
Seusai merasa cukup dalam bersenang-senang bersama Tristan yang meninggalkan sebuah kesan kecil, aku berpamitan pergi untuk pulang. Tentunya aku menerima tawaran baik hati Tristan untuk mengantarkanku menggunakan mobilnya sampai ke apartemen.
Akhirnya, aku sampai pada unit apartemen yang dimana langsung terlihat Sasha sedang duduk di sofa. Begitu banyak buku pelajaran, bahkan laptop di atas meja. Tangannya sangat sibuk dalam menari-narikan pena di atas kertas. Matanya melirikku sejenak, lalu kembali fokus pada pekerjaannya seolah-olah tidak peduli denganku.
Karena aku merasa ingin tahu apa yang dia kerjakan dan kami pun juga berada di kelas yang sama, serta merta kulemparkan pertanyaan, "Apa yang kamu kerjakan?"
"Ini kertas ujian lama," jawabnya singkat tanpa menatapku.
"Ah, rupanya sedang belajar untuk olimpiade nantinya." Aku langsung melenggang pergi ke kamarku.
"Bukan."
Aku mematung ketika memegang gagang pintu untuk mendengarkan kelanjutan ucapan Sasha yang belum selesai.
"Minggu depan akan ada try out. Itulah mengapa belajar."
Kepalaku mengangguk tanda memahami, kemudian langsung memasuki kamar untuk membereskan bawaan pada tanganku.
Rutinitas sore dengan mandi dan berganti pakaian kulakukan. Setelah itu, kedua tas berisikan coklat dari Tristan kumasukkan ke dalam lemari es yang berada di dapur. Satu persatu aku letakkan coklat batangan yang berjumlah puluhan ke dalam freezer agar tidak teksturnya tidak rusak. Akan tetapi, aku terkejut saat memasuki salah satu batang coklat paling besar yang kukira adalah coklat, tapi rupanya sebuah kotak ponsel! Dengan terkejut, aku membuka isinya yang di mana sebuah ponsel pengeluaran terbaru dan berisikan lembaran kecil bertuliskan 'Di dalamnya sudah ada nomorku, love -Tristan'.
Astaga, ada-ada saja tingkah Tristan. Jika aku mengembalikkan ini, dia mungkin akan sakit hati seolah-olah pemberiannya tidak dihargai. Aku tersenyum tipis dan meletakkannya pada meja makan, lalu kembali menyusun sisa batang-batang coklat. Tersisakan satu coklat, dan aku langsung mendekati Sasha untuk memberikannya.
"Tidak, terima kasih," tolak Sasha saat aku menyerahkan coklat belgia ini padanya. "Kamu tidak belajar?"
"Apa pedulimu?" balasku dalam membalikkan ucapannya tadi siang akibat merasa kesal karena menolak coklat dariku.
"Bukankah seharusnya kamu berterima kasih karena aku mempedulikan kelalaianmu dalam belajar?" Dia balik bertanya dengan sinis.
"Dan bukannya kamu juga harus berterima kasih karena aku mempedulikanmu dengan memberikan coklat ini?" Aku membalasnya dengan perkataan yang sama.
Kami saling melirik dengan tajam sejenak. Kemudian, tanpa disangka-sangka coklat di tanganku terambil dengan kasar oleh Sasha.
__ADS_1
"Hanya karena coklat ini, kamu menolak belajar?" Coklat tersebut dibuka olehnya, lalu tergigit satu potongan kecil dengan wajah tidak menyenangkan. "Dari mana coklat ini?"
Reaksi Sasha seperti kebingungan dalam mengunyah cemilan itu dan dia kembali memakannya. Sudah pasti rasa coklat itu begitu lezat dan tidak ada rasa penyesalan baginya dalam menerima pemberianku itu.
"Tentu saja itu pemberian Tristan. Dia tahu bagaimana memilih sesuatu yang lezat untukku," jawabku pongah dan membuat wajah Sasha semakin masam. "Baiklah. Lanjutkan belajarmu."
"Kamu ingin ke mana?"
Kakiku berhenti untuk melangkah saat dilemparkan pertanyaan lagi. Hari ini adalah jadwalku untuk memasak makan malam, dan bukankah seharusnya dia tahu itu?
"Memasak makan malam, apa lagi?" Aku menggedik bahu sejenak dan Sasha justru mengerutkan dahinya.
"Itu bisa nanti dilakukan. Jangan sita waktu belajarmu untuk tugas rumah tangga," balasnya sembari menyodorkan buku soal latihan padaku. "Ambillah."
