
Lagi-lagi suasana canggung! Ya ampun, aku harus bagaimana lagi agar Sasha paham dengan apa yang kumau? Rasanya, aku frustrasi kuadrat. Otakku jauh lebih panas dalam berpikir hal menyebalkan ini dari pada mengerjakan soal fisika.
Kami berdua turun dari taksi dan barang-barang dari bagasi seperti koper bersama tas dibantu oleh staf lobi yang tentunya harus diberi tip oleh Sasha. Setelah itu, kami menaiki lift dengan mulut terkatup.
Tidak bisa, aku enggan tinggal diam!
"Bukan begini harusnya!" ucapku dengan nada tinggi yang membuat Sasha tersentak kaget.
Sejak tadi, aku menahan-nahan dan akan eregsi saat ini juga.
Tubuhku menghadap Sasha dan berkata, "Perasaan kita pada satu sama lain menjadi sangat tidak enak." Kedua tanganku mengepal keras dan melanjutkan, "Bagaimana jika kita jadian sungguhan?"
"Apa?" Sasha mematung dalam menanggapi ucapan bodohku secara frontal.
Wajahku menjadi kaku akibat malu hebat dengan mendapatkan reaksi seperti ini darinya. Seharusnya, bukan begini!
"Dari pada kita membohongi perasaan satu sama lain, bukankah lebih baik kita jadian sungguhan?" sambungku dengan keki dan berusaha memasang senyum percaya diri. "Terlanjur menikah, berpura-pura pacaran dan sampai tahap seperti ini, dan ... bukankah usulanku bagus?"
"Tidak mau."
JLEB!
Hatiku seperti ditusuk oleh ribuan panah dari langit, tersambar halilintar lalu ingin menguburkan diri sedalam-dalamnya. Gawat, memalukan sekali saat aku tertolak kelak.
"Aku tidak mau menerima pernyataan dari gadis."
Tiba-tiba, Sasha mendekat ke arahku dan aku mundur perlahan karenanya. Sampailah punggungku dan tangannya menempel pada dinding lift dan membuat jantungku berdegup sangat kencang. Wajah kami yang saling menatap, membuatku memalingkan pandangan.
"Jangan asal menembak laki-laki. Harga diriku bisa turun, Lia," kata Sasha dengan lirih. "Biar kukatakan, bagaimana jika kita jadian?"
Aneh, tidak ada yang namanya gadis mengajak laki-laki jadian dan membuat harga diri turun. Sasha benar-benar aneh, tapi untung saja aku menyukainya.
"Jadian ... karena kamu suka padaku?" tanyaku dengan menatapnya lekat-lekat.
"Ya."
"Sejak kapan?"
"Bukan sejak kapan," balasnya dengan melirik ke kanan dan melanjutkan, "Tapi sekarang juga."
__ADS_1
Aku terdiam tanda tidak memahami perkataannya dalam situasi ini.
"Maksudku ... yang mau kukatakan, sekarang juga aku menyukaimu," ucap Sasha dengan gagu. "Dan sekarang juga kita jadian."
Oh, begitu rupanya. Sepertinya, dia terlalu gugup hingga keki seperti ini. Karena dia sedang mengalihkan pandangan, serta merta kuberikan ciuman dadakan secara sekilas hingga dia melangkah mundur akibat terkejut.
Pintu lift terbuka dan untung saja kami berdua dalam posisi jaga jarak karena adanya beberapa orang tengah menunggu di depan. Buru-buru aku melangkah ke luar bersama dengan Sasha, sedangkan barang-barang kami sudah lebih dulu sampai oleh staf di depan pintu unit apartemen kami.
"Lia ..."
"Aku mau berganti baju dulu!" selaku saat Sasha berbicara dan aku langsung melesat ke kamar, menutup pintu lalu bersandar dengan ritme jantung berkecepatan tinggi.
Jadi ini yang dirasakan Sasha saat tadi, begitu canggung dan super memalukan! Aku seperti gatal untuk mengucapkan maaf karena berbicara perihal jadian yang sebenarnya tidak ada salahnya secuil pun. Ah, ada-ada saja perasaanku yang campur aduk ini!
Baik, aku harus tahan napas, lalu mengembuskannya. Kembali menahan napas, kemudian ....
BRUK!
"Maafkan aku!"
Baru saja ingin mengembuskan napas untuk menenangkan diri, mendadak pintu terbuka dan membuatku terpental ke depan. Sang pelaku tidak lain adalah Sasha yang mulai membantuku bangkit.
