
Akhirnya, study tour pertama pada sekolah ini dimulai juga!
Semangatku begitu membara, sampai-sampai mengalahkan kerajinan Sasha yang biasanya bangun pagi-pagi buta. Koper dan tas berisikan camilan sudah kupersiapkan di atas sofa, lalu tinggal menunggu keberangkatan kami. Aku menggunakan kaos santai bercorak zebra dan rok jeans yang dipilihkan oleh Sasha, sedangkan dia mengenakan jaket kulit tebal dan celana katun karena katanya dataran tinggi pasti dingin.
Tibanya kami di sekolah dan langsung melihat tujuh bus sudah memenuhi jalanan depan sekolah. Keramaian akan anak-anak yang banyak berpenampilan heboh pun membuatku tambah bersemangat.
"Lia!" panggil Hana yang berlari ke arahku dengan crop top berwarna putih dengan bagian dalam hitam dan kulot putih. "Kamu cepat sekali datang ke sekolah."
Gayanya seperti turis sekali. Bahkan kepalanya dihiasi kacamata hitam, menambah kesan keren di mataku. Hana tanpa seragam, benar-benar memukau! Bagaimana bisa Sasha berteman dengannya sejak kecil, tetapi tidak terpikat sama sekali?
"Iya, aku terlalu bersemangat," kataku sembari menunjuk-nunjuk Sasha. "Dia juga sama semangatnya denganku."
"Begitulah," balas Sasha singkat.
Dari kejauhan, terdengar teriakan dalam memanggil namaku yang di mana pastinya adalah Tristan. Terlihat dia tengah kebingungan dalam terbanjiri gadis-gadis penggemarnya dan terhalangi untuk berjalan kepadaku. Hingga akhirnya, dia mengatakan sesuatu yang berhasil terlepas dari gerombolan tersebut.
Meski hanya mengenakan kemeja hitam dan celana jeans sobek-sobek, dia tetap saja tampak mempesona. Bahkan, Hana terpikat sampai tertegun melihatnya. Mungkin, kedudukan Sasha sebagai laki-laki terpopuler telah tergeser oleh Tristan.
"Di mana koper kalian berdua?" Aku menatap tangan kosong pada Hana dan Tristan.
"Aku sudah ada di bagasi bus. Sayang sekali, Lia jika kita berpisah bus." Hana memasang wajah cemberut. "Aku ada di bus pertama, dan kamu bersama Sasha telah kebetulan pada bus kedua."
Kepala kami semua menoleh ke arah Tristan yang sedang menggedik bahu. "Koperku dibawakan oleh gadis-gadis gila tadi."
Wali kelas kami pun muncul dan mulai menepuk-nepuk tangannya bertanda memberi koordinasi untuk memasuki bus secepatnya. Di sela kesibukan beliau, mendadak Tristan memeluk guru super galak tersebut dan meraung-raung untuk membujuk agar bisa sebus bersamaku.
"Diam kamu, Tristan! Pergilah sana, tempat duduk dan bus untukmu sudah diatur dengan baik," ujar Pak Guru dengan tegas.
"Tidak mau, Pak! Izinkan saya sebus bersama Lia, dahulu!" balas Tristan dengan memelas.
Semuanya berhujung sama. Tristan tidak berhasil sebus denganku, dan justru bersama dengan Hana. Sasha duduk bersamaku dan selalu memegangi tanganku agar menjaga citra kami di pandangan anak-anak sebagai pasangan palsu. Kuharap, seharusnya tidak begitu.
__ADS_1
Untuk menghilangkan kesuntukkan dalam bus yang berisikan anak tertidur, mual dan muntah akibat mabuk perjalanan, sekaligus suara berisik dari menyamil kripik-kripik, penumpang bagian belakang mulai melantunkan sebuah lagu hingga membangkitkan suasana asik. Bahkan, sang sopir pun ikut menikmati panduan suara kami.
Selanjutnya, bus berhenti tepat pada tempat rest area. Alasannya, semua bus mendapatkan keluhan dari anak-anak yang mendadak memiliki panggilan alam, lupa membawa camilan dan mabuk stadium akhir. Begitu sopir membuka pintunya, semua penumpang termasuk aku langsung menghamburkan diri dan berkeliaran di mana-mana.
Toilet yang begitu ramai dengan antrean, anak-anak yang berjejer di saluran air untuk muntah dan mini market yang sedang beruntung karena dipenuhi oleh tsunami pelanggan.
"Lia."
Aku menoleh ke arah panggilan tersebut saat berjalan menuju toilet dan melihat Sasha sedang berlari ke arahku dengan membawa dua kaleng soda, lalu memberikannya satu untukku.
"Hei," Kepalaku sedikit menunduk dalam menatap kaleng soda yang kuterima. "Padahal, anak-anak lain pada sibuk dengan sendiri-sendiri. Kenapa kamu masih memaksakan diri dengan berpura-pura seperti ini?"
Sasha membuka penutup kaleng dan berkata, "Tidak, aku tidak berpura-pura."
