.”


“Apa kamu gila?”


“2 kali.”


“Tidak bisa.”


“Baiklah jika tidak mau. Lebih baik kita tak pergi, dan kamu tidak akan mendapatkan keinginanmu, malam ini dan seterusnya. Bagaimana?” ancam Livia.


“Jangan! Aku bersalah. Maafkan aku.” Setuju Bima dengan cepat. Buru-buru dia minta maaf karena takut Livia akan membatalkan memberikannya hadiah jika ia tetap ngotot. Namun diwajahnya jelas terlihat rasa kecewa dan tidak terima.

__ADS_1


Perasaan prustasi karena tidak bisa menyentuh istrinya saat ini juga, ditambah kesempatan bercinta hanya dua kali dalam malam ini, membuat wajah laki-laki yang biasa menatap tajam dan dingin itu menjadi mengkerut.


Tidak dapat dipungkiri jika kebutuhan Bima yang satu itu cukup besar. Setelah dia melakukannya pertama kali dengan Livia dimalam pertamanya, Bima merasakan segel yang selama ini terpasang untuk menekan hasratnya telah terlepas. Sering Bima tidak bisa mengontrol hasratnya dan akhirnya terus menerus membuat Livia menjerit dan mengerang hingga gadis itu kelelahan.


Sulit untuknya jika harus terpisah tempat dengan kekasihnya. Bima sering merasa gelisah dan kesulitan menanganinya jika tiba-tiba ia ingin memeluk dan mencium istrinya, ingin sekali dia berlari menemui Livia, namun setelah selesai hari cuti mereka, Bima harus berusaha dengan kuat untuk mengatasi rasa rindunya karena pekerjaan kantor yang menumpuk.


“Anak pintar.” Puji Livia saat tahu suaminya menurut dengan mudah.


“Aku lebih tua darimu, Livi.”


“Tapi kamu lebih kekanak-kanakan, Bima.”


“Hanya jika bersamamu.” Jawab Bima.


“Bisakah kita pergi sekarang?” tanya Livia karena dia sudah siap.


“Boleh minta cium? Disini!” Bima menunjuk bibirnya. Ia menunjukkan wajah mengibanya.


Livia menuruti keinginan suaminya dan memberikan kecupan pada Bima, gadis itu menyentuh pipi Bima dan membuat pria tampan itu memejamkan kedua matanya. Merasakan kenyamanan dalam setiap sentuhan Livia.


“Aku mencintaimu, Livia.” Ucapnya saat merasakan Livia memandangnya dengan tatapan yang berbeda. Bima tahu jika setiap saat istrinya itu selalu berusaha untuk meyakinkan diri sendiri untuk menerima pernyataan cinta darinya.

__ADS_1


“Aku tahu.” Livia mengalungkan kedua tangannya ketengkuk Bima, dan mereka bercumbu untuk beberapa saat.


Hampir saja Livia teledor karena terbujuk oleh sentuhan suami liciknya itu, cepat-cepat Livia menghentikan gerakan tangan Bima yang mulai menyusuri punggungnya dan turun kebawah, “Tuan Bima! Ini sudah waktunya kita berangkat. Ayo!” Livia menarik tangan Bima dan dengan langkah berat Bima mengikuti Livia. Bima menggeram dalam hati, dan dia sangat membenci perasaan ini, disaat ia harus menekan hasratnya lagi karena waktu yang tak tepat.


__ADS_2