
Pergantian OSIS secara resmi sudah usai. Segala hal menganggu dan tidak disetujui sebagai tata tertib sekolah, telah digantikan dengan yang terbaik. Semoga saja kenakalan di sini akan berkurang drastis.
Secara mengejutkan, organisasi baru ini mengadakan study tour yang di mana kabarnya menggunakan uang kas begitu banyak dari angkatan terdahulu. Dengar-dengar, kepala sekolah yang pelit dan sekarang tengah berkabung telah melarang OSIS mengeluarkan dana dengan alasan tidak boleh berfoya-foya. Intinya, kami akan karyawisata!
"Baiklah, mari konfirmasikan diri untuk ikut study tour," ucap ketua kelas yang berdiri di depan sembari membawa lembaran kertas. "Angkat tangan yang tidak mau ikut."
Jika ada yang menolak kegiatan gratis ini, bukankah sangat aneh?
Satu orang mengangkat tangan di bangku belakang dan berteriak, "Aku tidak ikut!"
Rupanya Kai. Setelah dia mengucapkan hal itu dan namanya hendak ditulis, seketika Ashley menjitak kepalanya.
"Jangan bicara sembarangan. Kamu tetap harus ikut!"
Keributan kecil pun dimulai hingga membuat ketua kelas menjadi pusing. Aku pun menoleh pada Sasha, dan dia memberiku senyuman. Meskipun dia menyatakan kami berpacaran dan bersandiwara menjadi laki-laki yang melayani gadis dengan baik, rasanya aku mulai terbawa perasaan padanya.
"Hei Tristan, mau pergi ke mana?" tanya ketua kelas yang membuat seisi kelas terfokuskan ke arah pintu.
Tristan hendak ke luar kelas dengan membawa ranselnya di satu bahu. "Aku tidak ikut tour ini."
Wajahnya menampilkan rasa tidak semangat dan aku tahu bahwa dia seperti itu karenaku. Akhir-akhir ini, aku menjadi cuek terhadapnya karena mulai merasa takut akibat hal terdahulu. Walaupun aku berpikir bahwa Tristan pasti tidak akan mengulangi hal itu, tetapi tetap saja aku merasa tidak nyaman di dekatnya.
"Apa alasannya?" Ketua kelas bertanya lagi. "Duduklah. Buat apa membawa tasmu? Sekarang bukan waktu untuk pulang."
"Tristan, aku akan memberimu banyak snack apabila ikut tour ini!" sahut gadis lain.
"Kamu harus ikut, biar kelas kita terlihat asik, Trist!"
"Wah, bintang kelas ini tidak ikut? Pasti kurang asik," sahut yang lainnya.
Ketua kelas menunggu jawaban dari Tristan yang memandangnya secara malas. Kemudian, dia menatapku dengan pasi.
"Tantan, ikutlah," ucapku di sela-sela sahut-sahutan gadis lain.
Reaksi Tristan menjadi cerah, bibirnya merekah dan seperti menemukan hal yang menggembirakan.
Ketua kelas mengurut kepalanya dan bertanya, "Jadi gimana, kamu ikut tidak, Tristan?"
"Ya, aku ikut!" balas Tristan dengan tegas.
Sejujurnya, aku menjadi sangat tidak tega dengan tampang putus asanya. Terkadang, Tristan pulang lebih cepat garis miring bolos. Setiap kali aku tidak menggubris sapaannya, dia mulai bersikap sedikit agresif pada para penggemarnya.
Satu info penting, aku sama sekali tidak menceritakan kejadian kami berdua pada Sahsa maupun Hana. Biarkan itu menjadi rahasia tersendiri.
Pada akhirnya, kami semua setuju untuk pergi tour yang di mana akan menghampiri taman puncak tepatnya di luar kota. Menurut tebakan asalku, mungkin Tristan tidak mau ikut dengan alasan kurang menarik dari pada liburannya yang cukup mewah.
__ADS_1
Sepulangnya aku di apartemen, Hana menghubungiku dengan video call pada ponsel. Akhir-akhir ini, dia selalu memojokkanku untuk bertanya di mana alamat rumahku sesungguhnya agar dia bisa bermain denganku di luar sekolah. Namun, tentunya aku tidak akan memberi tahunya karena terdapat Sasha. Oleh karena itu, aku memberikan nomor ponselku sebagai gantinya.