Ya, aku tahu kepeduliannya hanya sekadar rasa kasihan saat mental psikisku sedikit hancur. Akan tetapi, buat apa dia memaksakan diri dengan menjadi pacarku walau tidak dilihat mata anak-anak lain?
"Bus akan jalan, ayo kita masuk." Secara mengejutkan, Sasha meraih tanganku dan kami melangkah pergi menuju bus kembali.
Perjalanan mulai lanjut dan memakan waktu lama untuk sampai ke tujuan. Rasa suntukku mulai melanda hingga hadirlah kantuk yang membuatku tertidur. Hingga akhirnya, tidak sadar jika kami sudah tiba dan bus sudah sepi, tetapi aku tertidur di pundak Sasha.
"Maaf, maaf!" ucapku padanya, buru-buru bangkit dan langsung melihat ke depan yang di mana sang sopir sedang mamainkan ponselnya. "Kenapa tidak membangunkanku, Sasha?"
"Aku tidak tega membangunkanmu," jawabnya sembari memperbaiki tampilan pakaiannya yang kusut, lalu berjalan ke luar bersamaku.
Saat ke luar dari bus, terlihat pemandangan gedung berlantai empat dengan nuansa putih dan elegan, tapi tampak tua. Banyak tanaman hias yang merambat dan lentera tua. Sudah pasti, ini adalah penginapan kami semua. Syukurlah jika kami tidak tidur di dalam tenda yang kupikir akan menjadi acara camping.
"Astaga, Lia!" Mendadak, Tristan menderap dan memelukku dari samping. "Aku mencarimu ke mana-mana! Bahkan, anak-anak lain saja sudah masuk ke kamar mereka masing-masing."
"Oh ya, maaf. Aku tadi ketiduran," jawabku dengan tersenyum keki. "Lepaskanlah, Tantan."
Dengan sigap, dia melepaskan pelukannya. Rasanya sedikit aneh saat dia menurut begitu saja. Sedangkan dahulu, dia sulit diminta untuk melepaskan pelukan dariku atau bahkan kusuruh menjauh sedikit saja. Mungkin, dia benar-benar menyesal dan merasa takut bila aku bersikap cuek karena marah.
__ADS_1
"Lia!" Hana menghampiriku dengan mengacungkan sebuah kunci. "Aku mendaftarkanmu untuk sekamar bersamaku. Ayo, kita masuk!"
"Ayo, Lia. Masuk dan bereskan barangmu," sahut Sasha sembari membawakan koperku.
Tristan mulai merampas koper tersebut dari tangan Sasha dan mengatakan padaku, "Ada barbeque di taman belakang vila. Di sana ada kursi panjang buatmu berbaring dan beristirahat di bawah payung. Masalah beres-beres, nanti saja."
Sasha yang memiliki sifat perfeksionis menjadi geram. "Tidak, beres-beres dahulu. Sebentar lagi, kita akan berkeliling bukit dan semuanya harus dipersiapkan."
"Karena akan berkeliling, justru Lia harus beristirahat!" sergah Tristan dengan wajah kesal. "Lihatlah wajah Lia, dia tampak lelah dalam perjalanan."
"Jangan mengatur seenaknya!" Sasha tidak kalah kesal.
Karena sedikit pusing dengan perdebatan unfaedah dua laki-laki itu, Hana menarik tanganku dan kami memasuki lobi vila, lalu pergi ke kamar nomor 23A. Tidak perlu memikirkan koperku, karena salah satu dari pendebat tadi mungkin akan membawakan koperku, meski tidak tahu kamarku dan Hana.
"Mereka jauh lebih rempong daripada gadis-gadis di sini." Hana mulai menggerutu dan mengeluarkan bungkusan kecil aluminum foil berisikan kentang panggang beserta ayam bakar. "Ini untukmu. Memang benar kata Tristan, ada barbeque di belakang sana. Aku ambilkan untukmu sedikit."
Potongan ayam yang berlumur saos tersebut tertusuk oleh garpu dari Hana, lalu menyuap ke mulutku.
"Ayo beres-beres. Ikuti kata Sasha, dia benar-benar disiplin sekali," lanjutnya sembari membaringkan koper di lantai.
Saat dia menyebut nama Sasha, aku menjadi sedikit tidak enak hati.
"Hana," panggilku dan mendapatkan respons dehaman kecil darinya. "Maaf."
"Untuk apa?"
"Maaf karena telah berpacaran dengan laki-laki yang kamu suka." Kepalaku menunduk seraya membereskan isi koper dengan kurang fokus. "Aku ..."
"Pembahasan ini sudah pernah kita bicarakan, Lia." Hana bangkit dan meletakkan peralatan mandinya ke kamar mandi, lalu kembali kepadaku. "Jangan pikirkan aku. Fokuslah pada hubunganmu saat ini saja."
Aku merasa bahwa Hana akan memiliki kesempatan besar dalam mendapatkan Sasha, karena hubunganku adalah kepalsuan. Tapi, aku tidak terlalu yakin akan hal itu.
__ADS_1
- ♧ -