
“Apa?” Bima tercengang dengan keberanian gadis dihadapannya ini. “Apa kepalamu sempat terbentur sebelum sampai disini?”
“Aku baik-baik saja, dan aku sehat-sehat saja. Aku hanya melamarmu. Kenapa kamu begitu terkejut?”
“Tentu saja aku terkejut. Di budaya kita ini, kamu termasuk perempuan liar yang langsung melamar seseorang dalam jumpa pertama.” Sidik Bima.
“Apa kamu tidak suka perempuan liar?” goda Livia. “Atau lebih tepatnya karena kamu memang tidak mampu untuk melakukannya?”
“Apa lagi ini?” Bima memikirkan arti perkataan Livia, “Oh! Pasti karena rumor itu.”
“Kita blak-blakan saja sekarang. Emmm . . . sebelumnya apa aku boleh memanggilmu dengan Bima saja?”
“Silahkan.”
“Aku selalu dikejar oleh kakekku untuk segera menikah, dan yah . . . aku harus segera menikah demi kesehatan kakekku. Aku juga tahu jika kamu merasakan hal yang sama karena keinginan kakek Galih.”
“Betul sekali.”
“Jadi aku ingin menawarkan kerja sama denganmu. Jujur sebenarnya aku tidak ingin menikah, aku takut sebuah pernikahan, aku juga takut jika harus memiliki anak. Tapi kamu orang yang tepat untukku. Karena rumor itu.”
“Karena aku impoten?”
“Betul sekali. Dengan begitu, kita tidak akan melakukan sebuah hubungan intim, dan kita hanya akan menjadi partner kerja dalam pernikahan saja. Jadi kita di untungkan dalam hal ini. Aku dan kamu sama-sama tidak akan dikerjar-kejar oleh kakek kita lagi. Bukankah tawaranku begitu menggiurkan?”
“Lalu . . . bagaimana jika ada tuntutan soal anak? Apalagi kita sebagai pewaris utama.” Tanya Bima.
“Tidak akan ada yang bisa menuntut kita. Yah . . . karena keadaan kamu seperti itu, mereka juga tidak akan menyalahkanku karena tidak bisa melahirkan seorang penerus.”
__ADS_1
“Kamu terlihat sangat senang dengan rencana ini.”
“Tentu saja aku sangat bahagia. Aku bertemu dengan solusi yang sangat baik.”
“Kenapa kamu tidak ingin menikah? Dan kenapa tidak ingin memiliki anak?”
“Itu bukan urusanmu.” Jawab Livia.
“Apa kamu penyuka sesama?”
“Tentu saja tidak!” jawab Livia cepat. “Aku suka laki-laki, tapi tidak dengan ikatan pernikahan.
Bima berfikir mungkin saja jika Livia memiliki trauma tersendiri tentang pernikahan.
“Jadi bagaimana? Mau menerima lamaranku, Tuan Bima?”
“Baiklah, aku terima. Bagaimana jika dalam dua bulan ini kita persiapkan keperluan untuk pernikahan?”
“Dua bulan? Apa tidak terlalu cepat?”
“Kamu bilang kakekmu sedang dalam keadaan tidak baik? Bukankah kabar ini akan membuat beliau cepat dalam pemulihan.”
Livia menimbang-nimbang sebentar, “Betul juga. Ok, aku setuju.” Livia mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Bima. Keduanya setuju dalam sebuah perjanjian.
“Urusan lainnya akan kita bahas lusa. Aku akan kekantormu.” Ucap Bima.
“Ok. Kalau begitu aku pergi dulu.” Tanpa memesan makanan dan minuman, urusan keduanya telah selesai. Namun urusan pemesan tempat itu sudah di amankan oleh Andra.
__ADS_1
Bima masih diam ditempatnya dan memandangi satu kotak cincin yang masih tergolek diatas meja.
“Dia gadis yang menarik. Rasanya ingin cepat-cepat menjadikannya sebagai milikku.” Ada senyum licik yang mengembang disudut bibir tebal Bima. Tiba-tiba saja dia tertarik dengan seorang gadis.
***
“Bagaimana pertemuan bisnismu kemarin, Liv?” Andra mengekor dibelakang Livia saat gadis itu mulai memasuki ruangannya.
“Kencanku?”
“Pertemuan bisnismu.” Andra menekankan kalimatnya.
“Sewot bener, sih!”
“Sebagai teman dan asistenmu, aku harus benar-benar memastikan semua data valid.”
“Ini bukan penentuan sebuah laporan, Ndra. Ini masalah kehidupanku.”
Andra tiba-tiba terdiam sembari memandang Livia yang sudah duduk dikursi kebesarannya. “Apa kamu mempunyai perasaan terhadap orang itu?” tanya Andra yang tanpa sadar mengeluarkan nada suara yang berbeda.
“Siapa? Aku? Hahahahaha . . . aku rasa kita belum bisa disebut sebagai sahabat sejati.”
“Kenapa?” tanya Andra bingung.
“Karena kamu masih menanyakan hal itu. Aku kira kamu sudah mengenalku sangat baik.”
“Aku hanya penasaran, karena orang bisa berubah.”
__ADS_1
“Benarkah?“ tanya Livia dengan rasa ragu.