Oh My Love

Oh My Love
Pertengkaran Kecil


__ADS_3

Pada akhirnya, kami menduduki kursi kayu panjang yang di mana dapat melihat sebagian wilayah wahana bermain. Sebuah sendal kelinci berwana kuning telah terpasangkan di kakiku seusai dibelikan oleh Kak Kaivan.


"Lia, kapan-kapan kita harus ke sini lagi," kata Kak Kaivan yang sedang menyandarkan diri pada punggung kursi.


Kepalaku mengangguk tanda senang dengan ucapannya.


"Kaivan?"


Serentak kepala kami mendongak ke sumber suara. Aku buru-buru berdiri karena terkejut ketika melihat Kak Karin sedang menatap kami dengan tidak kalah terkejut. Kedua tangannya melipat di depan dada yang tertutupi manset putih dan blazer hitam yang sangat cocok padanya.


"Karin, bagaimana kamu bisa ke sini?" Kak Kaivan menghampiri kekasihnya dengan wajah bingung.


"Kamu tidak perlu menanyakan hal itu," sergah Kak Karin dengan tatapan sinis ke arahku. "Lalu, siapa gadis ini?"


Aku menunduk sejenak sebelum mengatakan, "Maaf, Kak. Perkenalkan, aku Lia."


Satu alisnya terangkat dan membuat Kak Kaivan melanjutkan, "Dia adik tingkatku yang sudah kuanggap keluarga sendiri, Karin. Jadi, jangan berpikir terlalu negatif."


Kedua tangan Kak Karin melingkar di lengan Kak Kaivan, kemudian menjulurkan satu tangannya ke araku. "Kenalkan, aku Putri Karin. Seorang calon model dan pacar Kaivan."


Kusambut jabatan tangannya yang memberi kesan pongah.


"Ayo Kaivan, kita bersenang-senang selagi berada di sini," ucap Kak Karin yang merubah raut wajahnya dan nada bicaranya yang menjadi sedikit bersenandung.


"Baiklah, apa pun untukmu." Kak Kaivan mengelus pipi gadisnya, kemudian melirik ke bawah dan berkomentar, "Kamu masih memakai heels? Bukankah seharusnya diganti lebih dahulu jika ingin bermain ke dalam wahana ekstrem?"


"Tenang saja! Aku ada sepatu skets yang tadi kukenakan untuk pemotretan majalah anak-anak di sini."

__ADS_1


Pantas saja keberadaannya di sini karena faktor pekerjaan. Kukira sebelumnya, dia mengikuti kami dan menciduk dengan gaya ala sinetron. Dahi Kak Kaivan terurut pelan dan memandangiku sejanak.


"Lia, aku antarkan kamu pulang lebih dulu, ya?"


"Baik Kak. Terima kasih karena telah mengajakku ke taman hiburan seperti ini," jawabku dengan memaksakan senyuman lebar.


"Tidak perlu." Suara Kak Karin kembali terdengar ketus. Tangannya merogoh saku blazer dan mengeluarkan secarik uang berwarna biru ke arahku. "Ambil ini. Pesanlah taksi dan pulang."


Entah mengapa, aku merasa sedikit takut dengan ekspresi gadis cantik ini. Dia seperti menampakkan wajah permusuhan yang membuatku ingin lari terbirit-birit. Mungkin, rasa cemburu menyelimutinya akibat kekasihnya pergi bersama gadis lain.


"Jangan begitu. Lia harus kuantarkan pulang," sela Kak Kaivan yang menurunkan tangan gadisnya dariku.


"Waktu kita akan terpotong untuk berkencan, Kaivan," keluh Kak Karin dengan manja. "Kamu lebih memilih menemaninya daripada aku?"


"Astaga, Karin." Embusan napas berat terdengar dari Kak Kaivan yang mulai menatapku kembali. "Makanan yang sudah kubelikan padamu ada pada staf depan yang tadi kutitipkan secara sengaja. Nanti kita ambil."


"Ayolah Kaivan. Kamu tidak ingin mendengarkan apa kata kekasihmu yang cantik ini?"


Buru-buru aku menunduk pelan ke arah mereka dan mengatakan, "Aku bisa pulang sendiri, Kak Kaivan. Apa yang dikatakan Kak Karin adalah benar. Lagi pula, aku bisa mandiri dan tidak harus ditemani lagi."


Satu sudut bibir Kak Karin terangkat yang menandakan kemenangan atas permintaannya pada kekasihnya. Dia mengibas rambut panjang tersebut dan mengatakan, "Baiklah. Hati-hati di jalan, ya."