"Maaf, aku terburu-buru untuk mengatakan sesuatu," balasnya dengan memegangi belakang leher. "Tadi ... katamu saat di mini market, aku harus bersikap seperti biasa saja?"
Aku terduduk di atas lantai dan dia ikut denganku.
"Maksudku, bersikaplah selayaknya dirimu sendiri. Aku tidak suka hawa canggung di sekitar kita hanya karena sikapmu dingin, justru menjadi semakin dingin," ujarku yang pastinya mudah dipahami oleh Sasha. "Jadi, berkatifitaslah dengan seperti biasanya. Lakukan hal yang kamu suka."
"Hal yang aku suka?"
Sepertinya aku salah bicara. Sasha mulai menatapku dengan sayu, dan hatiku menjadi berdegup kencang saat dia tersenyum. Kemudian, dia bangkit dan hendak ke luar dari kamar ini.
Kenapa dia mendadak pergi? Aku pun bertanya, "Mau ngapain?"
Kepalanya menoleh. "Apa lagi? Melakukan hal yang kusuka, seperti normalnya aktifitas."
Mungkin saja bersih-bersih atau memasak, dua hal itu adalah kegiatan yang bisa disebut dengan bakatnya. Ketika bersih-bersih, bahkan lantai begitu mengkilap sampai semut bisa terpeleset. Saat memasak juga begitu lezat. Dia masih belum pulih total dan aku harus membantunya yang sepertinya risih dengan debu-debu di apartemen dan meja makan yang kosong.
"Aku juga ingin bersamamu," kataku dengan sungguh-sungguh.
__ADS_1
"Benarkah?" Sasha tampak tidak percaya dengan reaksiku.
"Ya!"
Aku pun mengikutinya dan dia memasuki kamar sebentar, lalu ke luar dengan membawa setumpuk buku pelajaran. Rupanya, ini aktifitas yang disebut menyenangkan baginya. Apakah aku harus mendadak pura-pura sakit perut agar terhindar dari kegiatan membosankan ini?
Sasha duduk di sofa, kemudian menepuk-nepuk pelan sebelah bagian duduk yang kosong. "Kemarilah, kita belajar bersama setelah dua hari berada di puncak tanpa membaca buku sedikit pun."
"Baiklah," jawabku pasrah.
Namun, sebelum itu aku mengambil teh dari kulkas dan biskuit untuk menemani belajar yang akan overdossis di otakku. Karena aku masih ingin bersantai, aku mengambil novel berjudul 'Blaze II' yang terselip di antara buku-buku latihan soal.
Saat membaca buku fantasi yang sedikit membosankan ini, mataku menjadi berat dan akhirnya mengantuk sampai mata terpejamkan. Baru saja ingin tidur dalam keadaan bersandar di punggung sofa, tiba-tiba saja tangan Sasha menarik pelan kepalaku sehingga menempel di bahunya.
Selama beberapa saat aku menikmati tidur tanpa mimpi, dan akhirnya terbangun dengan sesuai dugaanku, yakni terjatuh di atas paha Sasha sebagai bantal yang lebih empuk. Ini bukanlah hal pertama, jadi rasa maluku bisa dikurangkan.
"Mau tidur di kamar saja?" Sasha bertanya setelah menutup bukunya.
Dia pasti kesulitan dalam menjawab soal saat aku di posisi seperti ini.
"Jam berapa sekarang?" tanyaku karena tidak bisa melihat jam yang berada di sisi lain Sasha. Jika kepalaku mendongak, pasti sakit sekali karena sehabis bangun tidur.
"Jam tujuh."
"Tidurku lama sekali rupanya." Aku bangkit dan melihat camilan di meja sudah habis sejak sore tadi. "Aku pergi ke kamar dulu."
"Aku temani."
Perilakunya sedikit berlebihan, padahal aku hanya ingin ke kamar yang jaraknya lima langkah saja. Akan tetapi, ini usahanya dalam menunjukkan kepedulian.
Saat kami sampai di kamarku, Sasha bertanya, "Tidak makan malam dulu?"
"Rasa kantukku mengalahkan perut," balasku seraya berbaring di atas kasur.
Sasha pun melangkah pergi ke luar, bersamaan dengan mulutku yang menguap dan berkata, "Janga ... n ... tinggalkan ... pin ... tuku ter ... bu ... ka."
Akhirnya, aku kembali tertidur pulas sebelum mendengar suara langkah mendekat yang tidak kupedulikan sama sekali.
- ♧ -
__ADS_1