OH! MY LIVIA

OH! MY LIVIA
Episode 54


__ADS_3

Livia merasa bingung, “Apa maksudmu?”


“Bukankah dengan jelas aku mengatakannya padamu untuk menghindari kakakku? Tapi apa? Setiap hari kamu bertemu dengannya, bahkan . . . bahkan!” Bima marah saat mengingat foto-foto yang didapatnya, “Bahkan kalian berdua melakukan hubungan terlarang dikamar hotel? Kenapa, hah? Apa tidak berani melakukannya dirumah kita, Livia?”


“Dasar perempuan murahan!”


“Bima!” bentak Rendra.


Livia menutup matanya dan meneteskan air matanya dengan perih. “Jadi kamu tak percaya padaku sehingga meminta seseorang untuk memata-mataiku?” tanya Livia dengan miris.


“Aku sebenarnya menempatkan orang itu untuk menjagamu, tapi lihat apa yang kudapatkan.” Bima melempar handphonenya dan mengenai tubuh Livia, dalam tampilan layar ponsel itu menunjukkan Livia sedang masuk kedalam kamar hotel.

__ADS_1


Livia melihat foto itu dari dalam handphone yang tergeletak dibawah, lalu dia tersenyum sinis. “Dan kamu langsung percaya? Tanpa menanyakannya padaku? Bukankah aku sudah pernah memintamu untuk selalu bertanya padaku terlebih dahulu sebelum menyimpulkan sesuatu.”


“Untuk apa aku menanyakannya lagi padamu, hah? Kamu tidak bisa menjaga kepercayaanku!” Bima meraung. “Kamu tahu Livia? Kamu perempuan yang tidak pantas meminta sebuah kesetiaan untuk menjadi dasar pernikahan kita. Lagi pula, bukannya kamu memang perempuan seperti itu? Perempuan murahan yang mau berhubungan dengan laki-laki manapun.”


“Bima! Cukup!” Rendra meninju wajah Bima hingga ia tersungkur. Tari menepi karena dia ingin menyaksikan kehancuran pernikahan Livia. Sudah sangat lama dia menginginkan kehancuran saudara tirinya itu karena Livia, hidupnya menderita dengan semua kekurangan.


Bima mengusap ujung bibirnya yang mengeluarkan darah dan tersenyum mencemooh, “Jadi kamu membela kekasihmu, Kak? Ironis sekali. Kalian kesini marah padaku, tapi kalian berdua juga melakukan perbuatan bejad dibelakangku.”


“Cukup, Kak.” Livia menghentikan Rendra yang sudah ingin menghajar Bima lagi.


Livia menutup kedua matanya dan menghembuskan nafas beratnya untuk yang kesekian kali, “Terakhir. Aku akan bertanya untuk yang terakhir kalinya.” Livia memandang lurus kepada kedua mata hitam itu, “Apa kamu sudah melakukan hubungan terlarang dengan Tari, Bima?” jantung Livia berdegup kencang saat menanyakannya, dan jawaban Bima seolah-olah dapat menghentikan degup jantungnya untuk beberapa waktu.

__ADS_1


“Ya! Aku sudah berhubungan dengannya. Aku bahkan tidur setiap malam dengannya. Kamu tahu, Livia? Dikasur itu, setiap malam aku memacu tubuh Tari dengan penuh gairah.” Bima berbohong dengan melebih-lebihkan ceritanya. Dia ingin membalas dendam, Bima ingin Livia merasakan sakit hatinya.


“Dan sekarang, ada kemungkinan Tari sedang mengandung anakku. Kamu juga ingin tahu bagaimana aku menyentuhnya tiap malam, aku . . .!


“Cukup!!!” teriak Livia. “Jangan teruskan perkataan menjijikkan itu. Simpan cerita itu untuk kalian berdua.” Livia mencoba menenangkan dirinya, dia takut emosinya akan berpengaruh pada janinya.


“Aku bisa menarik kesimpulan jika kamu menyerah pada pernikahan kita.” Ucap Livia dengan deru nafas yang dengan susah payah ia tekan, antara marah dan sedih yang bercampur.


Tidak ada jawaban dari Bima, Livia meyakini jika pernikahannya telah selesai. “Terimakasih atas waktu yang sudah kita lalui selama beberapa bulan ini, dan terimakasih atas cinta palsu yang telah kamu berikan padaku. Dengan ini pernikahan kita berakhir, Bima Dwi Mahardika. Kita selesai!” Livia melangkah pergi meninggalkan kamar yang penuh dengan rasa sakit itu. Air matanya mengalir dalam diam. Ia merasakan sesak yang luar biasa di hatinya.


Bima terduduk, hatinya sakit saat mendengar Livia memutuskan pernikahan mereka, dalam hatinya langsung terbesit rasa penyesalan karena telah menyakiti istri yang selama ini sangat dicintainya.

__ADS_1


__ADS_2