"Iya. Aku pamit."


Buru-buru aku melangkah pergi ke luar area bermain ini. Sebelum itu, kuambil beberapa belanjaan makanan yang telah dibelikan Kak Kaivan di staf penitipan.


Selama beberapa saat, aku menunggu kehadiran taksi yang tak kunjung lewat untuk memberiku tumpangan. Padahal, tadi Kak Kaivan cukup cepat dalam menemukan kendaraan di toko coklat tadi. Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya aku mendapatkan taksi untuk pulang ke apartemen.

__ADS_1


Tiba-tiba, mulutku terbuka lebar saat tak sengaja melihat ke arah monitor kecil JPS mobil di dekat sopir yang menunjukkan waktu sore menjelang malam. Aku benar-benar lupa waktu dalam bersenang-senang. Jadwal dalam membersihkan apartemen adalah hari ini dan Sasha pasti akan memberikan reaksi mengerikan padaku.


Sesampainya di unit apartemen, aku berkali-kali kuembuskan napas sebelum menerima teguran dari pasangan penghuni di sini. Terlihatlah Sasha yang sedang duduk bersandar di sofa sembari membaca buku pelajaran dengan sangat serius. Matanya mulai melirikku dari atas dan ke bawah, lalu meletakkan buku dari tangannya di atas meja.


"Dari mana saja?" tanya sembari meletakkan satu tangannya di atas punggung sofa. "Apa itu belanjaan sekunder pribadimu? Sudah kubilang, jangan pernah menghamburkan uang untuk ..."


"Cukup, Sasha," selaku seraya melepaskan sendal dan meletakkannya di rak sepatu. "Tadi, aku menghabiskan waktu bersama Kak Kaivan dan semua belanjaan ini dibelikan olehnya. Dia begitu royal dan tidak pernah mempermasalahkan uang yang dikeluarkan padaku."


"Sekarang, kamu justru membandingkanku dengannya?"


Aku menatapnya kesal karena bukan itu yang kumaksudkan dari perkataan tadi. "Sudahlah, jangan membahas hal ini."


Aku pergi ke bagian dapur dan memasuki semua coklat sekaligus makanan sisa yang tadi kumakan di wahana. "Apakah aku tidak boleh bersenang-senang? Masalah memberisihkan apartemen, aku bisa menebusnya esok hari."


Terdengar suara decakan kecil dan Sasha membalas, "Apakah kamu tahu jika ayah dan ibuku datang kemari?"


Sembari menutup pintu kulkas, aku mematung dalam menatapnya. Gawat, aku sudah melakukan kesalahan besar di saat-saat penting. Kedua mertuaku sudah sangat lama tidak mengunjungi apartemen kami. Mereka pasti kecewa karena tidak disambut olehku.


"Mereka terus-menerus menanyakan keberadaanmu. Aku menjadi bingung untuk menjawab dan terpaksa berbohong dengan mengatakan jika kamu ikut ekstrakulikuler tambahan," ucap Sasha ketus. "Lain kali, izinlah padaku. Lakukan sedikit tugasmu sebagai seorang istri."


Aku mendesah kasar tanda kesal dengan ucapan terakhirnya. "Menjijikkan. Aku baru saja ingin meminta maaf. Tapi, mendengarmu menyatakan bahwa aku adalah istrimu, kamu sama sekali tidak mencerminkan diri sebagai suami."


Sasha menatapku tajam. Mulutnya ingin membalas perkataanku, namun terlihat berusaha menahan diri.


"Sebaiknya kita mencoba menghampiri orang tuamu untuk menebus kesalahanku," ucapku sembari membuka pintu kamar dan memasukinya. "Hentikan percakapan ini, jangan diperpanjang lagi, Sasha."


Pintu tertutup dan aku menjadi bergetar hebat dalam memegang gagang besi. Punggungku bersandar di pintu dan menatap langit-langit dengan pasi. Apa yang sudah kukatakan pada Sasha sangatlah buruk. Begitu ketus dan tidak sopan. Aku menyesali sikapku yang secara spontanitas ini. Harusnya aku diam dalam mendengarkan ucapannya. Jika seperti ini, hubungan kami semakin terasa dingin. Jangankan disebut sepasang suami istri. Dikatakan sebagai teman sangat tidak pantas bagi kami. Benar-benar komunikasi yang hancur.

__ADS_1


Aku benar-benar harus bersabar dalam menjalani hidup seperti ini.


- ♧ -


__ADS_2