
Setelah kelahiran Livia, tak membuat ayah Livia tergerak hatinya dan mencintai ibu Livia. Ibunya selalu kesepian, menangis dan sedih terus saja dia rasakan, tidak ada seseorang pun yang bisa membantunya. Kakek dan nenek Livia selama ini tidak tahu jika menantunya merasakan depresi yang begitu parah. Karena setiap kali mereka bertemu, dengan mudah ibu Livia menutupi kesedihannya.
Tepat saat Livia berumur 5 tahun, dia menemukan ibunya terkapar diatas tempat tidur dengan luka sayatan ditangan yang menganga. Ibu Livia menghembuskan nafas terakhirnya dalam kesepiannya, Livia kecil begitu terpukul melihat ibunya tak bergerak. Ditambah ayahnya yang sama sekali tidak merasa sedih saat melihat kepergian ibunya. Puncak dari trauma itu adalah saat Livia menyaksikan ayahnya lebih memilih anak dari istri selingkuhannya. Padahal saat itu Livia memohon untuk ayahnya, agar tidak meninggalkannya. Namun sosok gadis kecil di ujung pintu yang memanggil ayahnya dan terjatuh, membuat ayahnya dengan cemas menghampiri gadis yang hanya berjarak dua tahun darinya. Livia kecil akhirnya tersadar jika dia memang tidak di inginkan oleh ayahnya.
Tanpa dia sadari, air mata yang selama ini terbendung, akhirnya meleleh saat dia mengingat-ingat masa kecilnya. Bima langsung memeluk istrinya dan mencoba menenangkannya.
“Maafkan aku. Seharusnya aku tidak memaksakan perasaanku. Aku . . . aku hanya . . .” Bima bingung dengan apa yang akan dia ucapkan.
Livia menghentikan tangisnya dan memandang Bima yang merasa bersalah. Livia dapat melihat jika Bima sangat menyesal.
“Maafkan aku, Livia. Aku hanya tak ingin kehilangan dirimu.”
Livia memandang kedua bola mata berwarna gelap itu, dengan lembut Livia mencium Bima.
__ADS_1
“Livi?”
“Bisakah aku mempercayai ucapanmu? Tolong aku, Bim. Tolong aku keluar dari ketakutanku.”
“Aku pastikan akan membahagiakanmu.” Kali ini Bima yang terlebih dahulu mencium Livia. Keduanya saling mencumbu mencurahkan segenap perasaan yang meluap. Livia memilih untuk mencoba membuka diri dengan bantuan dari Bima. Untuk yang pertama kali, Livia mencoba mempercayakan perasaannya kepada seorang laki-laki.
***
“Kek, bagaimana jika aku bergabung kembali kedalam perusahaan?” tanya Rendra saat dia dan kakeknya sedang makan malam dirumah utama.
“Tidak ada alasan khusus, Kek.”
“Apa karena Livia?” tebak kakek Galih secara tepat.
__ADS_1
“Maksud Kakek?” Rendra pura-pura tidak mengerti.
“Jangan kamu kira selama ini kakek diam saja berarti tidak tahu apa yang terjadi antara kamu dan adikmu Bima. Livia istri sah Bima. Jadi jangan coba-coba untuk merebutnya.”
“Tapi aku dulu yang bertemu dengan Livia, Kek.”
“Tapi Bima yang sudah mendapatkannya, Rend.”
“Kenapa Kakek sangat pilih kasih? Selama ini aku . . .”
“Selama ini kakek sudah berusaha untuk memintamu menjadi penerus utama keluarga Mahardika!” kakek Galih menggebrak meja makan dengan keras. “Tapi kamu sendiri yang memilih untuk melepaskannya. Apa kamu lupa?”
“Aku tahu jika salah, Kek. Tapi aku tidak bisa menghilangkan perasaanku kepada Livia semudah itu. Cukup lama aku mencarinya, Kek.”
__ADS_1
“Cepat kembali ke Bali. Kemasi barangmu malam ini, dan pergilah besok.” Kakek Galih meninggalkan meja makan dan masuk kedalam kamarnya tanpa menghabiskan makan malamnya.
Selama ini kakek Galih memang selalu mengutamakan Rendra, namun sejak cucu pertamanya itu memilih untuk meninggalkan hak nya sebagai ahli waris utama, kakek Galih beralih mendidik Bima dengan keras. Dia tidak bisa membuat perusahaan yang selama ini diperjuangkannya mati dengan sia-sia karena tidak ada penerus. Dengan jirih payah dan keringat darah, kakek Galih mendirikan perusahaannya selama ini, hidupnya terasa terjatuh kejurang saat mengetahui anak laki-laki satu-satunya meninggal dalam kecelakaan bersama istri dan menantunya. Penuh perjuangan membesarkan dua bocah laki-laki yang sangat sulit dikendalikan.