Oh My Love

Oh My Love
Nyaris Terbongkar


__ADS_3

Jam weker berbunyi dan menganggu tidurku yang sudah menumbuhkan bunga tidur. Seketika terbesit dalam ingatanku mengenai tutup pena yang masih menempel di rambtku sampai kusut dan buku pelajaran bahasa berada di kamar Sasha. Gawat, Sasha adalah tipekal orang yang bitu sentimen dengan barang-barangnya. Bisa saja aku akan dimarahi hanya karena hal secuil ini.


Karena aku tahu bahwa waktu Sasha berangkat ke sekolah adalah jam bangun tidurku, serta merta aku ke luar dari kamar dengan memunculkan kepala saja.


"Sasha!" panggilku dan mendapatkan respons dehaman kecil dari dapur.


Dia yang sudah siap menggunakan seragam dan menbawa tas, kini tengah meminum segelas susu sekaligus mulai menaikkan sebelah alisnya. Dasar anak rajin, dia seperti ingin berlomba-lomba dengan satpam sekolah untuk menghadirkan diri.


"Tunggu sebentar, jangan pergi dulu!" pintaku, lalu kembali masuk ke kamar.


Kemudian, aku membereskan tempat tidur dan mandi menggunakan air hangat. Persiapan sekolah dari segi apa pun telah siap. Aku menyisir rambut di depan kaca rias dan merasakan seperti ada hal yang aku lupakan. Setelah memeriksa isi tas, aku memastikan tidak ada yang terlupakan untuk kusiapkan.


Usai semua itu, aku pergi ke luar kamar dan langsung ke dapur untuk sarapan dengan sereal sekaligus susu. Ketika aku hendak duduk di kursi, mulut ini nyaris berteriak saat baru sadar bahwa Sasha berada di sebelahku.


"Kenapa kamu bisa berada di sini?" tanyaku terkejut karena tidak wajar jika Sasha berada di apartemen bersamaku pada pagi hari.


"Apa lagi, ya tentu menunggumu," balasnya dengan wajah terheran-heran.


Aneh sekali pagi ini jika dia mau menungguku untuk pergi ke sekolah. Apakah kepalanya sedang terbentur sesuatu? Mungkin. Namun, rasanya menjadi sangat canggung jika aku sarapan ditemaninya seperti ini. Bahkan saat berangkat ke sekolah, dia juga ikut bersamaku. Mimpi apa Sasha semalam sampai bersikap 180° berbeda?


"Pagi Lia! Pagi juga Sa ...." Hana menyapa dengan riang, lalu berubah reaksi setelah melihat Sasha yang berada di sebelahku.


Kepalaku menggeleng pelan untuk mengkodenya tidak mempertanyakan apa pun karena bisa membuatku super malu. Tidak hanya Hana saja yang terheran-heran, anak-anak di sekitar kami pun sama halnya.


"Hei, kamu tidak sadar jika gadis-gadis di sekitarmu sedang memerhatikan kita?" bisikku dengan mata melotot.


"Ya, aku tahu," jawabnya tanpa merasa bersalah.


"Bukan itu! Aku juga sedang diperhatikan oleh mereka, tau?"


"Bukankah itu salahmu?" Sasha menyatukan kedua alisnya saat aku mulai merasa kesal.


Hana pun tidak mau ketinggalan info dengan memasang telinga sebaik mungkin dalam mendengar obrolan kami. Semoga saja dia tidak salah menanggapi.


"Apanya yang salahku? Ini salahmu, kenapa mendadak berangkat bersamaan denganku?" bisikku dengan geram.

__ADS_1


"Huh?" Sasha melipat kedua tangannya. "Bukankah kamu yang memintaku untuk menunggu sebentar tadi?"


Terbungkam sejenak ... lama dan berakhir mengingat pagi hari yang di mana aku memintanya untuk menungguku. Mulutku mendadak terperangah hebat ketika teringat jika ingin mengembalikkan tutup pena miliknya! Astaga, sudah pasti benda kecil itu tertinggal di kamar. Semoga saja tidak hilang. Oh ya, aku juga mau meminta bukuku kembali!


"Bukuku!" ucapku yang membuat Sasha terkejut. "Mana bukuku?"


"Oh, buku itu. Aku tidak lupa membawanya."


Tangannya pun merogoh-rogoh isi ransel dan memberikan buku yang kutunggu-tungu. Syukurlah!


"Bagaimana bisa buku Lia ada padamu, Sasha?" ucap Hana penasaran.


JLEB!


Bagaikan tertusuk oleh panah bertubi-tubi hingga membuatku bersama Sasha terdiam membeku. Kami mematung di depan koridor ketika hendak memasuki gedung sekolah, sampai-sampai tidak sadar jika menghalangi jalan masuk. Ini sungguh parah, kami melupakan keberadaan Hana. Ingin sekali aku berteriak karena malu untuk ke sekian kalinya.


"Oh, buku ini dikumpulkan untuk ke wali kelas. Aku lupa mengembalikkannya ke Lia, dan sekarang baru kulakukan," dusta Sasha yang pastinya sedang berusaha membangun waja datarnya kembali setelah terkejut.


