Oh My Love

Oh My Love
Trauma


__ADS_3

Tertekan dan tingkat kecemasan yang tinggi. Sesekali, menatap ke arah cermin hingga mengucapkan kalimat serapah mengutuk diri sendiri pada kejadian mengerikan saat itu. Rasa gemetar pada tubuh tidak hilang sama sekali, membuatku sulit tenang secuil pun. Ketakutan masih menghantui isi pikiranku, merasa bahwa tubuh ini telah dikhianati dan tidak lagi aman. Terasa seperti luka, tapi tidak ada darah.


Kerap kali memegangi kulit sendiri, terlebih lagi bibir, perasaan jijik yang berlebihan membuatku semakin frustrasi. Mual, pusing, begitu membebani fisik dan mental. Menatap ke sana kemari, seperti sedang terawasi hingga aku menjadi paranoid.


Dunia semakin gila. Kenapa sebagai korban, justru yang menanggung keresahan ini? Hidupku terasa kacau balau, seolah lebih baik mati daripada terbayang-bayang kesialan itu.


Memegangi kedua pipi dengan tangan, dan mulai menjerit histeris sampai mencakar-cakar menggunakan kuku tanpa sadar. Tidak ada rasa sakit, hanya perasaan jijik yang menyelimuti dengan hebat. Semua barang yang terlihat mata, kulemparkan ke segala arah. Berteriak dan mengutuk, hanya itu yang bisa kulampiaskan.


"Lia!" Sasha muncul di belakangku secara mendadak, menahan dengan kuat tetapi tidak menyakiti. "Tenanglah ...."


"Jijik, menjijikan!" racauku untuk ke sekian kalinya sembari memberontak dari bekapan Sasha. "Tolong, aku tidak mau begini."


Terduduk dan menangis. Sasha membantuku berdiri dan membawaku ke ranjang. Spontan, aku menyentakkan tangan, lalu mendorongnya dan kembali mencakar pipi sendiri.


"Jijik, menjijikkan," jeritku secara frontal. "Tolong ... tolong aku!"


"Aku di sini menolongmu," bisik Sasha yang kembali mendekatiku dengan membalutkan selimut agar membatasi sentuhan kami.


Sedikit menenangkan saat sedikit dipeluk olehnya. Namun, sesekali teriakanku muncul secara spontan yang membuat Sasha harus berkali-kali menaikkan kesabaran untuk menenangkanku.


"Aku membawakanmu bubur, lihat ini." Sasha berdiri, mengambil semangkok bubur yang dia letakkan pada nampan di atas meja nakas dekat pintu. "Aku membuatnya sendiri."


Bubur ayam yang dihias dengan susunan wortel, kenang, kacang polong dan kuah kuningnya. Cocok disebut puzzle karena susunan toppingnya sangat rapi. Meskipun terlihat lezat, tidak ada nafsu untuk memakannya. Tanganku justru gatal untuk melemparkan mangkuk tersebut, tetapi kutahan sekuat mungkin.


"Aku sudah mengatakan masalah ini pada orang tua kita." Tangannya menyendok bubur. "Bajingan itu akan diurus secara hukum dan mungkin akan masuk lapas anak jika tuntutan ini berhasil."


Tidak boleh. Seharusnya, dia dilemparkan saja ke penjara umumnya, bukan lapas anak yang pastinya adalah hukuman ringan. Dia harus merasakan penderitaan yang kualami.


"Ayo, buka mulutmu." Sesendok bubur dengan uap di atasnya mulai mendekat ke mulutku oleh Sasha.

__ADS_1


Kepalaku memalingkan pandangan dan mulai kembali mencakar-cakar pipi.


Sasha memegangi kedua tanganku dengan satu tangannya, menahanku untuk melukai diri sendiri. Kemudian, kembali menyodorkan sendok tadi.


"Tidak mau bubur?"


Aku menggeleng pelan.


"Baiklah, hanya sesendok saja. Lalu, aku tidak akan memaksamu makan lagi," pintanya lirih. "Ayo, buka mulutmu ...."


Hanya sekali, kurasa tidak apa. Mulutku menyambut bubur tersebut dan menikmati sensasi kelezatan yang begitu berbeda dari buatan penjual bubur pada umumnya.


"Ayo, sekali lagi."


Karena aku merasa jaim, kepalaku menggeleng.


"Sekali lagi, Lia. Ayolah." Suara Sasha terdengar memelas dan membuatku membuka mulut lagi. "Bagus. Ayo buka mulut lagi."


