
Setelah makan bersama dengan membenam rasa malu, aku pun langsung membereskan diri dengan mandi dan berganti pakaian lebih santai.
TOK! TOK! TOK!
Pintu kamarku terketuk, lalu terdengar suara Sasha yang mengatakan, "Lia, aku akan pergi ke GYM."
Secepatnya, aku membuka pintu. "Aku ikut!"
Begitu membosankan di apartemen sendirian.
Dia sedikit membuka mulut, seolah tidak percaya dengan responsku. Sebelum dia angkat bicara, aku pun membuka pintu lebih lebar dan menunjuk ke arah lemari baju.
"Aku harus memakai apa? Croptop? Aku ada khusus sport juga. Tunggu, biarkan aku berganti pakaian," kataku dengan antusias dan berbalik badan.
"Tunggu!" Sasha menahan tanganku, lalu melepaskan jaket yang sering dikenakannya akhir-akhir ini dan memakaikannya untukku. "Baiklah, kamu tidak perlu berganti pakaian. Ayo kita pergi."
Dengan kebingungan dalam penampilan bak orang-orangan sawah, aku pun memprotes, "Kamu mengenakan kaos hitam polos begitu saja?"
Sasha menaikkan alisnya, tanda membenarkan.
"Lalu, aku mengenakan jaket besar ini, beserta celana bergambar keroppi?" Sontak, kami melihat ke arah celana berwarna hijauku dengan motif kartun katak yang begitu lucu. Namun, tidak lucu jika dikenakan di luaran. "Lihat bajuku. Sama halnya bermotif kerroppi, tapi warnanya adalah merah muda."
Bisa kubayangkan bagaimana orang-orang menertawai penampilan kocakku ini.
"Baiklah-baiklah." Sasha menerobos masuk ke kamarku, membuka lemari pakaian dan mengeluarkan kaos putih beserta celana legging. "Kenakan ini."
"Hei, jangan membuka lemariku sembarangan. Itu privasi!" ucapku jengkel.
Aku mendekat dan Sasha memendangiku dengan jahil. "Apa di antara kita masih ada privasi?"
Nyaris salah tingkah akibat melihat wajahnya mendekat ke arahku, secepatnya aku merampas pakaian di tangannya dan melepaskan jaket ini. Aku pergi ke kamar mandi untuk mengenakan pakaian tadi dan langsung menutup wajah dengan kedua tangan. Memalukan, aku baru ingat jika dia pernah merawatku dan tentunya sudah begitu hafal dengan isi lemariku.
Setelah selesai, aku ke luar dan Sasha langsung mengenakanku jaketnya tadi. Dalam keadaan masih terbawa suasana malu, aku hanya terdiam dan kami berangkat menuju GYM.
Perjalanan menggunakan taksi hanya menghabiskan beberapa menit, lalu sampailah kami di gedung gymnamsium. Awalnya, kukira akan diberi pemandangan super indah dengan orang-orang yang bertubuh rupawan. Akan tetapi, justru pria tua seperti memiliki anak lima dan bertubuh kekar yang menurutku sedikit berlebihan. Kurasa, jika mereka mengikuti kontes angkat beban keduniaan maka akan menang.
"Kita pemanasan dulu," ucap Sasha ketika kami sudah berdiri di matras tipis.
Aku memulai pemanasan seperti olahraga yang diajarkan di sekolah. Omong-omong, bukankah seharusnya aku menjalani olahraga khusus untuk ibu hamil? Tunggu dulu, aku barusan menyebut ibu? Terdengar mengejutkan juga.
__ADS_1
"Sudah?" Sasha bertanya di dekat telingaku hingga aku sedikit terkejut.
"Jangan terlalu dekat begitu!" kataku dengan kesal. "Iya, aku sudah pemanasan. Lalu, sekarang melakukan apa?"
Dia melihat ke sekitar, lalu berkata, "Angkat beban atau bench press?"
"Terlalu berat untuk pemula." Aku memprotes.
"Kalau cable crossover?" Tangannya menunjuk ke arah alat yang besar dan seperti ada gantungan tangannya. Dari yang kulihat, sepertinya tidak ada bedanya dengan angkat beban.
"Berat juga."
"Chest press?"
"Berat."
"Lat pulldown?"
"Sama."
Mataku menatap malas ke semua benda-benda besar tersebut.
Serta merta aku mengambil barble terkecil di dekat sini, lalu menunjukkan ke arahnya. "Pemula harus menggunakan ini dulu," kataku sembari mengangkat barble ke atas dan bawah.
