
“Apa kamu Bima?” tanya seseorang dari ruang belakang secara tiba-tiba.
Bima bingung, namun dia membalas uluran tangan perempuan bermata biru itu, “Hai, aku Clara.”
“Clara?” Bima masih bingung.
“Dia istriku, Bim.”
“Apa!” belum sempat Bima menanyakan tentang kebingungannya, tiba-tiba ia mendengar suara yang sangat dirindukannya selama ini.
“Kak Rendra, aku datang untuk menjemput Arya!” teriak seseorang dari luar rumah. Bima dengan mudah mengenali suara itu, Bima berdiri dari duduknya dan menunggu seseorang itu masuk. Detak jantungnya berdegup dengan keras. Bima masih bingung dengan status Clara yang diperkenalkan sebagai istri kakaknya, namun dapat dipastikan jika dia belum kehilangan Livia sepenuhnya.
“Kak Rendra! Kak Clara! Dimana Ar . . .! Livia terkejut melihat sosok yang berdiri menatapnya. Wajah yang tak asing di ingatannya, wajah yang sering muncul di mimpinya, wajah yang saat ini membuat air matanya menetes tanpa ia sadari. Cepat-cepat Livia menghapus air matanya dan berlari keluar rumah. Bima mengejarnya dan memintanya untuk berhenti.
“Livia, tunggu!” panggilan Bima menghentikan langkahnya.
__ADS_1
“Aku sudah melarangmu untuk menemuiku, Bim. Jadi pergilah dariku.” Livia melanjutkan melarikan diri, namun Bima berhasil menangkapnya, dan memeluk tubuhnya dari belakang.
“Aku mohon, Livia. Jangan pergi dariku. Maafkan, aku. Aku mohon. Aku sangat merindukanmu. Aku sangat merindukanmu, Livia.” Mohon Bima dengan sendu.
“Lepaskan aku, Bim.” Pinta Livia.
“Aku tak akan melepaskanmu lagi, Livia. Maafkan aku yang bodoh ini. Aku mohon dengarkan penjelasanku. Beri aku waktu. Aku ingin meluruskan semua kesalah pahaman ini.”
“Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi, Bim. Semuanya sudah jelas bagiku. Waktu itu, kamu sendiri yang mendorongku untuk meninggalkanmu.”
“Apa yang kamu lakukan, Bim? Cepat berdiri!”
“Aku tidak akan berdiri jika kamu tidak memberikanku kesempatan untuk menjelaskannya, Livia. Aku mohon, berikan aku kesempatan.”
“Tidak akan ada yang berubah, Bima. Semuanya sudah berada pada tempat yang semestinya.”
__ADS_1
“Tidak, Livi. Ini semua salah. Aku ingin menjelaskannya padamu. Jadi, aku mohon, berikan aku kesempatan.” Bima menundukkan pandangannya dan berharap penuh. “Aku bersalah. Aku sangat bersalah padamu. Aku langsung mencarimu saat mendapatkan semua bukti, tapi aku sudah kehilangan dirimu. Mau bagaimanapun caranya, aku tidak bisa menemukanmu. Jadi aku mohon, Livia. Beri aku kesempatan untuk menjelaskannya padamu.”
Perasaan Livia tergerak, karena tidak bisa dipungkiri, jika selama ini masih ada rasa yang tertinggal untuk Bima. Livia menolak semua informasi mengenai Bima, maka dari itu, Livia masih belum mengetahui jika Bima selama ini mencarinya dan juga tentang kebenaran yang selama ini ingin di ungkapkan oleh laki-laki yang sampai saat ini masih berstatus sebagai suaminya.
“Bangunlah. Mari kita bicara.”
“Kamu mau memberiku kesempatan?” kedua mata Bima berbinar-binar.
Livia mengangguk kecil, dan ada secuil senyuman yang terlihat. Bima berdiri dan tersenyum dengan penuh harap. “Terimakasih, Livi.”
“Aku hanya memberimu kesempatan untuk berbicara. Tidak ada hal lain yang bisa kujanjikan.”
Bima mengangguk dengan semangat, tidak masalah baginya jika saat ini Livia belum mau menerimanya kembali, yang penting dia bisa menjelaskan kesalah pahaman diantara mereka. Karena setelah kesalah pahaman mereka terselesaikan, Bima sudah berencana untuk kembali merebut hati Livia, terlebih statusnya yang masih menjadi sepasang suami istri, itu bisa menjadi poin lebih untuk mendekat kepada Livia. Setelah semuanya jelas, Bima ingin tahu siapa ayah kandung Arya.
Livia menuntun Bima menuju rumahnya yang hanya berjalan beberapa meter dari rumah Rendra. Rumah itu tidak terlalu besar, namun didalamnya terasa hangat dengan didominasi warna putih, dan disudut ruangan terdapat satu kranjang besar yang berisikan mainan anak laki-laki. Disisi lain juga ada foto Livia dan Kakek Anwar yang menggendong Arya saat masih bayi, tampak jelas jika mereka bertiga terlihat begitu bahagia.
__ADS_1
“Itu pasti mainan Arya.” Gumam Bima.