
“Liv? Ke-kenapa? Apa kamu haus?” Andra tergagap karena Livia saat ini memandangnya dengan pandangan yang berbeda.
Livia tidak menjawab, tapi dia menarik leher Andra sehingga membuat mereka saling berciuman. Sepersekian detik Andra terkejut, tapi selanjutnya Andra memilih untuk membalas dan menikmati setiap ciuman yang Livia berikan.
Malam itu keduanya menyatu menikmati surga dunia. Andra tak banyak bertanya, karena memang selama ini dialah yang menjadi pemuas bagi Livia ketika gadis yang dicintainya itu memerlukannya. Andra tak pernah keberatan dengan statusnya itu, justru dia bahagia karena bisa melakukannya dengan gadis yang dicintainya.
Matahari mulai menampakkan senyumnya, Livia mencoba meregangkan tubuhnya, namun tidak bisa karena seseorang sedang memeluknya.
“Andra. Bangun!” tanpa harus Livia pastikan terlebih dahulu siapa yang berada disampingnya, gadis itu dengan pasti dapat mengetahuinya jika dia adalah Andra, temannya.
“Hmmm . . . apa sudah pagi?”
“Lepaskan aku. Sesak, Ndra.”
“Maaf, kurasa aku tak sengaja tidur dengan memelukmu?”
Livia dan Andra sama-sama duduk diatas ranjang. “Apa aku meyerangmu lagi semalam?”
“Yah, begitulah.”
“Maafkan aku. Kurasa aku sedikit stres karena tekanan berat akhir-akhir ini. Apa aku membuatmu kelelahan?” tanya Livia khawatir.
“Tentu saja tidak. Aku sangat menikmatinya.” Gumam Andra dengan suara sepelan mungkin.
__ADS_1
“Hah? Apa, Ndra?”
“Tidak-tidak. Aku baik-baik saja. Aku akan melakukan semua yang kamu inginkan.”
“Jangan begitu, Ndra. Kamu akan kesulitan dikemudian hari jika sudah memiliki seorang kekasih.”
“Aku akan tetap berada disampingmu, Liv. Aku tidak akan menikah, sama sepertimu.”
“Hah? Apa? Apa kamu serius, Ndra?” tatapan mata Livia sudah berubah menjadi penyesalan. Dan Andra tahu apa yang dipikirkan Livia.
“Hahahaha, tentu saja tidak. Aku akan menikah nanti dengan seseorang yang kucintai. Tenang saja kamu.”
“Huft . . . hampir saja aku merasa bersalah karena telah menyeretmu kehubungan seperti ini. Maafkan aku, Ndra. Untuk sementara ini aku hanya bisa meminta tolong padamu. Terkadang perasaan stres sangat-sangat tidak tertahankan. Dan aku perlu mengeluarkannya, dengan cara . . . yah, kamu tahu sendiri.”
“Tenang saja. Aku sudah menyuntikkan obat pencegah kehamilan minggu lalu. Hanya untuk berjaga-jaga saja, jika tiba-tiba aku menyerangmu. Dan jangan sungkan-sungkan menolakku, Ndra, jika aku menyerangmu lagi. Aku mandi dulu.” Livia beranjak dari tempat tidurnya dan menuju kamar mandi.
“Aku tidak akan menolakmu, Liv. Sampai mati aku akan tetap bersamamu, walaupun statusku hanya teman tidurmu, aku akan tetap setia denganmu.” Gumam Andra saat dia memperhatikan tubuh Livia menghilang dibalik pintu kamar mandi.
Setelah mereka berdua bersiap, Livia dan Andra langsung menghadiri meeting penting dengan klien. Hasil dari meeting tersebut cukup bagus, perusahaan Livia mendapatkan investor besar karena Livia berencana untuk mengembangkan produknya lebih besar lagi kepasar dunia.
“Hah . . . untung saja hari ini semua berjalan baik.” Livia menghembuskan nafas leganya saat dia sedang menuju ruangannya.
“Bu, ada pesan dari Pak Anwar.” Ucap Andra dengan formal, karena Livia masih bersama dengan sejumlah manager.
__ADS_1
“Kakek? Ada apa dengan kakek?”
“Pak Anwar meminta Ibu untuk datang kerumah utama sore ini.”
“Apa kamu tahu ada apa?”
“Tidak, Bu. Pak Anwar hanya berpesan itu saja.”
“Apa setelah ini masih ada jadwal meeting untukku?” Livia berhenti ditengah lobi.
“Kalau begitu kami pamit dulu, Bu Livia.” Sejumlah manager perusahaan yang sedari tadi berjalan dibelakang Livia meminta izin untuk kembali terlebih dahulu keruangan mereka masing-masing.
“Terimakasih atas kerja kerasnya.” Jawab Livia dengan izin darinya. Lalu dia kembali fokus dengan Andra.
“Setelah ini tidak ada jadwal penting, Bu. Setelah istirahat makan siang, ibu hanya akan mengecek produk baru yang akan diluncurkan.”
“Kalau begitu tunda untuk besok, aku akan pulang kerumah utama sekarang. Kabari aku jika ada hal penting yang harus dikerjakan.”
“Baik, Bu. Apa Bu Livia perlu di antar?”
“Tak perlu, Ndra. Aku bisa menyetir sendiri.”
Andra membungkuk sekilas untuk memberi hormat kepada pimpinannya itu. Dengan sendu Andra memperhatikan Livia berjalan menjauh dan menghilang dari pandangannya. Ada perasaan kecewa dan tidak rela saat dia harus jauh dengan pujaan hatinya itu.
__ADS_1