
Angel pov
Kenapa tiba-tiba semuanya gelap? Gue masih bisa mendengar suara Angga, tapi tubuh dan mulut ini nggak bisa di gerakkan. Apakah ini akhir dari hidup Gue?
Suara Angga yang tadi masih Gue dengar perlahan hilang bersama dengan raga ini yang perlahan terus tenggelam dalam kegelapan. Entahlah berapa lama Gue berada di kegelapan ini, tapi terasa sangat nyaman atau tepatnya Gue nggak ngerasain apa-apa.
Perlahan suara di sekeliling mulai terdengar lagi, Gue berusaha membuka mata dan hanya bisa melihat langit-langit yang berwarna putih.
"Angel kamu sudah bangun? Apakah ada yang sakit atau pusing?" tanya Angga, saat melihat Gue berusaha untuk mendudukan tubuh ini. "Memangnya Gue kenapa?" tanya Gue balik "Tadi kamu pingsan, apakah ada yang sakit?" tanyanya lagi khawatir, Gue hanya menggelengkan kepala. "Syukurlah, kata dokter kalau kamu sudah siuman udah boleh pulang" ucap Angga.
Mendengar Angga mengucapkan kata dokter, barulah Gue ingat apa yang tadi terjadi. "Bunda" kata Gue lirih sambil menatap Angga. Angga hanya dapat tersenyum tipis, "Kamu yang sabar ya? Jenazah Bunda akan segera di bawa pulang, Ayah dan Bang Jojo sedang mengurusnya" jelas Angga sambil memegangi kedua tangan Gue. Gue hanya ngangguk saja mendengar penuturan Angga.
Gue nggak tau apa yang sedang Gue rasain sekarang, rasanya seperti mati rasa. Pengen nangis tapi kenapa nggak bisa, mau marah juga nggak bisa. Perasaan ini sungguh terasa asing bagi Gue. KALUT begitulah kira-kira yang sedang Gue rasakan
"Itu ayah dan bang jojo" kata angga yang melihat mereka sedang menuju ke arah kami. "Angel syukurlah kamu sudah siuman" ucap ayah sambil memelukku dengan erat. Gue pandangi wajah mereka berdua, ayah terlihat lebih tegar dari apa yang Gue bayangin sedangkan bang jojo wajahnya sangat sembab sepertinya ia habis menangis. Iya benar bang jojo menangis, begitulah harfiahnya manusia jika di tinggal orang terkasihnya. Tapi kenapa Gue nggak bisa nangis, mati rasa begitulah yang dapat gue simpulkan.
__ADS_1
"Jojo, sebaiknya kamu bawa adik-adik mu pulang. Tadi ayah sudah kasih kabar sama bi darmi dan keluarga Raihan supaya mereka siap-siap di rumah untuk menyambut bunda" kata Ayah. "Baik yah, lalu ayah bagaimana?" tanya jojo yang berusaha untuk tetap tegar. "Ayah akan ikut mobil ambulance, ayah mau nemenin bunda" jawab ayah.
Gue hanya mampu diam di situasi ini, "Ayo dek kita pulang, kita tunggu bunda di rumah" ajak bang jojo sambil merangkul pundakku.
"Kalian hati-hati di jalan ya? Ayah sama bunda disini tidak lama kok, urusan disini sudah selesai tinggal menunggu mobil ambulance" kata ayah "Baik yah" jawab bang jojo dan angga.
Kami bertiga berjalan menuju parkiran, "Bang, biar angga yang bawa mobilnya ya? bang jojo nemenin angel saja di belakang" pinta angga "Biar gue aja yang bawa" ucap bang jojo "Bang, di situasi seperti ini lebih aman kalau angga yang nyetir. Abang sebaiknya nemenin Angel saja, angga khawatir sama angel dari tadi dia diam saja mungkin kalau sama abang dia mau bicara" panjang angga yang di setujui bang jojo.
"Angel ayo masuk" ajak bang jojo yang sudah membuka pintu mobil, gue nurut aja. Kalau di lihat pasti sekarang gue seperti boneka, yang hanya akan nurut saja dengan apa yang di perintahkan orang lain.
Dalam perjalanan pulang, kami tenggelam dalam pikiran masing-masing. Gue lihat angga yang begitu khawatir sama keadaan gue, terlihat dari tadi Ia terus-menerus melihatku dari kaca depan.
Dari jauh terlihat sudah banyak orang di rumah, gue juga melihat raihan, umi dan abi disana. Mereka terlihat sangat sibuk hingga tidak menyadari kedatangan kami.
