Oh My Love

Oh My Love
Permasalahan Tristan


__ADS_3

Dalam keadaan sehat, Sasha melarangku keras untuk bersekolah. Padahal, jelas aku merasa bosan dan tidak tahu harus beraktifitas apa.


Aku mencoba yoga. Menyingkirkan sofa ke pinggir, lalu menggelar karpet dan menyetel saluran televisi mengenai olahraga. Setelah itu, bermain ponsel dan mencari tahu di internet mengenai apa saja yang harus dilakukan pada kehamilan. Sesekali aku memasak makanan yang menarik, tetapi tidak kumakan dan hanya tersajikan di meja. Sasha bisa menghabiskannya, karena sepulang sekolah pasti akan terasa lapar. Aku ingin ke luar dari apartemen, tetapi Sasha pasti memarahiku jika tahu akan hal itu.


Tibanya dia pulang sekolah, lagi-lagi pipinya dihiasi lebam. Terlebih, seragamnya berantakan dan tidak menampilkan anak teladan seperti biasanya.


"Ulah Tristan lagi?" tanyaku seraya menghalangi jalan ke kamar pribadinya. Tanpa menjawab, dia mengelus pipiku dengan punggung tangan, lalu menerobos begitu saja ke dalam kamarnya. Aku pun berbalik dan melanjutkan, "Dia pasti akan terus begitu padamu. Jadi, biarkan aku pergi ke sekolah besok."


Sasha yang hendak menarik gagang pintu, menjadi mematung dan menoleh. "Bukankah aku sudah bilang tidak boleh ..."


"Tidak." Aku menyelanya. "Aku tetap ingin ke sekolah esok. Rahasiakan ini pada kedua orang tuamu. Lagi pula, aku baik-baik saja untuk beraktifitas berat."


"Lia ..."


"Sasha," Lagi-lagi aku menyela. "Dia tidak akan berhenti memukulimu jika aku tidak menegur langsung. Apa kamu mau bertengkar seperti ini terus?"


Teringat olehku bagaimana brutalnya Tristan menghajar Sasha dahulu dan mungkin tidak jauh beda dari sekarang. Seharusnya dia menjaga sikap jkia tahu benar aku menikah dengan Sasha, tidak seperti Hana yang berpikir kami telah berpacaran di luar batas.


Pada akhirnya, di esok hari aku sungguh-sungguh berangkat ke sekolah yang tentunya Sasha menempel padaku untuk berjaga-jaga. Sebenarnya, sikapnya itu lumayan berlebihan, tetapi tak apa.


Setibanya kami berdua di kelas, tiba-tiba saja sebuah tinju melayang ke arahnya sampai terpelanting ke belakang. Pelaku dari aksi tersebut tentunya adalah Tristan dan aku langsung menjeritkan namanya sampai dia mematung.


"Lia, kamu tidak apa-apa?" tanyanya begitu khawatir sembari memegangi kedua bahuku. "Setiap hari, aku gelisah sekali karenamu!"


"Hentikan," sergahku dengan mengernyit dan membantu Sasha bangkit. "Aku sama sekali tidak menyukai tindakanmu ini, Tantan." Aku pun berbicara pada Sasha, "Kamu tidak apa?"


"Ya, selama beberapa hari diperlakukan seperti ini, tidak apa," sindir Sasha dalam melirik Tristan.


"Jangan ulangi hal ini lagi jika kita masih berteman," lanjutku pada Tristan tanpa menatapnya.


Tristan mematung dalam melihatku bangkit bersama Sasha, lalu menduduki bangku masing-masing dengan suasana hati buruk. Kuharap, mengira ucapanku tadi bisa membuatnya berhenti melukai Sasha.


"Lia ..." Hana memanggilku dengan muram. "Apa yang kuketahui, itu benar?"


Aku tahu maksudnya, yakni mengenai perutku. Kuberikan senyuman padanya dan wajahnya tampak bertambah seperti mendung. Berkesan mengecewakan, tetapi aku tidak tahu harus memberinya respons bagaimana lagi.


