Oh My Friend

Oh My Friend
67


__ADS_3

Dalam perjalanan ke bandara ternyata terjadi kemacetan yang cukup panjang, sedari tadi mereka tidak beranjak dari tempat itu.


"Weekend gini macetnya malah tambah parah" Ungkap Jojo yang terlihat sudah jenuh dengan keadaan ini "Sabar Bang, sebentar lagi pasti macetnya mengular" kata Ayah berusaha menenangkan Jojo.


Sedangkan 2 penumpang di belakang terlihat sibuk dengan dunia mereka sendiri, yang satu sibuk dengan gadgetnya dan yang satunya tenggelam dalam mimpinya dengan telinga di sumbat dengan earphone.


Tidak menunggu lama macet pun terular "Akhirnya" kata Jojo yang sudah berhasil melajukan mobilnya kembali.


Saat mereka menuju ke bandara di tempat lain.


Triing . . . !!! Triing . . . !!! Triing . . . !!!


Suara telepon menggema di rumah yang terlihat sepi itu.


"Halo" kata Bi Darmi yang sudah menjawab telepon nya.


"Halo. Apakah benar ini kediaman Ibu Indah Wijayanti?" tanya si penelpon.


"Benar, ini kediaman Ibu Indah Wijayanti. Ada yang bisa saya bantu? Dan maaf saya bicara dengan siapa?"


"Saya dengan Desi asisten dosen Ibu Indah, saya mau memberitahukan kepada keluarga Bu Indah bahwa beliau sedang di bawa ke rumah sakit"


"Rumah sakit? Bukankah Ibu sedang dinas di luar kota?" Tanya Bi Darmi yang terlihat sudah mulai panik.


"Benar Bu Indah sedang dinas di luar kota, beliau juga baru saja pulang. Namun saat pesawat mendarat di bandara beliau tiba-tiba sesak nafas dan pingsan. Sekarang Beliau sedang di bawa ke rumah sakit XX dekat bandara, apakah pihak keluarganya bisa segara ke rumah sakit?" ungkapnya panjang.


"Baik, akan saya sampaikan. Terimakasih atas informasinya"


Begitulah telpon berakhir.


Buru-buru Bi Darmi menelpon tuannya, Ia nampak panik. "Telpon tuan! Telpon tuan!" katanya sambil menekan beberapa nomer.

__ADS_1


Saat Bi Darmi telpon menelpon tuan Nugroho yang adalah tuannya baru sampai di bandara dan sedang memarkirkan mobil.


"Angel bangun sudah sampai!" teriak Jojo " Anak nakal ini, kenapa harus teriak seperti itu? Bisakan membangunkan nya dengan lembut" protes Ayah. " Angga tolong itu Angel di bangunin, tapi kamu harus sedikit bersabar" kata Ayah. "Baik Om. Angel bangun kita sudah sampai" kata Angga sambil menggoyangkan tangan Angel pelan tidak lupa ia juga mengambil earphone yang ada di telinganya.


Angel melenguh dan sedikit merenggangkan ototnya. "Sudah sampai?" tanya Angel sambil mengusap wajahnya. "Ia sudah sampai! Enaknya yang bisa tidur" ketus Jojo "Apaan sih! Iri bilang bos!" ucap Angel tak kalah ketus. "Udah udah, kasian Angga jadi liat kalian berantem terus. Ayo turun, pasti sebentar lagi pesawat bunda mendarat" ucap Ayah. Angga yang melihat itu hanya tersenyum.


Namun saat mereka hendak turun tiba-tiba ponsel ayah berdering "Eh sebentar dari rumah, kalian turun dulu Ayah mau menjawabnya sebentar" kata Ayah yang di setujui mereka.


"Iya halo" Ayah


"Halo Tuan, gawat Tuan gawat!" panik Bi Darmi.


"Ada apa Bi? Pelan-pelan, pelan-pelan"


"Gawat Tuan! Nyonya masuk rumah sakit"


"Apa?! Jangan becanda Bi, bagaimana Bunda bisa masuk rumah sakit?"


"Aduh Tuan gimana ini? Tadi ada orang telpon, katanya Bunda di bawa ke rumah sakit karena mengalami sesak nafas dan pingsan saat pesawat baru saja mendarat di bandara" terang Bi Darmi sambil menangis.


"Iya tuan, saya tidak salah dengar. Bagaimana ini?" panik Bi Darmi dengan masih menangis.


"Kamu tenang dulu Bi, Nyonya di bawa ke rumah sakit mana? Biar saya cek sekalian siapa tau itu cuma telpon iseng" tanya Ayah sambil berusaha agar tidak panik.


"Rumah sakit XX dekat bandara"


"Oke, kalau gitu saya segera kesana untuk mengeceknya"


"Iya Tuan"


Setelah itu telpon di tutup, tidak lupa Ayah menghubungi bunda namun hasilnya nihil nomernya masih tidak aktif.

