Oh My Love

Oh My Love
Belajar Bersama


__ADS_3

Pada malam hari di mana menjadi masa untuk belajar, aku melihat jadwal try out yang membuatku tercengang. Minggu depan, tepatnya hari pertama adalah mata pelajaran bahasa. Salah satu pelajaran yang membuat nilai rata-rataku hancur.


Sungguh, aku tidak mengada-ngada. Pelajaran yang dianggap mudah oleh semua orang, justru membuatku berpikir keras bila sudah berhadapan dengannya. Dari segi artian, susunan rumus, definisi, semua itu menyusahkan. Aku lebih baik bertemu angka-angka aljabar daripada kosakata baru. Jika hal tersulit seperti ini menjadi ujian, maka aku harus belajar lebih lama dan sematang mungkin. Ah ya, aku butuh bantuan.


Kuputuskan untuk memeluk buku pelajaran memusingkan ini, lalu pergi ke luar kamar. Seisi ruang utama apartemen tidak ada orang yang aku cari. Sasha pasti mendekam dalam kamarnya dan tidak tahu sampai kapan dia muncul jika aku menunggunya dengan duduk di sofa.


Dengan mengumpulkan keberanian, aku berdiri di depan pintu sembari menarik dan menghela napas sebagai pertahanan ketenangan. Baru saja aku mengangkat tangan untuk mengetuk, seketika pintu ini terbuka dan menampilkan sang empu yang menatapku dengan datar.


Serta merta kutarik tangan ini dan menyambutnya dengan menyeringai kaku seraya berkata, "Hai. Boleh aku minta tolong sesuatu?"


Sasha menyandarkan bahunya di sisi pintu sembari menaikkan sebelah alis tanda menyuruhku melanjutkan kalimat.


"Lihat ini." Aku menunjukkan buku paket bahasa kepadanya. "Bisakah aku meminjam rangkuman milikmu untuk mempelajarinya?"


Awalnya aku mengira dia akan menutup pintu sebagai anda penolakan, atau barangkali sukarela mengambilkan catatannya untukku. Dia pun menggeser posisi tubuhnya dan mempersilakanku masuk.


"Masuk ke kamarmu?" tanyaku dengan terperangah tidak percaya. "Bisakah kita belajar di sofa saja?"


Tangannya pun menunjuk ke arah dalam kamar dan aku sontak melihat sebuah tumpukkan buku di atas meja kecil pada tengah-tengah ruangan.


"Ambilkan semua buku-buku itu, maka kita akan belajar di sofa," ucap Sasha yang membuatku tambah terperangah. Enak saja.


Dia mau aku mengambil buku-buku itu, lalu seusainya kami belajar maka aku juga yang akan mengembalikkan di tempat semula?


"Bisakah berikan aku satu catatan saja?" Aku menatap Sasha dengan jengkel.


"Tidak, aku juga butuh," jawabnya singkat. "Kalau kamu mau, cari saja di tumpukkan itu. Tapi, aku akan memintanya kembali lima menit lagi."


Aku mendengus karena kesal jika dia sebenarnya ingin mempermainkanku.


"Bagaimana jika kita belajar bersama saja?" usulku dengan wajah sama datarnya oleh Sasha.

__ADS_1


"Itulah jawaban yang kutunggu," balasnya seraya berbalik badan, lalu mengangkut semua buku-buku tersebut menuju meja depan sofa.


Padahal, aku hanya butuh satu catatan. Namun, dia mengambil buku sebanyak itu untuk mempelajari apa? Kuhampiri Sasha yang telah duduk di sofa dan langsung terlihat buku bersampul coklat dengan tulisan 'catatan bahasa'. Serta merta aku mengambil buku tersebut dan membukanya untuk membaca secara sekilas. Akhirnya, tidak sesuai dugaanku.


"Isinya tidak jauh beda dengan buku paket," gerutuku dengan menyembunyikan rasa takjub akan tulisan Sasha yang sangat rapi.


"Maka karena itu aku mengajakmu belajar bersama. Semua pelajaran tidak bisa kita pelajari dengan sekadar membaca materinya saja." Sasha mengeluarkan dua pena dari tempat pensilnya. "Penjelasan dalam menjabarkan materi tersebut, itulah kuncinya."


Setelah mendengarkan ucapannya tersebut, aku terduduk di sofa sembari menerima pena yang dia sodorkan.


"Jadi, kamu akan menjelaskan pelajaran bahasa ini?"


"Tentu, jika kamu mau mengajarkan lebih lanjut cara alternatif dalam penyelesaian bab fisika yang tadi kupelajari," balasnya dengan senyum licik.


Rupanya, dia ingin melakukan pertukaran. Lumayan menyebalkan, tapi setimpal dengan kebutuhanku padanya.


"Baiklah, mari kita lakukan," kataku dengan memutar pena ala spinner.