Selama pembelajarannya, otakku kurang fokus dalam memerhatikan setiap penjelasan guru. Terkadang, memainkan pensil dengan diletakkan di antara hidung dan bibir, atau memainkan penghapus dan menyusunnya sampai menjadi piramida. Aku bahkan baru menyadari bahwa memiliki banyak cadangan penghapus. Sampai akhirnya, aku tidak sadar jika tibanya waktu istirahat dengan diingatkan oleh Sasha dan akhirnya kami pergi bersama ke kantin.


"Aku membawakanmu bekal," ucapnya sembari menunjukkan kotak kecil di hadapanku.


Dengan bingung, aku bertanya, "Di kantin banyak makanan, untuk apa repot-repot bawa bekal?"


"Nutrisimu perlu dijaga."


"Kenapa begitu? Apakah aku terlalu kurus sampai dikatakan seperti itu?" Aku reflek memandangi seluruh tubuh. "Sepertinya ... iya."

__ADS_1


"Maksudku ..."


Perkataan Sasha terpotong saat sebuah tangan menarik tanganku. Sontak, kami berdua menoleh ke belakang dan akhirnya tersangkalah Tristan tengah menatapku lekat-lekat.


"Kita perlu bicara, Lia." Wajahnya menampilkan keseriusan tanpa keceriaan secuil pun. "Kumohon."


Sasha mencengkram pergelangan Tristan, mengkode untuk melepaskan tanganku. "Bicaralah cepat."


"Aku hanya ingin bicara berdua," balas Tristan dengan sorot mata permusuhan.


Sontak, aku melepaskan tangan mereka berdua dariku. "Baiklah," balasku pada Tristan, kemudian menatap Sasha, "Aku mau berbicara dengannya sebentar. Tunggu aku di kantin."


Akhirnya, aku dan Tristan pergi ke koridor yang lumayan tidak banyak anak berlalu-lalang. Selama seperkian detik, dia hanya terdiam, seperti mempersiapkan kata-kata yang akan dikeluarkan.


"Apa? Cepat katakan," kataku yang tidak sabaran.


"Sikapmu jahat sekali padaku." Matanya berkaca-kaca dan mulai menunduk. "Melihatmu membela Sasha, sepertinya hubungan kalian baik-baik saja."


"Sangat baik-baik saja," timpalku. "Tidak ada yang mau dikatakan lagi? Kalau begitu, aku akan pergi ..."


Ketika aku berbalik badan untuk pergi, seketika sebuah tangan melingkar di bahuku dan membuatku berhenti melangkah.


"Aku ... aku kurang apa, Lia? Sampai sekarang, tidakkah kamu mau menerima cintaku? Bahkan, aku tetap menerimamu meski dalam kondisi seperti ini," ujar Tristan di dekat telingaku. Suaranya terdengar dalam kesedihan, tetapi aku justru tidak merasa kasihan sama sekali.


"Lepaskan, Tantan. Jika ada orang, maka akan terjadi salah paham."


Serta merta aku menyentakkan diri dan berhasil terlepas.


"Bukan karenamu? Maksudmu ... ah yang benar saja. Isi otakmu sudah rusak, ya?" cemoohku dengan amarah tidak terkendali.


"Otakku sudah rusak sedari menyukaimu." Tangannya direntangkan ke arahku dan tersenyum. "Apa kamu tidak mau menerima cintaku? Semua yang kuperbuat untukmu, apakah tidak bisa diberi balasan dengan kasih sayangmu?"


Menjengkelkan. Aku tahu jika dia menyukaiku, tapi hatiku sama sekali tidak menerima cintanya dan tidak bisa dipaksakan juga.


"Aku selalu mendapatkan apa yang kumau. Apa pun itu," lanjutnya dengan kedua alis terangkat. "Tapi, hanya kamu yang tidak bisa kudapatkan. Tolonglah, Lia, penuhi keinginanku untuk mendapatkanmu."


Dahiku mengerut. "Apa yang kamu maksud dari mendapatkanku?"


"Semuanya ... cintamu, kasih sayangmu, belas kasihmu .... bahkan tubuhmu ..."


PLAK!


Tanganku otomatis menamparnya setelah mendengar ucapan terburuk yang pernah kudengar. Sungguh mengecewakan, teman lama yang kusayangi, kini berperilaku kurang ajar di hadapanku.