"Baiklah," balasnya, lalu ke alat angkat beban yang ditunjukknya tadi.
Sepertinya dia akan mengangkat berat dua puluh kilogram, atau lebih. Entahlah, piring-piring yang diangkatnya sungguh besar.
Rasa bosan melanda dan aku duduk di kursi panjang sembari memainkan barble dengan malas. Aku jadi ingin merengek pulang dan lebih baik rebahan saja.
"Lia, sedari tadi kamu mengangkat barble?" Kepala Sasha muncul dari sebelahku, membuatku terkejut. "Kita ke bench press, biar aku bantu."
"Aku membayangkan bagaimana menjadi gepeng saar tertimpa jika tidak kuat mengangkatnya," jawabku setelah mengelus dada. "Bagaimana jika aku menggunakan treadmill?"
"Lari bisa sepulang gym saja." Dia menarikku, lalu membawa ke tempat angkat besi yang sudah dikurangi bebannya. "Masing-masing hanya sepuluh kilogram."
Aku terperangah dan hendak kabur, tetapi dia menangkapku dengan tawa kecil. "Semuanya dua puluh kilo, ditambah dengan berat besinya yang mungkin lima atau sepuluh kilo! Aku benar-benar bisa gepeng karenamu!"
"Tidak akan." Sasha membuatku terduduk dan aku langsung berbaring dengan tegang. "Karena permintaanmu di sini dan aku sebagai pendampingmu, maka tidak akan terjadi kecelakaan seperti itu. Percayalah. Fantasimu terlalu brutal."
__ADS_1
Benar, ekspetasiku berlebihan. Namun, sebagian besar hasil pikiranku menjadi kenyataan.
Sasha berdiri di belakang dan kami memegangi gagangnya bersamaan. Kepalanya sedikit menunduk hingga kami saling berpandangan.
"Pelan-pelan saja," ucapnya saat aku mencoba mengangkat dan menurunkan di atas dada. "Bagus. Lanjutkan."
Alih-alih merasa berat dalam beban besi, justru aku merasa berat saat Sasha menatapku lekat-lekat. Jantung yang berdegup kencang ini sangat tidak wajar!
Sesudah mengangkat dengan hitungan belasan, aku menyerah dan langsung terduduk. Sasha memberikanku sebotol air mineral dan aku meneguknya dengan rakus. Ini pasti efek dari terlalu lama tidak berolahraga hingga merasa gugup, atau mungkin tidak begitu.
Tubuhku terasa panas dan mulai berkeringat. Buru-buru kulepaskan jaket dan mengangkat rambutku hingga leher sepenuhnya terlihat. Sebelah tangan kosong kugunakan untuk mengibas-ngibas dalam menyejukkan diri.
"Butuh ini?" Sebuah handuk kecil tersodorkan ke arahku dari Sasha.
Kuambil benda itu dan mengelap keringat di leher. "Sejak kapan kamu membawa ini?"
"Ada di saku jaket," balasnya seraya mengambil jaket yang kugeletakkan di matras, lalu dia kenakan lagi padaku. "Dipakai, jangan dilepaskan."
Akibat kebingungan, aku bertanya, "Kenapa? Aku terlalu berkeringat, jaketmu bisa jadi bau." Aku memberi alasan konyol.
"Bisa dicuci."
"Panas!"
Matanya melirik ke atas, seperti lelah dengan segala alasanku.
"Aku terganggu jika kamu tidak mengenakan jaket, pakailah," katanya seraya memasukkan tanganku ke lengan jaket. "Di sini tidak hanya aku yang melihatmu."
Bibirku menahan senyum dan mencolek-colek bahunya. "Wah-wah, apa karena kaosku terlalu ketat sampai tubuhku terlihat? Lagi pula, aku tidak mengenakan pakaian sport yang kupilih tadi," balasku seraya menolak mengenakan jaket. Jelas-jelas wanita lain mengenakan bra sport dan tidak masalah di tempat ini.
Sasha menatapku dengan jengkel, lalu mendadak membuka kaosnya hingga aku melotot hebat. Perutnya terekspos jelas dan aku langsung menarik kaos abu-abu yang belum terlepas dari tubuhnya.
"Jangan menjadi pendendam!" gumamku dengan kesal. "Iya-iya, aku menggunakan jaket!"
Dengan senyuman kemenangan, Sasha memperbaiki kaosnya dan meresleting jaketku. "Bagaimana perasaanmu? Apakah terganggu?"
Bibirku menjadi manyun karenanya. Sikap protektif dan secuil posesifnya lumayan mengesalkan.
- ♧ -
__ADS_1