Kami pun duduk pada sofa yang berbeda secara berhadapan untuk bergantian menjadi guru masing-masing. Sejujurnya, aku kesulitan dalam memahami penjelasan Sasha yang singkat, padat dan tidak jelas. Bahkan, dia perlu mengulangi lebih dari tiga kali agar aku memahami dengan sempurna.


Spontan aku mendesah keras akibat merasa suntuk. "Dunia sastra cukup menyulitkan. Bahkan, sampai sekarang aku tidak bisa memilah sinonim dan antonim pada kosakata yang tidak pernah kita gunakan dalam keseharian."


"Kamu bisa minta penjelasan pada Hana, mungkin dia lebih baik dariku," balas Sasha seraya menutup buku catatannya.


Kepalaku mengangguk pasrah. "Ya, semoga saja Hana bisa, karena dia peringkat kedua setelahmu. Apa aku meminta penjelasan pada Kak Kaivan saja, dia adalah kakak kelas yang sudah pengalaman dengan soal-soal try out kelas dua?"


Seketika Sasha membuka kembali buku catatan tersebut. "Biar aku lanjutkan materi ini sampai kamu memahami di luar otak."


"Huh? Bukankah katamu lebih baik aku bertanya pada Hana?"


Matanya melirikku dengan sinis. "Tidak perlu."

__ADS_1


Semakin lama, kepalaku seperti keluar asap tebal akibat terlalu panas dalam berpikir. Aku pun lupa membawa penjempit rambut karena sedari tadi kedua sisi poni menjuntaiku selalu menganggu penglihata. Maka karena itu, aku iseng melepaskan tutup pena milik Sasha dan menjadikannya sebagai penjempit rambut sementara waktu.


"Kenapa menggunakan tutup penaku untuk rambutmu itu?" Sasha menyadari bahwa kepemilikannya sedang terpinjam tanpa izin.


Karena aku kesal dengan nada bicara ketusnya, kuputuskan untuk memunculkan suasana komedi dengan cara memegangi sebelah pipiku dengan satu tangan. Kemudian, aku tersenyum dan berkata, "Jika begini, bukankah kamu bisa lebih jelas dalam memandangi wajahku?"


Oke, ayo cepat tertawa! Aku lelah melihat wajah datarnya bagaikan triplek kering. Akan tetapi, alih-alih tertawa, dia justru mematung dalam melihatku. Astaga, dia pasti menganggapku manusia aneh! Lawakanku menjadi gagal total!


"Lupakan perkataanku tadi. Aku hanya terganggu dengan rambut ini, jadi aku menjempitnya dengan penutup penamu. Boleh, 'kan?" tanyaku dengan senyuman canggung.


Sasha hanya menggeleng pelan sembari memegangi pelipisnya. Jika tahu reaksinya seperti itu, maka aku tidak perlu mempermalukan diriku sendiri!


Dua jam telah berlalu dan aku tidak mendapat giliran dalam menjadi pemberi penjelasan untuk Sasha. Sedari tadi, dia sibuk memberiku penerangan hingga aku sedikit mulai memahami. Ya, hanya sedikit, semoga saja dia tidak kecewa.


"Mari selesaikan ini, sudah waktunya jam tidur," ucap Sasha dengan menutup buku miliknya. "Esok kita lanjutkan."


"Baiklah, terima kasih," kataku seraya ikut bangkit dan membereskan tumpukkan buku-buku yang tidak berguna ini. "Akan kubantu kamu membawa buku-buku ini."


Tanpa basa-basi lagi, kami berdua mengangkut tumpukkan buku-buku bersamaan dan aku lebih dulu memasuki kamar Sasha sesuai perintahnya.


"Masukkan ke rak buku, jangan meja belajarku," pinta Sasha dengan wajah yang tertutupi oleh buku-buku dibawanya.


Kesialan menimpaku. Tidak sadar bahwa ada sebuah karpet bundar besar di ruangan Sasha dekat rak buku. Alhasil, aku terpeleset bagaikan balerina. Beruntungnya, aku terjatuh di atas kasur meskipun tertimpa sedikit buku ke wajahku. Tidak sampai di situ, Sasha pun tersandung oleh buku yang kujatuhkan dan dia nyaris berakhir menimpaku. Refleknya begitu cepat dengan kedua tangan yang menopang tubuhnya di antara tubuhku.


Astaga, posisi kami sangatlah buruk!


Buru-buru Sasha bangkit dan aku kembali memunguti buku-bukunya. Kemudian, aku tata dengan rapi ke dalam raknya.


"Maafkan aku perihal tadi," bisikku tanpa mendapatkan tanggapan dari Sasha.


Setelah ke luar dari kamarnya dan aku memasuki kamar pribadiku sendiri, rasa malu masih menyelimutiku hingga membuat wajahku memanas begitu lama.

__ADS_1


Apa yang sudah kulakukan sejak tadi, benar-benar konyol!


- ♧ -


__ADS_2