
Kedua mata yang terasa lengket ini mulai mengerjap-ngerjap secara perlahan. Tubuh mulai bergerak untuk merenggangkan otot, tetapi tangan menolak berkutik karena ada suatu penghalang. Selama seperkian detik, aku tersadar bahwa sedang menggenggam tangan seseorang.
Parah sekali, aku memegangi tangan Sasha! Aku langsung terduduk dan melihat dia duduk pada lantai dengan tertidur pada posisi kepala di atas kasurku. Kenapa dia di sini dan tidak kembali ke kamarnya?
"Sasha, bangunlah." Tanganku menunjuk-nunjuk lengannya dan dengan mudahnya dia terbangun, lalu melirik jam digital yang menunjukkan waktu 05:02. "Kenapa kamu tidak balik ke kamarmu untuk tidur?"
Duduknya menjadi tegak, lalu menjawab, "Aku menemanimu, sesuai permintaanmu."
Seperti tertebas oleh katana dalam mendengar perkataan dusta tersebut. Apakah aku mengigau ketika tidur sampai-sampai mengatakan hal konyol itu?
"Astaga, jangan hiraukan ngigauku," kataku dengan malu level tinggi.
"Tidak, kamu tidak mengigau." Wajahnya diusap dengan kedua tangan, lalu melanjutkan, "Kamu mengatakannya sebelum tidur kok."
Aku terdiam sejenak untuk mengingat-ingat. Lalu, terbesit mengenai ucapanku yang memintanya menutup pintu.
"Aku hanya mengatakan 'jangan biarkan pintuku' dan tidak ada ucapan lain," balasku sembari turun dari kasur karena merasa tidak enak jika berada di atas.
"Benarkah?" Dia bangkit dan berpikir sejenak. "Rupanya aku salah tanggap. Kukira, 'jangan biarkan aku' dan yang kutanggapi adalah kamu tidak mau kutinggal."
"Pasti tubuhmu pegal-pegal karena tidur dengan posisi seperti itu," kataku yang menatap Sasha melangkah ke pintu. "Hari ini tidak sekolah karena masih study tour, ya? Sepertinya, aku tidak perlu mandi cepat-cepat seperti biasa."
Sebelum dia menutup pintu dengan telat, mulutnya mengatakan, "Setelah mandi, keluarlah untuk sarapan."
Ada-ada saja. Jika sungguhan salah dengar, bukankah dia bisa saja balik ke kamarnya tanpa menggubrisku?
Aku membereskan tempat tidur, pergi mandi dan berganti pakaian santai. Lalu, meminum obat booster untuk memperkuat daya tahan tubuh sebelum makan. Di kala ke luar dari kamar, terciumlah aroma lezat yang tidak pernah kutemui pada pagi hari.
"Wah, apa saja yang kamu masak?" Sekadar basa-basi walaupun jelas tengah melihat roti panggang dengan isian daging beserta sayur-sayuran dan saos, lalu semangkuk sup rumput laut sebagai penghangat di pagi hari. "Terlihat menggiurkan."
"Makanlah," ucap Sasha sembari menuangkan segelas air putih untukku. "Kita tidak terlalu banyak beraktifitas, jadi tidak mengapa untuk makanan sedikit berat."
Sesendok sup rumput laut yang berisikan potongan dadu tahu telah memasuki mulutku. Lumer dan umami, benar-benar rasa yang menarik! "Enak sekali, terlebih lagi dinikmati saat musim hujan. Lain kali, ajarkan aku juga, Sasha," pujiku.
"Tentu saja."
"Oh ya, bukankah banyak aktifitas seharusnya makan yang berat-berat? Kenapa ini justru kebalikannya?" tanyaku penasaran seraya mengunyah beberapa tahu yang lembut.
