Oh My Love

Oh My Love
Kembali ke Penginapan


__ADS_3

Selama beberapa saat, aku tersadar dan melihat sekitaran bahwa sedang berbaring di atas kursi panjang dalam keadaan pakaian utuh. Api telah padam, cahaya mulai menerangi sekitar dan aku langsung bangkit lalu pergi ke luar dari gubuk. Terlihat Sasha yang sedang duduk berjemur di atas tanah, menatap ke arah danau dengan kelam.


"Sasha," panggilku dan dia langsung menoleh, kemudian berdiri menghampiriku.


Wajahnya enggan menatapku, memegangi belakang leher, seakan-akan sedang berbuat salah. "Hei, maaf soal tadi," katanya dengan penuh penyesalan. "Aku ..."


Aku menelengkan kepala dan melipat kedua tangan di bawah dada. "Wah, mimpimu pasti spektakuler sekali." Kulirik pakaianku yang pastinya sudah dikenakan olehnya. "Terima kasih atas pernyataanmu tadi. Aku jadi tahu jika kamu ..."


Tiba-tiba, Sasha memelukku dan bergumam, "Sudah, jangan bicarakan hal ini lagi. Aku semakin merasa bersalah." Diam sejenak, lalu melanjutkan, "Apa yang kulihat tadi, benar-benar nyata?"


"Ya," jawabku dengan letih. "Tak apa, berhentilah merasa bersalah seperti itu ..."


Tubuhku terasa pegal sejak terbangun, dan rasanya ingin beristirahat saja dari pada berjuang untuk ke luar dari daratan belantara ini.


"Ini sudah sore. Bisa kita pergi sekarang? Sebelum matahari tenggelam, kita harus kembali," ucap Sasha seraya mengenggam tanganku. "Sepertinya kamu kelelahan, aku memang salah. Seharusnya, tidak terjadi seperti ini ..."


"Sudahlah .... Sekarang, ayo angkat aku. Aku tidak kuat berjalan karenamu," kataku dengan nada jahil ang membuat Sasha salah tingkah.


"Baiklah," balasnya keki seraya berjongkok dan menampilkan punggung lebarnya untuk kunaiki. "Kita akan ke dermaga."


Spontan aku tercengang hebat. "Apa? Kita berenang di danau?!"


"Tidak, Lia," Sasha menahan tawa atas reaksiku. "Kita cukup melintasi pinggiran danau saja. Mungkin, akan memakan waktu lama. Maka karena itu, sebaiknya kita cepat."


Kepalaku mengangguk, lalu melihat ke arah kaki yang kini sudah bergelantungan akibat digendong. "Aku baru sadar jika sendalku hilang hanya sebelah. Sepertinya tenggelam di danau."


"Aku ada spare di koper, tenanglah."


"Wah, peduli sekali dirimu sampai membawakan persediaan untukku," godaku dengan meletakkan pipi di belakang kepalanya. "Seorang Sasha yang jutek, rupanya begitu peduli dengan hal-hal kecil seperti itu."

__ADS_1


"Lia, berhenti menggodaku seperti itu."


Rasanya senang sekali sedikit mengerjainya yang selalu bertampang datar padaku. Namun, terbesit di otakku mengenainya yang benar-benar menyukaiku atau sekadar hasrat alami seorang laki-laki. Aku pun bingung mengenai diriku sendiri, apakah sekadar menyukainya akibat tampangnya tersebut atau sungguh-sungguh jatuh hati.


Di tengah perjalanan, ada tanjakkan yang mustahil kami lewati untuk berlanjut mengelilingi danau. Alhasil, kami harus berjalan ke dalam hutan untuk menemukan ujung dari tanjakkan tinggi tersebut agar bisa lewat. Namun, keberuntungan tetap di pihak kami dengan bertemu seorang petugas wisata yang kebetulan tengah berkeliling. Akhirnya, kami berhasil kembali ke penginapan yang di mana banyak sekali mobil hitam pada parkiran.


Terdapat Tristan yang tengah memerintahkan beberapa orang berjas hitam untuk memasuki mobilnya, lalu dia melihatku dengan tatapan terkejut.


"Lia!" teriaknya seraya menderap ke arahku, lalu memberi pelukan. "Syukurlah, syukurlah, syukurlah! Aku sangat khawatir padamu! Bahkan, aku sampai memanggil para sequrity rumahku demi mencarimu."


"Terima kasi. Akan tetapi, jangan berlebihan seperti ini juga," balasku seraya melepaskan pelukan dari Tristan dan menoleh pada Sasha. "Sasha membawaku ke sini sampai selamat. Tenang saja."


