
Waktu untuk sekolah telah usai, menghamburkan semua penghuninya untuk pergi melewati gerbang utama. Beberapa ada yang menyibukkan diri dengan kegiatan ekskul, mengurusi organisasi dan belajar tambahan.
Seorang laki-laki berkulit langsat cerah, berpenampilan masih terlihat rapi yang mencerminkan kedispilinan tengah berdiri di antara murid-murid yang berlalu-lalang. Tangannya memegang ponsel dan manik mata coklat tersebut menatap serius ke arah layar sentuh. Sesekali ia mengibaskan bagian depan rambut yang memiliki potongan undercut, bertanda bahwa sudah sangat suntuk untuk menunggu kehadiran seseorang.
"Kak Kaivan!" seruku seraya melambaikan tangan dan berlari-lari kecil ke arahnya.
"Ayo, Lia." Dia pun merangkulku tanpa pikir panjang jika semua mata akan menghakimi bahwa bisa saja ada yang mengira kami adalah pasangan.
Halte bus yang tidak jauh dari sini telah kami datangi dan selang beberapa detik, kendaraan umum tersebut hadir untuk ditumpangi. Kak Kaivan mengeluarkan secarik uang untuk dua penumpang, dan kami langsng menduduki bangku paling depan secara bersebelahan.
"Sebelum pulang, aku akan membawamu ke toko coklat yang baru dibuka. Kamu pasti senang," ucap Kak Kaivan sembari menunjukkan sebuah foto toko yang ia maksudkan di ponsel.
"Kak Kaivan ingin membelikanku toko itu?" tanyaku dengan unsur candaan.
Wajahnya memandangiku dengan datar. "Ada ada saja. Tunggu aku menjadi milliader, maka akan kubelikan semua toko coklat untukmu."
Tawaku menyembur dan reflek menutup mulut dengan satu tangan.
Selama beberapa saat, Kak Kaivan menekan tombol berhenti agar sang sopir bus menginjak pedak rem yang menandakan bahwa lokasi telah tertuju. Selanjutnya, kami berdua turun dan sedikit berjalan sampai ke sebuah toko penjual coklat yang bernuansa warna-warni. Mungkin, sang empu ingin menarik pelanggan bocah-bocah kecil dengan cara mendekorasi dinding menggunakan stiker-stiker lucu dan memajang kue-kue berbentuk kartun di kaca depan sebagai pemikat pelanggan.
Awalnya, Kak Kaivan hanya memesankan sebuah mochi yang berisikan lava coklat super manis. Kemudian, terpesanlah olehnya sepaket keranjang kecil berisikan telur paskah yang dimana terbuat dari coklat belgia.
__ADS_1
"Sepertinya kurang cukup. Kamu mau coklat putih batangan?" Kak Kaivan menunjuk ke arah menu di belakang staff ketika aku mengunyah mochi tebal.
"Kak, mungkin suatu saat aku akan mengalami masalah gigi karenamu," balasku jahil.
"Bukannya berterima kasih, justru menyalahkanku. Dasar anak kecil nakal." Tangannya mengelus rambutku, seolah-olah aku sungguh seorang anak kecil yang patut dimanjakan. Kak Kaivan kembali menatap staf toko dan mengatakan, "Berikan coklat yang saya maksud tadi."
"Baiklah, silakan melakukan pembarayan, Kak," jawab staf wanita tersebut dengan ramah.
Ponsel keluar dari saku Kak Kaivan, lalu menempelkan kode QR bank ke mesin kecil pembayaran non tunai. Aku tidak tahu berapa yang harus dibayar dan mungkin saja akan mahal karena membeli begitu banyak.
"Wah, kalian pasangan muda yang serasi," ucap wanita kasir itu sembari menyodorkan bungkusan pembelian kami.
Ketika aku hendak menyangkal, Kak Kaivan buru-buru menjawab, "Oh iya kalau begitu. Terima kasih."
Kami berbalik badan dan pergi ke luar dari toko dengan sedikit canggung. Bahkan mochi yang berada dalam mulutku tidak terkunyah lagi akibat teriang-iang perkataan kasir tadi.
"Ada-ada saja yang diucapkan kasir tadi." Anehnya, Kak Kaivan tertawa hambar dalam berbicara. "Mana mungkin kita seperti itu. Kita kan Kakak dan Adik."