"Itu benar! Ini buku yang dikumpulkan," sahutku seraya menggoyang-goyangkan buku di tanganku kepada Hana.


"Oh, seperti itu. Tapi, kenapa bukuku tidak dikumpulkan juga?" balas Hana dengan semakin kebingungan.


Dia melenggang pergi dengan sesantai mungkin, meskipun aku tahu bahwa dia ingin menghindari pertanyaan Hana yang akan terlontar terus menerus.


"Hai, Lia!" sapa Tristan yang muncul dadakan dengan menyempil di antara Hana dan aku.


Tanganku sontak menutup mulutnya yang sedang memanyunkan bibir di kala ingin menciumku pipiku sebagai sapaan.


"Ah, kamu terlalu jahat karena tidak menerima ciumanku. Aku kan hanya mengecup pipimu," gerutu Tristan dengan memasang wajah kecewa buatan.


Hana berpindah tempat untuk berjalan di sisi lain sebelahku. Sudah pasti dia menjadi jengkel pada tingkah Tristan.


"Aku melihatmu berangkat bersama si muka datar berhawa es itu. Sungguh, aku tidak suka, Lia," ucap Tristan sembari merangkulku. "Kenapa tidak bersamaku saja?"


"Maksudmu Sasha? Tidak, aku tidak berangkat bersamanya kok, Tantan," jawabku dengan berdusta dan tidak bisa menutupi wajah kebohongan ini.

__ADS_1


Tristan menunduk untuk menyamaratakan tinggi kami dan menatapku dengan mengerutkan dahinya. "Benarkah? Tapi, tadi aku mencoba menjemputmu dari apartemen, lalu melihat kalian berdua keluar secara bersama-sama."


GAWAT!


Aku merasa seperti diinterogasi hingga detak jantungku melonjak cepat. Hana pun tidak kalah ingin tahunya dalam menungguku untuk menanggapi pertanyaan Tristan. Menyebalkan, ke mana Sasha yang seharusnya membantuku untuk menghindar dari dua orang ini?


"Aku baru tahu jika Lia tinggal di apartemen," celetuk Hana yang ikut menatapku dengan tercengang. "Kenapa kamu tidak pernah cerita, Lia?"


Astaga, aku dihujani pertanyaan yang sulit untuk kujawab! Ini begitu menyusahkan, bahkan melebihi ujian bahasa tahun kemarin.


"Kalian terlalu banyak bertanya, aku menjadi bingung!" sergahku buru-buru. "Sudahlah. Aku dan Sasha hanya kebetulan. Baiklah, aku mau masuk ke kelas lebih dulu."


Setelah melihat tempat yang tertuju, aku berlari memasuki kelas dengan berusaha memasang ekspresi setenang mungkin. Secepatnya aku duduk di bangku dan membuat mataku melirik otomatis ke arah Sasha yang sedang membaca buku.


"Lia, kenapa buru-buru? Kita kan sekelas." Hana sampai pada bangkunya dan melemparkan pertanyaan yang membuatku lagi-lagi merasa malu.


Kenapa aku menjadi mendadak pelupa? Dengan begini, begitu terlihat sekali aroma kebohonganku.


"Astag, Lia menjadi terburu-buru," keluh Tristan yang ikut duduk di bangkunya.


Ketika aku mencoba melirik Sasha lagi, dia menjadi menutupi seluruh wajahya dengan buku, seakan-akan mengkode untuk tidak ingin ikut campur dalam hal terpojokkan oleh Hana bersama Tristan. Bukannya membantu, dia justru menghindar. Mengesalkan saja.


"Tristan, aku ada hadiah untukmu!"


"Hai, ini bento yang khusus kubuatkan. Tolong dimakan."


"Halo, bisa kita kenalan?"


Tiba-tiba, Tristan terkerumuni oleh gadis-gadis yang menyerahkannya beberapa hadiah. Sepertinya, akan ada murid populer terbaru yang menyaingi Sasha. Namun, mereka berdua begitu berkebalikan dalam menyambut penggemar.


"Baiklah gadis-gadis, ayo mundur dua langkah!" Tristan pun berdiri dari kurai dan mengibas-ngibas kecil tangannya ke arah gadis-gadis yang mengelilinginya. "Jam pelajaran akan dimulai. Maka karena itu, letakkan hadiah kalian di bawah bangkuku dan nanti akan kita lanjutkan obrolan ini ketika jam istirahat!"


Sebuah peace sign, atau dua jari merapat yang ditempelkan ujungnya pada pelipis, lalu memberi kedipan sejenak telah dilakukan oleh Tristan. Alhasil, gadis-gadis yang melihat itu menjadi heboh dan terkesima dengan pesona idola mereka. Akhirnya mereka ke luar dari kelas ini dengan keadaan masih salah tingkah atas sikap Tristan. Sudah kubilang, perilaku dalam menyambut penggemar begitu berbeda antara Sasha dan Tristan.


Baguslah. Dengan begini, aku beruntung bisa terhindar dari topik pembicaraan tadi. Jawaban yang sedari mereka tunggu, telah terhalangi secara total.

__ADS_1


Aku menebak, Sasha pasti menghela napas lega di balik buku yang dia pegang secara terbalik.


- ♧ -


__ADS_2