Tristan memandang Sasha dengan malas, lalu meninju pelan bahunya dan berkata dengan lesu, "Thanks, bro."


Beberapa anak mulai ke luar dan memandang begitu lega ke arah kami. Mereka pasti khawatir dengan nasibku bersama Sasha yang begitu mengerikan jika terlihat saat tercebur ke dalam danau.


Di saat bersamaan, Sasha tumbang dan langsung tertangkap oleh Tristan.


Dia sungguh kelelahan dan kedinginan. Seharusnya aku tidak memintanya untuk menggedongku selama perjalanan.


Beberapa anak membantu membawa Sasha ke dalam penginapan dan Hana menghampiriku dengan wajah begitu panik.


"Lia! Astaga, Lia ... aku sangat ketakutan saat mendengarmu telah hilang di danau!" ucapnya dengan memegangi kedua bahuku. "Bajumu lembab sekali. Kalian pasti tercebur juga, 'kan? Ayo cepat, ganti pakaianmu. Daya tahan tubuhmu pasti berkurang jika tidak cepat-cepat meminum minuman herbal."


Hana begitu cemas dan pasti merasakan tidak enaknya tercebur dalam danau hingga melemparkan reaksi berlebihan kepadaku.


"Terima kasih karena sudah mengkhawatirkanku," kataku, lalu mulai terhuyung akibat rasa pusing melanda.


Buru-buru Hana merangkulku dan membawaku masuk ke penginapan sampai ke kamar. Aku dibantu mengganti pakaian, lalu diberikan obat herbal yang berbahan utama jahe. Semangkuk bubur tersuguhi oleh pelayan penginapan yang katanya diperintahkan oleh guru-guru yang menjadi pengawas study tour.

__ADS_1


"Air di danau itu dingin sekali, Lia. Aku bahkan nyaris mati karenanya!" Hana bercuap-cuap sembari menyuapiku. "Kalian berdua pasti tercebur di tengah-tengah danau besar itu. Aku sampai pusing mengkhawatirkanmu. Lain kali, jangan menaiki kanu seperti itu lagi!"


"Baiklah, baiklah Mama Hana," ejekku dan kami berdua langsung tertawa bersamaan.


Aku pun tersedak dan Hana ingin mengambilkanku air di meja, tetapi kucegah agar aku mengambil sendiri saja. Ini pasti gara-gara aku mengejeknya dan mendapatkan balasan dadakan. Saat berdiri, aku terhuyung lagi akibat rasa nyari di area sekitar paha yang baru saja hadir.


"Ada apa, Lia?" Hana menangkapku sebelum aku terjatuh. "Apa kamu darah rendah?"


"Ya," dustaku, "Mungkin."


Setelah menghabiskan makanan dan dipijat sebentar oleh teman-teman yang lainnya, aku memutuskan untuk menjenguk Sasha bersama Hana agar tahu keadaannya sekarang. Pada kamar 101A, aku mengetuk pintunya yang katanya adalah kamar Sasha bersama dua teman sekelas kami.


"Ada apa?" tanya laki-laki yang membukakan pintu untukku. "Ini kamar laki-laki, kamu beristirahatlah sendiri di kamarmu."


"Aku ingin menjenguk Sasha," balasku.


"Izinkan saja. Lagi pula, dia kekasihnya." Hana menyahuti dan laki-laki itu seperti malas melanjutkan pembicaraan, lalu mempersilakan kami masuk.


Terlihat Sasha yang terbaring di atas kasur dengan kain pengompress pada dahinya. Secangkir teh yangat di meja nakas dan beberapa obat tersedia yang belum diminumnya.


"Kami sudah memijat dan mengannti pakaiannya. Tetapi, masoh belum sadar juga. Nanti ketika sadar, aku akan menyodoknya langsung dengan bubur," ujar laki-laki penjaga pintu tadi.


"Bahasamu kasar sekali," balas Hana tidak senang. "Kamu kira, dia adalah hewan sampai makanan harus disodok-sodok?"


Ucapan Hana terdengar sedikit ambigu di telingaku. Bahkan, lawan bicaranya saja sedang menahan tawa yang mungkin satu pemikiran denganku.


Aku duduk di sebelah Sasha, mengelus tangannya yang begitu dingin dan berharap secepatnya sadar agar bisa mengonsumsi obat yang memulihkan demamnya. Tiba-tiba, tanganku tergenggam olehnya yang masih dalam keadaan tidak sadar.


Ingin sekali aku melihat apa yang kini dia mimpikan sampai reflek memegangku saat aku hadir. Apakah sama seperti pagi tadi? Mungkin saja, siapa yang tahu ....

__ADS_1


- ♧ -


__ADS_2