
“Silahkan duduk.” Tawar Livia. Sejenak Livia memandang wajah tua yang ada dihadapannya.
“Livi, bagaimana kabarmu dan kakekmu?” tanya Hendra dengan hati-hati.
“Ada apa Anda datang kesini?” tanya Livia secara langsung.
Hendra tersenyum ringkih, “Ayah menanyakan kabarmu, kenapa kamu malah menanyakan yang lainnya?” lanjut Hendra masih dengan suara setenang mungkin.
Dada Livia semakin bergemuruh, Livia masih berusaha untuk menahan emosi yang meluap. “Apa pentingnya Anda menanyakan kabar saya? Selama 22 tahun ini, Anda sama sekali tidak pernah menanyakan bagaimana kabar saya, bukan?”
Hendra memandang lurus kearah kedua mata Livia, dia menemukan luka yang telah diperbuatnya. “Maafkan ayah, Livi. Ayah tidak bermaksud meninggalkanmu. Ayah hanya . . . “
“Cukup! Katakan saja apa yang Anda inginkan.”
Hendra terdiam cukup lama, dia sedang memilih cara untuk mengatakan maksudnya tanpa menambah luka untuk anak perempuannya.
__ADS_1
“Ayah dengar sebentar lagi kamu akan menikah. Ya . . . walaupun ayah tidak diperbolehkan untuk menghadiri pernikahanmu, ayah tetap mendoakan yang terbaik untukmu. Tapi . . . bukankah kamu menikah dengan penerus Mahardika Group? Jadi . . . “Hendra ragu sejenak, “Bisakah kamu memberikan posisi untuk adikmu, Tari. Berikan dia posisi diperusahaan ini. Tari juga sudah lulus kuliah, bisa kan, Livi?” tanya Hendra. Namun Hendra terkejut saat melihat Livia menitihkan air matanya.
“Livi? Ka-kamu menangis?”
Buru-buru Livia menghapus air matanya. Livia sebenarnya sadar jika ayahnya menemuinya pasti bukan karena lelaki itu merindukannya, namun entah kenapa hatinya tetap terasa sakit saat mendengarkan kebenarannya.
“Ternyata tujuan utama Anda kesini tetap mementingkan keluarga yang Anda sayangi itu. Setelah sekian lama Anda menyembunyikan diri, dan sekarang muncul hanya demi anak haram itu?”
“Livia!” Hendra membentak dengan keras. “Jaga kata-katamu itu. Tari adalah adikmu. Bagaimana bisa kamu mengatakan hal itu?”
“Apa saya salah?” Livia sudah tidak dapat membendung emosinya. Suaranya juga mulai meninggi karena luapan emosi. “Bukankah dia lahir dibalik perselingkuhan yang Anda lakukan. Apalagi namanya jika bukan anak haram, dan dia bukan adik . . .”
“Apa yang Anda lakukan?!” Bima menerobos masuk kedalam ruangan Livia, diikuti dengan Andra. Bima memeluk tubuh Livia yang membeku.
Hendra tercengang dan terkejut karena dia telah menampar anaknya. Anak yang telah disakitinya karena ditinggalkan saat dia berusia 5 tahun. Anak yang lagi-lagi mendapatkan luka darinya.
__ADS_1
“Livi . . . Livi, maafkan ayah, Nak. Ayah tidak bermaksud . . .”
“Tolong keluar. Saya mohon.” Perintah Livia dari balik perlindungan Bima.
Ayah Livia dituntun oleh Andra keluar dari ruangan gadis itu. Bima hanya terdiam sembari memeluk tubuh kecil itu yang mulai bergetar hebat karena tangisnya. Livia menangis dalam diam, namun Bima tahu jika sakit yang dirasakannya teramat dalam. Bukan tangis akibat tamparan, namun sakit hati yang bertambah besar.
Setelah mengetahui jika tangisan Livia mulai mereda, Bima menuntun Livia untuk duduk disofa dan memberikannya minum.
“Kamu sudah tidak apa-apa? Menangislah lagi jika kamu ingin.”
Livia menggeleng kecil dan tersenyum, “Maaf, kemeja dan jasmu jadi kotor karena air mataku.”
“Jangan khawatirkan itu.” Bima mengusap sisa-sisa air mata yang masih menempel dimata Livia.
Andra masuk membawakan kantong es untuk mengompres pipi Livia, Andra berjongkok didepan Livia dan mengacuhkan Bima. “Ayo cepat kompres pipimu biar tak bengkak.”
__ADS_1
Bima menahan tangan Andra yang ingin menyentuh wajah Livia, “Biar aku saja yang mengompresnya.” Bima merebut paksa kompres es itu. Kedua mata laki-laki itu beradu dengan sengit.
“Kalau begitu panggil aku jika kamu membutuhkan sesuatu.” Ucapan Andra dibalas anggukan dan senyum kecil dari Livia.