Sebenarnya, aku selalu menghabiskan malam sebelum tidur untuk belajar dan mengulang-ulang materi dari sekolah. Di siang hari, sudah biasa bagiku untuk melaksanakan kegiataan pengurusan rumah seperti bersih-bersih, memasak atau merapikan perabotan. Sikap mandiri sudah tertanam akibat hidupku yang kurang berkecukupan bersama nenek terdahulu. Jadi, tidak ada bagiku kehilangan waktu belajar dalam mengurusi pekerjaan rumah.
Karena aku ingin menghargai sikap baik Sahsa, aku pun membalas, "Baiklah, terima kasih. Aku akan belajar di kamar."
"Kunci jawaban berada padaku," ucap Sasha seraya melirik buku yang dimaksudnya.
"Oh begitu. Berikan buku kunci jawaban itu."
"Aku masih memakainya."
Reaksiku pasti begitu konyol setelah mendengar ucapan Sasha yang membingungkan.
"Kamu menyuruhku belajar, tapi seolah-olah melarangku belajar juga. Apa maksudmu?" Satu tanganku yang kosong menjadi berkacak pinggang ketika memprotes sikap laki-laki cuek ini.
Dia menghela napas sejenak sebelum berkata, "Pekalah. Aku bermaksud untuk memintamu belajar bersama. Salah satu soal membuatku kebingungan dalam menjawab secara penjabarannya. Sedangkan aku tahu jika kamu hebar dalam masalah teori-teori."
Tangannya melepaskan buku soal latihan dan aku menerimanya dengan mulut terdiam. Terdapat sebuah stiker penanda yang timbul ke luar dan membuatku ingin tahu isinya. Ketika menemukan satu soal yang dianggap bingung oleh Sasha karena begitu banyak coretan angka yang tidak dia ketahui, aku pun langsung duduk di sebelahnya sembari mengambil satu pena.
__ADS_1
"Jika kamu perlu sesuatu ...," ucapku sembari mengambil buku pelajaran sekolah untuk mencari bab materi sesuai soal tadi. "Katakanlah dengan terang-terangan. Aku tidak bisa mengerti kode bicaramu itu."
Akhirnya aku mencorat-coret banyaknya rumus, penjelasan singkat, teori-teori dasar dalam memecahkan soal secara alternatif hingga Sasha paham tanpa bertanya sekali pun. Inilah pelajaran fisika, kegemaranku.
"Kita berteman, bukan?" tanyaku untuk ke sekian kalinya setelah membuatnya berterima kasih atas pertolonganku.
"Itu bentuk dalam meminta balas budi setelah membantuku?" Sasha menjawab dengan melemparkan balik pertanyaan.
Aku mulai memandangi langit-langit dan mengucapkan, "Sejujurnya, aku merasa suntuk jika kita berdekatan, tapi berkomunikasi seperti orang asing. Aku tahu saling menjaga jarak lebih baik, tapi bukankah bagus jika kita berteman seperti seorang partner?"
Sasha terdiam seperti sedang mencerna ucapanku.
"Jika tidak mau, tidak masalah," jawabku sembari bangkit dari sofa.
"Tidak, aku mau."
Balasan Sasha membuatku terkejut. Baru kali ini dia menyetujui ucapanku dengan cara membalas secara langsung. Biasanya, dia hanya mengangguk atau diam dan langsung melaksanakan tanpa banyak bicara.
"Ya, aku tahu ... sepertinya kamu ingin menjadikanku teman untuk belajar agar terus mengejar nilai sekolah." Tanganku mengibas pelan dalam mengekspresikan perkataan ini. "Kamu begitu berambisi. Meskipun begitu, aku tidak masalah untuk mendukungmu."
Sasha menyandarkan dirinya pada punggung sofa dan melipat kedua tangan di depan dada. "Apakah bagimu, aku licik?"
Bibirku menyunggingkan senyum miring. "Tebakan yang tidak kupikirkan sama sekali dalam otakku. Jangan berpikir negatif, aku tidak mau berburuk sangka padamu."
"Begitu rupanya." Kepalanya mengangguk pelan. "Aku mengira, kamu selalu mengutukku dalam pikiranmu karena merasa tidak betah dalam kehidupan bersama ini."
Aku nyaris tertawa setelah mendengar ucapan panjang lebar darinya mengenai kesan yang selama ini terpendam di pikirannya.
"Baiklah, aku ingin ke dapur untuk memasak makan malam. Kamu lanjutkan saja belajar untuk try out. Aku bisa melakukan itu di malam hari," ujarku sebelum melangkah pergi.
"Tunggu, aku akan membantumu membuat makan malam." Sasha langsung bangkit dan menyusulku ke dapur sebelum aku sempat menolaknya.
__ADS_1
- ♧ -