
Saat perjalanan menuju rumah kakeknya, Livia menyempatkan diri untuk mampir ketoko oleh-oleh. Setelah menghubungi kakeknya, Livia tahu jika sahabat kakeknya akan berkunjung kerumah utama setelah sekian lama. Kakek Galih namanya. Kakek Galih adalah sahabat karib kakek Anwar dari zaman muda. Mereka berdua pernah mengenyam pendidikan bersama-sama dikota Yogyakarta selama 14 tahun. Jadi bisa dipastikan jika keduanya sangat menyukai makanan manis bernama bakpia. Jadi Livia memborong beberapa bungkus bakpia dengan rasa kacang hijau, karena kedua kakek tua itu sangat menggemari makanan berbentuk bulat pipih itu.
“Halo, Kakek!” seru Livia saat dia menemui kakeknya yang sedang memantau asisten rumah tangga membersihkan rumah. Kakek Galih merupakan orang yang sangat mencintai kebersihan, maka dari itu, kakek Anwar tidak ingin ada sedikitpun debu yang menempel di furniture rumahnya.
“Apa yang kamu bawa, Livi?”
“Tentu kesukaan Kakek dan kakek Galih, dong.” Livia mengangkat satu kantong besar yang berisikan bakpia untuk ditunjukkan pada kakeknya.
“Wahh . . . apa kakek boleh memakannya semua?”
Livia menggelengkan kepalanya dengan ekspresi lucu, “Tentu saja tidak, Kek. Kakek harus menjaga gula Kakek tetap aman. Jadi harus makan dalam porsi aman.”
“Kakek sudah tua. Jangan membuat kakek menderita dalam sisa usia kakek!” kakek Anwar merajuk.
Livia memeluk kakeknya dari belakang dengan sayang, “Karena Livia sangat menyayangi Kakek, hanya Kakek di dunia ini yang ada untuk Livi. Sekuat tenaga Livi akan membuat Kakek tetap sehat.”
“Nyawa adalah rahasia Tuhan, Nak. Maka dari itu, Kakek selalu memintamu untuk segera menikah. Agar Kakek bisa tenang jika sudah waktunya menghadap kepada pemilik hidup.”
“Livi sudah bilang, Kek. Livi masih belum mau menikah.”
“Kamu belum mau menikah atau memang tidak mau menikah!” bentak kakek Anwar seraya melepaskan pelukan Livia.
__ADS_1
“Iya . . . iya, nanti Livi menikah. Kakek jangan marah-marah, ya. Nanti jantung Kakek kambuh.” Bujuk Livia.
“Kenapa kamu sudah marah-marah saja, Anwar? Pemarahmu ternyata tidak berubah juga.” Ucap Kakek Galih dari luar.
“Halo Kakek Gal, lama tidak berjumpa.” Livia mengecup pipi kakek Galih.
“Namaku bukan Gal, Livi. Panggil yang benar!” protes kakeh Galih.
“Kepanjangan, Kek.” Jawab Livi dengan manja.
“Lihat! Kamu saja yang jarang ketemu sama anak kurang ajar satu ini aja, bisa emosi. Apalagi aku yang sering ketemu sama anak ini.” Kakek Anwar membela diri sendiri.
“Langsung masuk keruang keluarga kakek-kakek tersayangku. Livia akan siapkan minuman hangat dan bakpianya!” seru Livia dan langsung beranjak pergi menuju dapur.
“Tapi kamu bahagia kan?” ledek kakek Galih. Mereka berdua berjalan perlahan-lahan menuju ruang keluarga dilantai dua.
“Bagaimana aku bisa bahagia, Galih. Dia sudah seusia itu, dia juga yang akan menggantikan posisiku, tapi sampai sekarang, belum pernah sekalipun dia berpacaran. Padahal aku sangat ingin melihatnya menikah sebelum aku mati.”
“Ternyata sama dengan cucuku. Dia juga sangat keras kepala.”
“Rendra atau Bima?”
__ADS_1
“Tentu saja, Bima! Rendra sudah mundur dari dunia bisnis, jadi aku membebaskannya dalam memilih pasangan. Tapi Bima . . . buat kepalaku mau pecah!”
Kakek Anwar dan kakek Galih sampai dilantai atas, dan duduk dengan tenang di sofa yang sangat nyaman. Sedangkan Livia, sudah meletakkan dua gelas teh hangat dan bakpia dalam satu piring. Sembari mendengarkan obrolan kedua sahabat itu.
“Bukankah kamu juga membebaskan Bima?”
“Awalnya memang begitu. Tapi gara-gara rumor yang beredar, membuatku harus memaksanya untuk cepat mencari pasangan hidup. Aku tidak mau gara-gara rumor itu, Bima nanti tidak bisa mendapatkan istri. Anak sejantan itu kok bisa-bisa nya tersandung rumor tak jelas.” Kakek Galih meluapkan kekesalannya.
“Memang kenapa Bima? Kok bisa sampai terkena rumor tak mendasar seperti itu?”
“Ya, kayak anak ini, ni.” Kakek Galih menjitak kepala Livia.
“Awww, Kek. Apa salah Livi?”
“Gara-gara pemuda seperti kalian berdua ini lah, yang membuat kami para orang tua semakin pusing dibuatnya. Sibuk bekerja tanpa memikirkan kehidupan percintaan. Kerja keras boleh, Livi. Tapi mbok ya jangan lupa nikah. Kasian kakekmu ini.”
“Ih, apaan sih, Kakek Gal ini. Sama aja sama kakek Anwar.”
“Apa kamu menikah saja dengan cucu Kakek?” tawar kakek Galih.
“Nah, bagus it . . .” ucapan kakek Anwar terpotong karena Livia langsung berdiri dari duduknya.
__ADS_1
“Livia kedapur dulu ya, Kek. Lapar!” Livia beralasan. Dia ingin segera kabur dari situasi yang mengancamnya.