"Sekali lagi, maka aku tidak akan memaksamu makan untuk malam hari," ucapnya dengan senyuman menyejukkan. "Ayo, buka mulut lagi."


Entah sihir apa yang merubahku, reflek mulutku terbuka dan lagi-lagi menerima suapannya. Hingga akhirnya, seisi mangkok habis tanpa kusadari.


Awalnya, tidak terpikirkan olehku bagaimana repotnya Sasha untuk mengurusku. Sering kali orang tuanya ikut mengurusku dan tidak jarang emosi meluap sampai mempermalukan diri sendiri. Di otakku, hanya keresahan dan kecemasan bercampur aduk. Aku seperti ini juga lelah.


Dalam keadaan seperti ini, Sasha juga harus bersekolah. Dia harus pulang secepat mungkin, terkadang aku melihatnya sampai ke apartemen dengan keadaan napas terengah-engah seperti usai berlarian. Di hari biasa, dia selalu berangkat lebih awal. Namun, kali ini menjadi sering terlambat hanya karenaku. Begitu direpotkan, tetapi tidak pernah sekali pun mulutnya mengeluh.


"Waktunya membersihkan badan," kata Sasha sembari ke luar dari kamarku, lalu kembali dengan membawa baskom berisikan sedikir air dan kain. "Apa kamu bisa sendiri?"


Ketika aku mencoba mengambil kain basah tanpa diperas, justru menjadi terjatuh dan membasahi lantai kamar. Serta merta Sasha mengambil kain tersebut, membasahi ulang dan memerasnya.

__ADS_1


"Mau kubantu?" tanyanya dengan lesu. "Tidak perlu melepaskan pakaianmu. Ketika selesai, maka gantilah pakaianmu yang pastinya sedikit basah akibat aku lap dengan kain ini."


Di sela-sela tubuh yang terselimuti dan berpakaian tebal, tangan Sasha mulai merayap di punggungku dengan kain basah yang sejuk.


"Terima kasih karena sudah mempercayaiku," gumamnya sembari terus mengelapku tanpa menyentuh area sensitif.


Tangan, kaki dan wajah. Semua itu terusap dan terasa sedikit segar. Setelahnya, Sasha mengambilkan baju dan celana tidurku dari lemari, lalu memberikannya padaku.


"Aku akan ke luar, pakailah ini."


Dia langsung pergi dari hadapanku dan menutup pintu dengan rapat. Sedangkan mataku sedari tadi menatap setelan pakaian tanpa bagian **********. Napasku terhela ringan, berpikir bagaimana baiknya Sasha dalam menjaga perasaanku dari malu tanpa mengambil benda privasiku.


Saat berganti pakaian, aku melihat kulit tubuhku dan mulai merasa jijik kembali. Hampir satu jam aku menghabiskan waktu untuk berusaha menenangkan diri dan berhasil sepenuhnya mengenakan pakaian.


Pada malam hari, Sasha membawaku ke sofa dan mengajakku menonton televisi dengan film bergenre komedi. Sebelumnya, aku diberi obat penenang dengan dosis rendah dari resep psikolog yang pernah mendiagnosisku.


"Makanan manis akan membuat suasana hatimu bertambah baik. Maka karena itu, aku membuatkanmu bubur mutiara ini." Segelas bubur mutiara merah muda terbawakan oleh Sasha kepadaku. "Ayo makanlah. Sebentar lagi. Ayah dan ibuku akan datang, mereka pasti senang denganmu jika menghabiskan ini."


Aku meringkuk dan langsung menoleh ke arahnya. "Apakah mereka telah berhasil menuntut keadilan untukku?"


Sedari awal, aku terus menunggu akan pembalasan adil dari trauma yang kudapatkan. Mungkin, inilah salah satu sebab dari kecemasan yang berlebihan.


"Tunggu saja. Setelah kamu berhasil sembuh, kabar baik pasti akan hadir," balas Sasha yang tidak menyerah dalam menyodorkan sesendok mutiara.


"Tapi ... dia kan berasal dari keluarga kaya! Dia pasti akan menyewa pengacara bagus untuk terlepas dari jeratan ini!" rengekku seraya menjambak rambut sendiri hingga Sasha buru-buru mencegah. "Aku ... aku tidak mau seperti ini terus."


"Tidak, Lia ..." Sasha menahan tanganku. "Percayalah padaku."


Depresi hingga terpancing untuk menyakiti diri sendiri. Tiada kata henti tanpa tercegah oleh seseorang atau satu butir obat. Hanya siklus itu terus menerus berputar di keseharianku.

__ADS_1


- ♧ -


__ADS_2