"Ya Alloh non, nona yang sabar ya?" kata bi darmi sambil sesenggukan. "Iya bi" jawab gue sambil tersenyum. Bi darmi lah orang yang pertama menyadari kedatangan kami, umi abi dan raihan yang juga melihat langsung menghampiri gue.
__ADS_1
"Angel kamu yang sabar ya? Alloh sayang sama bunda" kata umi sambil memelukku. Sedangkan abi langsung menguatkan bang jojo, yang sedang berusaha untuk tetap tegar. Raihan juga menatapku khawatir, tapi dia tidak mengatakan apa-apa.
"Umi, ajak angel ke kamarnya dulu biar dia siap-siap dan ganti baju. Ini abi sudah di kabarin sama nugroho katanya sebentar lagi mereka sampai" kata abi yang di angguki umi. "Kamu juga harus siap-siap jo, walaupun ini berat tapi kita harus menyambut ibumu" pinta abi. Sedangkan angga sudah di bawa raihan entah kemana, mungkin ia di suruh untuk ikut membantu raihan.
Gue dan umi langsung menuju ke kamar, "angel? kamu mau istirahat dulu?" tanya umi "nggak umi, angel pengen langsung ganti baju saja" jawab ku "baiklah, umi akan menunggu disini" katanya yang ku jawab dengan anggukan kecil.
Kenapa rasanya tubuh ini sangat berat, untuk berjalan ke kamar mandi saja rasanya sangat susah tapi gue coba untuk memaksanya. Umi sedang memperhatikan takut dia jadi khawatir kalau tau keadaan ku sekarang.
"Kamu tidak papa nak?" tanya umi saat melihatku sudah selesai mengganti baju. "iya, angel nggak papa umi" jawabku "tapi kamu terlihat pucat, apakah ada yang sakit?" "tidak umi, mungkin karena tadi angel sempat pingsan tapi sekarang angel benar-benar nggak papa" ucapku meyakinkan umi "baiklah kalau begitu kita turun ya?" ajak umi yang ku jawab anggukan.
Saat kami menunggu kedatangan jenazah bunda ku lihat sekeliling ternyata sudah banyak karangan bunga yang terjejer. Gue juga lihat mas dimas dan karyawan bengkel, mereka semua disini. Mereka memberikan kekuatan padaku dengan cara mereka menatapku seolah-olah berkata lo kuat ngel jadi semangat ya, begitulah kiranya gue mengartikan kedatangan dan tatapan mereka.
Tidak lama sirene ambulance terdengar, DEG!!! rasanya hati ku sakit sekali mendengarnya, begitu nyata terdengar dan memekakan telinga. Gue baru merasa semua ini nyata saat melihat jenazah bunda di turunkan dari mobil, gue kira semua ini hanya mimpi tapi lihatlah itu bunda yang sudah di kafani. Harusnya di saat seperti ini gue menangis tapi kenapa terasa kosong dan hampa, sesak ia sangat sesak dada ini.
Umi dengan sigap memelukku, karena sepertinya tubuh ini limbung. Syukurlah tidak pingsan lagi, "kamu nggak papa? mau istirahat dulu?" tanya umi "nggak mi, angel pengen disini saja nemenin bunda" lirihku. "baiklah, tapi kalau kamu merasa tidak kuat bilang umi ya? kalau tidak beritahu yang lainnya" ku jawab dengan anggukan.
__ADS_1
Akhirnya kami menyolatkan jenazah bunda yang di pimpin ayah, tidak menunggu lama jenazah umi langsung di bawa ke peristirahatan terakhir. Saat tiba di pemakaman dada ini semakin sesak rasanya, gue butuh oksigen yang lebih tapi kenapa saat bernafas malah tambah sesak. Kepala juga rasanya sangat pusing, sedangkan tubuh ini juga semakin berat. Mata ini pun tidak ada tanda-tandanya untuk mengeluarkan cairan bening, apakah sudah kering atau karena kepergian bunda yang begitu menyakitkan bagi gue sehingga menangis pun tidak bisa.
Tubuh bunda yang sudah kaku dan dingin itu di masukkan ke liang lahat. "Bunda, angel janji, angel bakal jadi anak yang baik, anak yang bisa membanggakan bunda. Angel sayang bunda, jadi bunda nggak perlu tkhawatir tentang angel ayah ataupun bang jojo karena angel akan menjaga mereka. Istirahat yang tenang bun, tunggu angel di surganya Alloh ya" batin gue saat melihat makam bunda mulai di isi dengan tanah tapi tiba-tiba kegelapan itu menyapa ku kembali.