
“Kamu masih bisa tersenyum?” tanya Bima sambil menempelkan kompres es ke pipi Livia.
“Lalu apa yang harus aku lakukan?”
“Jangan tersenyum didepan laki-laki lain!” perintah Bima.
“Jangan aneh-aneh, Bima. Bagaimana bisa kamu ada disini?” tanya Livia.
“Aku datang setelah tamumu tadi masuk. Andra mengatakan jika dia tamu yang penting, jadi aku menunggu diluar. Namun aku terkejut saat mendengar teriakanmu dan suara tamparan itu.
“Sungguh lucu bukan?”
“Apanya yang lucu? Tidak ada yang lucu dari kejadian hari ini.”
“Kamu tidak ingin bertanya?”
__ADS_1
“Tidak. Aku tidak akan bertanya. Sebab, jika kamu siap, kamu akan menceritakannya sendiri padaku. Karena kamu memang gadis seperti itu.” Jawab Bima. Bima yakin jika Livia mau, gadis itu sendiri yang akan mengatakan padanya. Persis saat Livia mengatakan hubungannya dengan sekretarisnya.
“Terimakasih.”
“Tak perlu berterimakasih.” Bima membawa Livia kepelukannya lagi. Ada perasaan yang selama ini tidak pernah laki-laki itu rasakan kepada perempuan lainnya, yaitu perasaan ingin melindungi. Bima ingin melindungi Livia.
Setelah kejadian itu, waktupun berlalu. Dan Bima tidak pernah sekalipun menanyakan tentang kejadian tempo lalu, namun Bima lebih sering mendatangi Livia dikantornya. Sampailah saat hari pernikahan keduanya. Livia tampak cantik dan anggun dengan gaun putih yang menjuntai kebawah. Banyak senyum bahagia yang menghiasi ruangan itu. Terutama kakek Anwar dan kakek Galih yang sukses menjodohkan kedua cucu mereka.
Setelah pemberkatan yang berlangsung dengan penuh haru, dilanjutkan dengan pesta. Pesta itu berlangsung cukup lama karena selain pesta pernikahan Livia dan Bima, itu juga merupakan pesta peresmian Livia sebagai direktur utama Admaja Group. Banyak tamu undangan dari beberapa kolega, pejabat-pejabat penting, beberapa menteri terlihat juga menghadiri pesta pernikahan keduanya. Tak lupa presiden juga memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai.
“Hah . . . capeknya.” Livia melempar tubuhnya kearah kasur yang empuk. “Rasanya lebih melelahkan dari pada kerja kerasku selama ini.”
Bima terkekeh melihat Livia yang terus mengomel, “Aku akan mandi dulu kalau begitu.”
“Ya, aku ingin meluruskan tulang punggungku yang kurasa sudah bengkok karena pesta hari ini.”
__ADS_1
Bima tersenyum kecil melihat Livia yang sudah tidak berdaya. Setelah Bima selesai mandi, laki-laki itu membangunkan Livia dan memintanya untuk mandi. Bima keluar masih menggunakan handuk kimono saja, karena laki-laki itu terbiasa tidur hanya dengan menggunakan celana pendek saja.
Livia dapat dengan jelas melihat dada bidang yang tak tertutupi oleh handuk putih itu, gadis itu sempat berfikir jika sayang sekali apabila ia tidak akan bisa tahu bagaimana rasanya menyentuh otot dada itu, namun Livia akhirnya memilih untuk menerima semua resikonya karena teringat rumor tentang Bima.
Gadis cantik itu membuka lemari dan tidak menemukan baju tidur untuknya, “Apa mereka lupa tidak membawakan baju tidur untukku?” gumam Livia.
“Kenapa Livi?” Bima bertanya karena Livia sudah cukup lama membolak-balikkan baju didalam lemari yang pagi tadi baru diisi dengan baju Bima dan Livia.
“Kelihatannya mereka lupa membawakan baju tidur untukku. Hanya ada gaun dilemari ini.”
“Disitu ada beberapa kemejaku. Pakailah, bahannya cukup nyaman untuk dipakai tidur.”
“Apa boleh?”
“Tentu saja.”
__ADS_1