Oh My Love

Oh My Love
Riliana Caleste's POV


__ADS_3

Hidup sebatang kara, tanpa keluarga seperti anak-anak lainnya. Terdiam dalam kehampaan dan atmosfer yang menyedihkan. Memikirkan kebahagiaan keluarga lain, tidaklah seharusnya membuatku iri. Mandiri dan menjadi dewasa lebih dahulu bukanlah hal yang salah. Benar, itu bukanlah suatu kesalahan karena takdir tidak bisa dipilih secara tersendiri. Inilah realita yang pahit. Apabila dikatakan adanya sebuah kelelahan batin, maka kepalaku akan mengangguk untuk puluhan kali.


Mataku menatap kosong ke arah tiga figura hitam berisikan foto seorang wanita paruh baya, pria dengan rambut yang mulai memutih dan nenek tua yang tersenyum lebar. Bunga-bunga krisan menghiasi sekeliling dan surat-surat berisikan curahan hati tersusun rapi di bagian sudut. Kedua tangan telah kusatukan, lalu antunan doa mulai terpanjatkan. Semua harapan terbaik akan aku hembuskan, terutama pada nenek yang merawatku dari kecil atau lebih tepatnya setelah ayah dan ibu pergi tanpa pamit. Tidak ada lagi air mata yang bisa tertetes, bahkan raungan atau racauan sudah usai aku lontarkan ketika acara duka pemakaman mereka bertiga diadakan dahulu. Di alam sana, tidak akan ada yang mau melihatku bersedu-sedu dalam menjalani hidup. Maka karena itu, sikap tegar haruslah terbangun dengan cepat.


Sebuah gulungan kertas usang masih tergeletak di depan figura duka. Meskipun sudah berulang kali kubuka, namun aku tetap ingin melakukannya sekali lagi. Iya, hanya sekali dan untuk terakhir kali saja. Tanganku mulai sedikit bergetar di kala menarik untaian benang yang mengikatnya, lalu membaca isi kertas tersebut dalam hati yang begitu tenang.


"Lia, cucuku. Maafkan nenekmu yang sudah lanjut usia ini. Maaf apabila kurang memberimu kasih sayang sebanyak ayah dan ibumu. Akan tetapi, percayalah bahwa rasa cintaku tidak terbendung. Senyum ceriamu ketika melupakan kesedihan, rasa pengertian yang kamu tanamkan di hati dan jiwa mandiri, semua itu membuat nenek bangga sekali. Semua insan pasti akan mengalami kematian, termasuk nenekmu yang telah menginjak lansia ini. Oleh karena itu, nenek berharap suatu hari nanti bisa melihatmu menikah bersama Sasha Andriansyah. Dia anak yang sangat baik, dan sudah pasti cocok apabila bersanding bersamamu suatu hari nanti. Nenek terus berdoa pada Tuhan agar bisa melihatmu mengenakan pakaian pengantin cantik dan mengucapkan janji suci bersama Sasha. Maafkan Nenek jika rela meninggalkanmu sendirian."


Setitik air mata menetes membasahi tinta kertas ini. Buru-buru aku menggulung dan meletakkan kembali di tempatnya. Kepalaku mendongak untuk mencegah derasnya air mata dalam membasahi pelupuk mata ini.


"Sudah selesai?"


Terdengar suara yang berat dan dingin tengah melemparkan pertanyaan ke arahku. Dari ekor mata ini, terlihat seorang laki-laki yang sedang melipat kedua tangan di depan dada sembari menyandarkan sebelah bahunya di mulut pintu. Kepalaku menoleh kepadanya, menatap wajah datar tanpa ekspresi yang beruntung telah diberkati sebuah ketampanan di atas rata-rata, sehingga sama sekali membuat siapa pun nyaman memandanginya.


"Sasha, kumohon untuk jangan mengganggu ketika sedang berdoa," tegurku, lalu kembali menghadap pada ketiga figura duka.


Dia terdiam sejenak sebelum membalas, "Hari ini sudah malam dan esok kita akan sekolah. Jangan mengurangi masa istirahatku."

__ADS_1


Ucapannya terdengar begitu egois. Aku hanya bisa menghela napas berat, kemudian bangkit dan pergi keluar dengan diikuti oleh laki-laki tersebut.


"Aku ingin mengatakan sesuatu mengenai pernikahan kita," kataku.


Bukan halu atau sekadar pilu. Sungguh, apa yang diharapkan dari wasiat nenek telah kulaksanakan dengan lapang dada meskipun tidak memenuhinya secara sempurna. Walaupun berat hati, hanya ini caraku untuk membalas budi kebaikan-kebaikan beliau yang rela menghabiskan masa tuanya untuk membanting tulang agar dapat memenuhi ekonomi sang cucu.