Perkataan tadi justru lebih mengejutkan dari sebelumnya. Inilah rasanya dalam tertampar fakta. Kak Kaivan benar-benar menegaskan hubungan kami yang tentunya membuatku tidak berani menyatakan perasaan yang kumiliki terhadapnya. Bagiku sedikit sedih, tapi ada rasa senang akibat hubungan erat kami walau sebatas adik-kakak palsu masih terjalin sampai sekarang.
"Karena kita sudah terlanjur di sini ..." Kak Kaivan menunjuk ke arah baingalala yang terlihat cukup jauh dan nyaris ditutupi oleh bangunan-bangunan di sekitarnya. "Ayo kita ke sana! Sudah lama kita tidak bersenang-senang."
__ADS_1
"Baiklah, ayo kita ke sana," kataku dengan menguusahakan reaksi bersemangat.
Kak Kaivan memberhentikan taksi yang lewat dan kami pun berangkat ke wahana bermain di tengah kota. Setelah menempuh lima menit perjalanan, tibalah kami dengan sambutan boneka hewan besar yang menjadi maskot taman.
Semua pengeluaran uang telah dilakukan oleh Kak Kaivan seorang. Dia membeli tiket masuk dan langsung membawaku ke permainan bom-bom-car yang di mana menaiki mobil yang akan saling menabrak pemain satu sama lain. Selanjutnya, permen kapas dan hot dog terbeli untuk menyenangkan perut kami. Tidak lupa pula membeli minuman seperti jus mangga untuk Kak Kaivan sendiri dan aku hanya segelas milk shake berperisa stoberi.
Rasanya senang bisa berada di bawah sinar matahari, berlari-larian, menertawakan wajah pucat Kak Kaivan setelah naik Kora-Kora, dan makan es krim yang menetes sampai ke dagu. Kak Kaivan membuktikan diri sebagai seorang kakak yang sangat perhatian. Dia tidak membiarkanku bosan atau terdiam sedikit saja, rela menemaniku naik berbagai wahana—dan tidak mengeluh saat aku ingin mengulang untuk naik yang membuatnya lumayan mual—bahkan tersenyum sabar saat aku hendak ke toilet untuk yang ke puluhan kalinya akibat terlalu banyak minum. Dia pun bermain lempar kaleng dan memenangkan topi merah muda untukku di saat aku mengeluh kepanasan, mengelap es krim yang di pipiku, dan membelikanku baju ganti di saat kami berdua kebasahan setelah meluncur menuruni niagara dan terguncang-guncang dalam perahu di riam jeram. Aku tersenyum sampai pipiku terasa pegal, tertawa sampai perutku terasa sakit, berlari atau meloncat-loncat sebagai ganti jalan biasa akibat terlalu semangat.
"Ada rumah hantu, ayo kita ke sana!"
Tanpa persetujuanku, Kak Kaivan menarik tanganku cepat menuju rumah hantu yang sudah terlihat mengerikan dari tampilan luar. Bahkan ketika kami mendaftarkan diri untuk masuk, sang staf penjaga sudah memakai busana malaikat pencabut nyawa. Kulit dan bulu kudukku meremang saat memasuki ruang pertama yang bertemakan rumah sakit. Baru saja berjalan beberapa langkah, kakiku langsung tertangkap oleh tangan penuh percikan darah palsu. Mulutku menjerit keras dan Kak Kaivan sontak memelukku erat dalam dekapannya. Tidak sampai di situ, saat aku mencoba memberanikan diri, muncul kejutan sepeti pocong melompat secara mendadak, tuyul berkeliaran dan hantu noni belanda yang membuatku terus menerus mencengkram tangan Kak Kaivan akibat sangat merinding. Mungkin, mereka akan kembali ke menakut-nakutiku di mimpi nanti malam.
Setelah berhasil keluar, aku baru tersadar bahwa sepatu yang kukenakan telah hilang hanya sebelah.
"Aku tidak mau kembali memasuki tempat ini meskipun sepatuku hilang!" racauku dengan frustasi.
Kak Kaivan tertawa lepas dan menggaruk belakang lehernya. Tanpa disangka-sangka, dia melepaskan satu sepatu dan mengenakannya padaku.
"Pakailah ini sementara waktu. Akan aku belikan sendal pada toko kecil di sana," ucap Kak Kaivan yang membuatku terharu. Tangannya kembali merangkulku seraya mengatakan, "Sudah, jangan takut. Tidak ada setan lagi di sini."
- ♧ -
__ADS_1