__ADS_1


"Anak-anak ayo naik lagi" perintah ayah saat mereka sudah turun dari mobil dengan menunggu ayah selesai menjawab telpon.


"Loh kok naik lagi yah?" tanya Angel bingung "Udah nurut aja, Jojo kita pergi ke rumah sakit XX" Kata Ayah. "Kenapa ke rumah sakit? Memang siapa yang sakit?" tanya Jojo.


Ayah sedikit melirik kebelakang, namun Ia tidak menjawab apa yang di tanyakan Jojo "Udah nurut aja, jangan banyak tanya" kata Ayah.


Namun Jojo belum puas mendengar apa yang di ucapkan ayahnya itu. "Ayah apa jangan-jangan Bu" belum sempat Jojo menyelesaikan pertanyaannya sudah di potong ayah. "Jangan keras-keras" ucap ayah. Namun syukurlah Angel sepertinya tidak curiga, hanya saja Angga sedikit dapat memahami situasi yang ada.


Tidak menunggu lama mereka sampai di rumah sakit.


"Kita langsung ke UGD, cari bunda" perintah Ayah. Angel sedikit terkejut, "Bunda kenapa?" tanya Angel namun di jawab Angga "Udah kita cari Bunda dulu" "Kalau gitu Angel sama Angga, biar Ayah sama Bang Jojo" putus Ayah. "Baik yah" jawab mereka kompak.


Sedangkan di UGD terlihat sangat ramai, di salah satu bangsal ada seorang dokter dan beberapa perawat yang sedang menolong pasien. Keadaan terlihat sangat kacau, sudah berbagai alat tertempel di badan Bunda. Namun tiba-tiba tiiiiiit suatu alat medis berbunyi cukup nyaring, membuat dokter dan perawat langsung memberikan CPR.


Dokter sudah berusaha terlihat Ia mulai kelelahan "Suster siapkan AED* segara" "Baik dok" mereka langsung memasang alatnya dan menggunakannya, sekali dua kali tiga kali.


Namun Tuhan berkehendak lain pasien itu pergi meninggalkan orang-orang yang di sayanginya.


"Tanggal 16 bulan september tahun 202X pukul 12:25 saudari Indah Wijayanti telah berpulang" kata Dokter, iya ternyata pasien yang meninggal itu adalah Bunda.


"Suster tolong urus pasien, saya akan memberitahukan keluarganya" perintah Dokter "Baik Dok".


Dokter bergegas menuju ke tempat wali pasien "Anda wali dari pasien Indah Wijayanti?" "Iya dok, bagaimana keadaan Ibu Indah?" "Maafkan Kami, ternyata Tuhan lebih menyayangi Beliau. Beliau telah berpulang, penyebab kematiannya adalah gagal jantung" terang Dokter.


Ketika dokter memberikan kabar tersebut, ternyata Angel tepat berada di samping mereka. Deg!! Jantung Angel serasa berhenti berkerja, otonya terasa lemas dan pandangannya tiba-tiba kosong. Angga yang sudah berjalan lebih dulu menengok ke belakang, namun Ia langsung menyadari perubahan ekspresi dan sikap Angel. "Ada apa?" tanya Angga bukanya menjawab Angel langsung menghampiri dokter tersebut dengan tatapan kosongnya.


"Dokter, saya salah dengarkan?" tanya Angel, namun dokter terlihat bingung. "Maaf ada yang bisa saya bantu?" begitulah akhirnya kata-kata yang keluar dari mulut dokter tersebut. "Dokter salahkan? Bunda belum meninggalkan? Saya salah dengarkan?" Desak Angel yang masih di tanggapi kebingungan oleh dokter tersebut. "Angel ada apa?" tanya Angga yang sudah berada di samping Angel samping memegang kedua bahu Angel.


Angel langsung menatap Angga, "Angga kata Dokter, Bunda sudah meninggal, Ia sudah pergi" kata Angel. "Kamu tenang dulu ya?" ucap Angga Melihat adegan itu Desi ternyata mengenal Angel, "Ah benar, kamu Angel kan? Anak Bu Indah, saya Desi asdos Ibu. Kamu masih ingat saya?" tanya Desi namun Angel malah tidak menjawab.


Akhirnya Angga yang menjawab "Iya benar Dia Angel anak Bu Indah, apakah benar tadi apa yang dikatakan Angel? Bunda meninggal?" sekarang giliran Angga yang bertanya pada Desi. Desi menundukan kepalanya dan tiba-tiba Ia menangis "Benar, Bu Indah telah pergi".

__ADS_1


Mendengar itu Angel langsung terjatuh dan pingsan.


*Automated External Defibrillator (alat kejut jantung)


__ADS_2