"Gila ..." gumamku dengan menggeleng kepala dan berjalan mundur.

__ADS_1


"Apa kamu tahu, Lia? Para gadis yang pernah merundungmu telah kuberi pelajaran sampai cacat," ucapnya dengan mengelus bekas tamparan. "Bahkan, aku rela mengancam dan menewaskan satu bawahan ayahku agar aku bisa menemanimu di negara yang kurang nyaman ini."


Mataku mulai membelalak kaget.


"Kemudian, bajingan bernama Ricky yang pernah mengotorimu itu ... sudah kubereskan dengan tanganku sendiri. Ironis, bukan?"


"Apa?" Aku mulai menolak untuk memercayai. "Jangan mengada-ngada!"


"Jika aku mau, bisa saja kusingkirkan suami sialanmu itu," sambungnya lagi. "Tapi, pasti akan berujung tangisan parah darimu akibat kehilangan hal yang tidak berguna. Aku tidak ingin melihatmu sedih, maka karena itu kuurungkan niatku akan hal tersebut."


Remaja sepertinya sudah berpikir layaknya psikopat. Benar-benar tidak terpikirkan olehku selama ini.


"Apa aku harus menggunakan metode ancaman untuk mendapatkanmu?" Wajahnya memelas, tetapi tidak seperti natural. "Namun, itu adalah perbuatan terpaksa dan aku kurang menyukai ketidaktulusan."


"Aku hanya tulus dalam berteman denganmu," selaku buru-buru dengan wajah tegas. "Ingat batasanmu, Tantan. Jangan berpikir di luar otak!"


Dia tertawa kecil. "Mencintaimu selalu membuatku berpikir di luar otak, Lia!"


"Tidak, itu bukan cinta!" sergahku buru-buru. "Itu obsesi! Kamu butuh psikolog, bukan aku!"


Sekarang, aku mulai merasa takut. Namun, aku harus menahan perasaan ini demi tidak membebani pikiranku.


Kedua tangannya terjatuh setelah tidak mendapatkan balasan saat direntangkan untuk mengharapkan pelukan. Tristan mengibas rambut depannya, lalu menjambak dan memasang wajah frustrasi.


"Obsesi katamu? Jika aku begitu, sudah pasti dirimu akan celaka karenaku," ujarnya dengan raut muka sedih.


Mendadak, seseorang hadir dan berdiri di depanku sampai menghalangi pendanganku dengan Tristan.


"Maaf. Sedari tadi aku mencuri dengar obrolan kalian dari ceruk dinding dalam bersembunyi," ucapnya, yakni Hana.


Sejujurnya, aku lebih mengharapkan kehadiran Sasha.


Dia mulai menggenggangam dan berbicara pada Tristan. "Terima kasih karena sudah menahan pikiran gilamu dalam menyukai Lia begitu dalam. Tapi, sebelum kamu melewati batas, tentunya aku akan menjadi penghalang."


"Tahu apa dirimu sampai mengatakan hal itu?" Tristan memasang wajah masam dalam menatapi Hana.


"Apa pun yang kutangkap dari perkataanmu semuanya, aku tetap berpihak pada Lia untuk menjauhkanmu yang jelas-jelas sedang bertepuk sebelah tangan," tegas Hana yang padahal nasibnya sama seperti lawan bicaranya. "Jika kamu masih mau berteman dengan temanku ini, jagalah sikapmu dan renungkanlah baik-baik."


Kepala Hana menunduk dan mungkin tengah mengingat kejadian sama yang menimpanya.


"Ayo kita pergi, Lia. Sudah bagus bukan Sasha yang membawamu pergi. Jika tidak, pertengkaran akan hadir seperti sebelum-sebelumnya."


Kami berdua pergi dan setelah melangkah jauh, aku mencoba menoleh ke belakang yang di mana Tristan tengah menatap ke atas tanpa ekspresi.


Apakah dia merenungkan kesalahannya atau justru merencanakan dalam melanjutkan perasaan paksanya tersebut?

__ADS_1


- ♧ -


__ADS_2