
Bima bersiap diri, setelah dirinya dan barang bawaanya sudah siap, Bima dijemput oleh sopir kantor. Bima berangkat terpisah dengan sekretarisnya. Tari sudah menunggu di bandara.
Setelah melepaskan kepergian suaminya, Livia berangkat kekantor. Tapi baru saja Livia ingin mengeluarkan mobilnya, ada sedan merah yang berhenti tepat didepan rumahnya.
Livia turun untuk melihat siapa yang menghalangi jalan keluarnya, tapi saat seseorang itu menurunkan kaca mobilnya, ia mengenali orang itu.
“Kak Rendra?”
“Masuklah. Aku akan mengantarmu.”
“Aku akan berangkat sendiri, Kak. Jadi bisakah Kak Rendra sedikit maju?”
“Tidak-tidak. Selama Bima tidak ada, maka aku yang akan menjaga adik kecilku. Sekarang masuklah. Sekalian aku akan pergi ke galeri, jalan kita satu arah.”
Livia terdiam beberapa saat, dia masih ingat jelas pesan Bima sebelum ia pergi, jadi Livia akan mencoba untuk menolaknya lagi, “Tapi, Kak . . .”
“Kamu tidak menganggapku keluarga, Livi.”
“Bukan, bukan begitu.”
__ADS_1
“Jadi masuklah.” Tekan Rendra. Akhirnya Livia mengikuti keinginan kakak iparnya itu dengan berat hati.
“Bagaimana kalau Bima tahu? Dia pasti akan marah padaku.” Pikir Livia dalam hati.
Setelah itu Rendra mengantarkan Livia sampai kekantor, bahkan Rendra meminta Livia menemaninya sarapan terlebih dahulu dikantor Livia. Dia beralasan jika sangat kelaparan.
“Jadi, Kak? Apa benar kita pernah bertemu?” tanya Livia ditengah-tengah makan pagi mereka berdua.
“Kita pernah bertemu, dua kali. Dan aku yakin itu kamu.”
“Kapan?”
“Beberapa tahun yang lalu apa kamu pernah ke Bali?”
“Saat itu kamu sedang membantu seorang anak kecil yang menangis karena terpisah dengan orang tuanya di pantai Kuta. Kamu ingat?”
“Aku ingat itu. Tapi aku tak ingat jika bertemu Kak Rendra disitu.”
“Aku ada didekatmu. Aku melihatmu menenangkan bocah kecil yang sedang menangis itu. Padahal orang lain tak ada yang perduli dengan anak kecil itu. Tapi kamu berusaha menemukan orang tuanya dengan berteriak menyebutkan nama anak kecil itu.” Rendra bercerita dengan semangat.
__ADS_1
“Itu memang kewajiban sesama manusia, Kak. Lalu yang kedua?”
“Yang kedua? Kita bertemu di salah satu club di Bali. Apa kamu tidak ingat telah menumpahkan alkohol dibaju seorang pria?”
Livia menutup mulutnya dengan terkejut, “Apa itu Kak Rendra?”
“Ya, itu aku. Kamu bersikeras untuk mengeringkan bajuku dan membuatku akhirnya tidak memakai atasan apapun saat itu.”
Livia masih terkejut tak percaya, “Lalu, kemana Kakak saat itu? Aku mencari-carimu setelah berhasil mengeringkan baju itu.”
“Yaaa, aku . . .” Rendra mengelus tengkuknya dengan salah tingkah, “Gara-gara aku tak pakai atasan sama sekali, ada segerombolan gadis yang menarikku dan membawaku keruang privat. Mereka kira aku laki-laki yang bisa dipakai dengan harga tertentu.”
“Apa! Apa Kakak diperkosa dengan mereka?” seru Livia dengan keras. Rendra ketakutan dengan suara Livia yang menggema ke penjuru kantin, Rendra panik karena mendapat perhatian berlebih dari penghuni kantin itu.
“Livia!!!” geram Rendra.
“Ups! Maaf, Kak. Aku hanya terkejut tadi.”
Saat memastikan jika dia sudah tidak diperhatikan lagi, Rendra melanjutkan penjelasannya. “Mana bisa aku diperkosa dengan mudah oleh para gadis, hm? Kamu kira aku laki-laki gampangan apa?”
__ADS_1
“Ya, siapa tahu kan?” tanggapan Livia membuatnya dan Rendra tertawa geli karena membayangkan hal yang tak masuk akal itu. Rendra bahagia saat menghabiskan waktunya dengan gadis yang selama ini selalu menemani mimpinya setiap malam.
Beberapa jam kemudian, Bima dan Tari sampai ke Singapura, kali ini Bima akan bertemu dengan pasangan bisnisnya dalam ekspor furniture di negara itu. Bima juga akan bertemu beberapa pasangan bisnisnya dalam bidang lain.