Sasha, laki-laki yang terpaksa menjadi suamiku atas perintah orang tuanya. Mungkin, dia memiliki amarah terpendam karena akulah yang membuatnya seperti ini dengan cara menunjukkan surat wasiat nenek kepada keluarganya. Ayah dan ibunya memiliki hutang budi besar pada nenekku di masa lampau.


Aku tidak tahu apa hubungan erat dan timbal balik mereka, tetapi yang pasti ikatan kekeluargaan kami cukup terbilang erat jika pernikahan ini tersetujui. Maka sebab itu, Sasha terdorong paksa untuk menikahiku. Tidak memberontak ataupun membantah, dia menerima perintah orang tuanya dan berakhirlah kami menjadi sepasang suami istri pada umur lima belas tahun di masa SMA. Ironisnya, hubungan sakral ini telah berlangsung selama setengah tahun.


Seharusnya, pernikahan dijalankan ketika kami menyelesaikan pendidikan atau mencapai cita-cita terlebih dahulu. Akan tetapi, umur manusia tidak ada yang pernah tahu. Kematian bisa kapan saja menghampiri. Maka karena itu, kesempatan terambil dengan cepat dan akhirnya kami mampu memperlihatkan pada nenekku di alam sana jika keinginan terakhirnya berhasil kami penuhi.


"Mari akhiri pernikahan ini ketika kita telah lulus dari SMA." Aku mengepalkan kedua tangan setelah mengumpulkan keberanian dalam mengatakan kalimat tadi.


"Baiklah, jika itu maumu," balas Sasha yang membuat epalaku menoleh ke arahnya yang tengah berjalan secara bersandingan denganku.


"Terima kasih atas kerja samanya."

__ADS_1


Sebuah taksi sedang menunggu kehadiran penumpangnya di ujung jalan. Dengan cuek, Sasha memasuki mobil tanpa membukakan pintu untukku sebagai penghormatan seorang suami. Aku tidak terlalu mempermasalahkan itu, tapi laki-laki itu tidak pernah sedikit pun menunjukkan sisi lembutnya. Apakah kebahagiaannya telah terenggut oleh kehadiranku?


Sembari membuka pintu bagian penumpang mobil, aku menatap pasi ke arah gubuk tua yang dahulu menjadi tempat bernaungku bersama nenek. Terukir senyum pada bibirku, dan akhirnya memasuki taksi dengan tenang.


Pada akhirnya, sampailah kami di gedung apartemen pada lantai tiga dengan urutan unit ke sebelas.


Setelah masuk ke dalam, ruangan utama dengan nuansa serba putih akan terlihat jelas menyegarkan mata. Bersih, rapi dan tertata dari hasil kerja Sasha. Dari seluruh furnitur, yang menonjol di antaranya adalah lemari kaca berisikan banyak piagam dan piala emas dengan begitu berkilau. Bukan milikku, lagi-lagi itu hasil kerja keras Sasha. Bisa disimpulkan dari hal-hal tersebut bahwa dia adalah laki-laki yang pantas diberi gelar 'kesempurnaan' dan idaman kaum hawa. Pikiranku terbuyarkan saat sebuah pena dan kertas tersodorkan ke arahku.


"Buatlah perjanjian yang kamu mau," kata Sasha sebelum aku menerima pemberiannya.


"Baiklah."


Kami duduk pada sofa panjang dengan bersebelahan. Sebuah pernyataan dalam perjanjian formal untuk bercerai di waktu yang ditentukan telah kutulis dan kami berdua menandatanganinya, seolah-olah ini adalah hukum yang begitu serius.


Sesudah itu, Sasha langsung beranjak pergi ke kamar miliknya tanpa meninggalkan sepatah kata pun. Sikapnya begitu cuek, seperti membangun dinding pembatas yang tebal di antara hubungan ini. Tidak ada perasaan apa pun yang tumbuh pada kami seorang pun. Benar, lantas apa yang kuharapkan lagi ke depannya jika pernikahan ini terus dilanjutkan? Aku tidak tahu bagaimana kedepannya kehidupan kami apabila terus menerus layaknya pasangan palsu.


Aku memasukkan kertas perjanjian ini di dalam map dan meletakkannya di dalam laci. Kemudian, aku pergi ke kamar pribadi yang di mana tentunya terpisah dari Sasha.

__ADS_1


Aku Riliana Celeste, akan memenuhi kebahagiaan nenek dengan cara menolak kesengsaraan hati dalam wasiat yang diberikan. Keputusan ini sudah bulat untuk masa depanku dan tidak akan ada hal yang menghalangi sampai kapan pun. Pikirku begitu, sebelum semua perubahan perlahan menghampiri.


- ♧ -


__ADS_2