"Bawa apa saja, Lia? Apakah kita butuh jaket?" tanya Hana yang sedang mengemas-ngemas bajunya dalam koper dengan kebingungan. "Apakah bawa air mineral? Sepertinya akan memberatkan tas. Aku akan membelinya di toko-toko terdekat saja, deh. Astaga, aku menjadi suntuk karena barang-barang yang dikemas ini!"
Aku terkekeh sembari melipat rok yang akan masuk ke dalam koper. "Santai saja, Hana. Jangan pusing begitu."
"Kita akan bermalam selama tiga hari, bukan? Berarti, kita butuh enam pakaian!"
"Kenapa begitu?" Aku terkejut dengan perkataannya mengenai jumlah baju. "Hanya tiga hari, mengapa tidak membawa empat saja? Satu set pakaian untuk persiapan."
Hana menggeleng dan menyodorkan wajahnya ke ponsel. "Di puncak nanti, pasti lumayan kotor. Tanahnya juga sedikit becek, tidak seperti di perkotaan, Lia! Pakaian kita pasti cepat kotor."
Kepalaku mengangguk tanda memahami. Namun, aku tidak akan membawa pakaian sebanyak itu untuk memberatkan isi koper.
Mendadak, muncul panggilan video call dari Tristan. Aku mengangkatnya dan jadilah kami bertiga saling menghubungi.
"Hei, siapa itu yang menggunakan tank top dan rambut pendek?" tanya Tristan yang membuat Hana menjerit kaget dan langsung mematikan kameranya.
"Kenapa tidak bilang ada Tristan, sih?" Hana mengomel sebelum menghidupkan kamera kembali dan memakai cardigan sebagai penutup lengan seputih pualamnya. "Lia, jangan menertawaiku seperti itu!"
Sungguh lucu melihat reaksinya saat wajah imut Hana menjadi merah padam.
"Lia, kamu mempersiapkan apa saja? Apakah butuh sesuatu? Aku bisa membelikannya nanti. Apakah kopermu kekecilan? Apa kita harus pergi bersama untuk membeli camilan, persiapan obat-obatan, peralatan mandi, atau ..."
Terlalu banyak pertanyaan dalam satu embusan napas. Aku menjadi bingung untuk membalasnya.
Begitu bahagianya Tristan saat aku menanggapinya seperti normal. Seharusnya, aku tidak terlalu jahat juga dalam memperlakukannya begitu cuek sampai kemurungan menghadirinya.
Pintu kamarku tiba-tiba terbuka, menghadirkan Sasha yang paham akan situasi dan memberikan isyarat tangan agar aku menghampirinya.
"Aku ada urusan, sebentar," kataku sembari mengambil ponsel yang tadinya kuletakkan pada meja nakas dan untungnya tidak menghadap ke pintu.
"Mau melakukan apa, Lia?" Hana buru-buru melemparkan pertanyaan.
"Urusan apa? Mau kubantu?" sahut Tristan.
Secepatnya aku menekan fitur memutuskan hubungan dan langsung mematikan daya ponsel agar mereka tidak menghubungiku lagi.
"Ada apa, Sasha?" Aku mendekat padanya dan berbicara dengan lembut.
Biasanya, kami saling memberikan nada ketus karena masih ada hawa canggung dan tidak enak hati dalam kebersamaan. Mulai dari kejadian mengerikan lalu, kami menjadi sedikit lebih akrab dan kenyamanan pun hadir.
"Aku akan pergi berbelanja untuk tour nanti. Apa kamu mau ikut?"
Sikap Sasha mulai berubah drastis yang biasanya begitu cuek, kini begitu perhatian sekali padaku. Bahkan ketika hendak pergi, dia tidak luput memberi tahuku lebih dulu.
__ADS_1
"Aku ikut!" kataku riang dan langsung menutup pintu tanda sudah siap untuk pergi bersamanya. "Apa saja yang nantinya kamu beli?"
Sasha berpikir sejenak sembari memasukkan kedua tangannya dalam saku jaket jeans. "Obat-obatan dan camilan, mungkin."
"Baiklah. Sepertinya, aku juga butuh hal itu."
Kami pergi menggunakan taksi dan tiba pada mini market terdekat. Karena tidak ingin identitas Sasha terlihat oleh beberapa orang yang biasanya meminta nomor telepon secara sembarangan, dia menggunakan topi seperti idol yang sedang menyamar.
"Obat apa saja, Sasha?" tanyaku kebingungan dalam menatap rak obat-obatan.
"Bukankah kamu sering menjadi petugas kesehatan? Harusnya lebih tahu dari aku," balasnya dan aku menjadi teringat insiden mengerikan dahulu. Cepat-cepat Sasha menggenggam sebelah tanganku untuk memberi ketenangan dan berkata, "Maaf. Lupakan saja, kita beli plaster dan obat anti mabuk. Herbal anti masuk angin juga sangat penting."
Senyuman kutampilkan dan mengambil obat-obatan yang dia maksud dengan merk terbaik.
Sasha pun mengambil beberapa camilan seperti kripik kentang, kacang-kacangan, susu, permen dan popcorn untuk menemani perjalanan tour nanti yang pasti menggunakan kendaraan bus. Sepertinya, kami tidak perlu membeli coklat, karena pemberian Tristan masih banyak di kulkas.
"Baik, sekarang kita ke kasir." Sasha membawa banyak bungkus makanan dan minuman yang memenuhi kedua tangannya.
"Sepertinya, kita butuh keranjang, Sasha. Jangan membawa belanjaan seperti ini," kataku akibat khawatir.
Serta merta aku meletakkan obat-obatan dari tangan ke atas tumpukkan camilan bawaan Sasha, lalu pergi mengambil keranjang berroda. Setelah itu, aku membantu untuk memasukkan segala belanjaan yang sudah kami pilih ke keranjang besar.
"Masih ada ruang, apa kita sesuatu beli lagi?" Aku memperhatikan isi keranjang yang terlihat lumayan sedikit dari yang kami kira.
"Jangan terlalu boros, ini saja cukup." Sasha menggeser semua belanjaan ke pinggir keranjang dan menyisakan banyak ruang. "Bagaimana jika kamu saja yang memenuhi keranjang? Badanmu pasti muat."
Aku memandangi Sasha dengan kesal. "Aku bukan anak kecil, tau?"
"Tapi, badanmu sangat mungil," balasnya seraya meletakkan lengan pada pemegang keranjang untuk menopang wajahnya di atas tangan. "Masuklah. Apa perlu kugendong?"
"Jangan aneh-aneh," jawabku dengan cemberut. "Baiklah, baiklah. Aku akan naik. Sesekali saja."
Saat menaiki keranjang sebelum melihat keadaan aman ke kanan dan kiri. Tidak heran jika Sasha mengatakan tubuhku lumayan mungil dan muat memasuki keranjang.
Sasha terkekeh dan menjalani keranjang dalam mengelilingi blok rak belanjaan. Kami seperti bapak dan anak yang bermain-main. Mengambil beberapa camilan murah berukuran kecil-kecil, sedikit berlari untuk meningkatkan kecepatan keranjang, sesekali menghindar dari petugas mini market yang sedang berkeliling. Ini lumayan menyenangkan.
Dengan mengejutkan, tawa banyak orang telah terdengar yang membuat kami berdua sedikit panik dan menoleh ke sumber suara.
"Wah, kebetulan kita bertemu pasangan idaman di sekolah."
"Lia dan Sasha tampak romantis. Lihat, mereka tampak lucu di mini market ini."
"Rupanya, kalian benar-benar couple goals."
"Aku ingin memotret kelucuan mereka."
__ADS_1
Penyamaran Sasha tampak sia-sia. Kami ketahuan oleh gerombolan gadis-gadis yang dulunya penggemar Sasha. Untung saja mereka memberi reaksi positif pada kami. Namun, tetap saja kami harus buru-buru ke kasir dan pergi secepatnya agar tidak dilihat seperti ini lagi.
- ♧ -