__ADS_1
Tangannya menunjukkan angka satu. "Lebih mudah menaikkan kadar gula darah." Jari kedua muncul. "Mengganggu pencernaan di tengah-tengah pelajaran." Ketiga jari muncul serempak. "Rasa kantuk dan akhirnya kurang fokus."
Aku jadi paham mengapa sarapan selalu tersedia roti saja di dapur. Jika dipikir-pikir, apabila aku sarapan begitu berat, panggilan alam pasti hadir dan menganggu pembelajaranku.
"Wah ... lezat sekali sandwich ini." Mengunyah perpaduan potongan daging sapi tipis, sayuran, garlic cream, membuat kebahagiaanku hadir. "Jangan lupa ajarkan aku membuat ini juga."
"Iya, Lia."
"Pasti keren jika aku menjadi istri hebat dalam memasak sepintarmu."
"Istri?"
Terdiam dalam mengunyah dengan suasana yang berubah hanya karena jawaban yang kudengar tidak mengenakan telinga.
"Iya, aku kan istrimu," balasku dengan berhenti mengunyah. "Apakah salah?"
Sasha meneguk air putih, lalu menatapku dengan sekilas dan berkata, "Tidak, aku hanya terpikir mengenai permintaanmu."
"Permintaan apa?" Memangnya, aku pernah menuntut sesuatu padanya? Sejauh ini, sepertinya tidak. "Jangan mengada-ngada."
Seketika aku tersedak dan langsung meminum air sebelum Sasha mengambilkannya untukku. Apakah dia tidak bisa berpikir lurus dan melupakan hal itu karena sebelumnya kami tidak memiliki perasaan satu sama lain? Seharusnya, dia paham akan situasi hubungan ini, kan?
"Kepalamu isinya pelajaran sekolah saja, ya?" Mulutku mulai berkata kasar. Ini pasti efek berteman pada Tristan yang suka bermisuh-misuh di kelas. "Tidak bisakah mengerti akan hubungan ini?"
"Bukankah perkataanku betul?" tanyanya dengan air muka khawatir dalam melihat tatapan kesalku. "Aku berpikir, sepertinya kamu akan bahagia pada akhir hubungan ini."
Tangan kirimu mengusap wajah, lalu mengibas rambut dari depan ke belakang. Aku benar-benar tidak habis pikir dengan perkataannya.
"Setelah apa yang kita lalui dahulu, kamu masih memikirkan untuk berpisah?" Mataku menatap Sasha dengan pasi. "Hei, kita jadian bukan? Sadar bahwa saling menyukai, apakah aku salah? Apakah semua kejadian itu halu?"
"Lia ..."
"Di mana pemahamanku tentangku? Setelah menggiring perasaanku, kamu mau meninggalkanku dengan alasan perjanjian yang sudah kulupakan itu?"
"Aku tidak berpikir begitu ..."
Aku mendengus pelan dan memalingkan wajah. "Kamu kira, kita bercerai dalam keadaan berpacaran, dan hubungan akan baik-baik saja, lalu mengulang pernikahan seperti di novel-novel? Betul-betul gila."
__ADS_1
Meskipun ucapanku terdengar kasar, tetapi hatiku terasa nyeri. Sedari tadi, mataku membendung tangisan. Aku merasa seperti sedang bernasib cinta bertepuk sebelah tangan. Aneh sekali. Oleh karena itu, aku bangkit dan ingin kembali ke kamar.
"Hei ...." Tiba-tiba, Sasha memelukku dari belakang dengan memanggilku secara lirih di dekat telinga. "Dengarkan aku dulu."
Aku terdiam dan memegangi tangannya yang melingkar di perutku agar terlepas.
"Awalnya aku hanya mengira jika perjanjian itu adalah kebahagiaanmu untuk masa depan seperti melanjutkan pendidikan tanpa harus terbebani," gumannya dalam bahuku. "Aku memang tidak peka. Maaf."
Hening sejenak, kemudian Sasha membalik badanku dan kami berpelukan. "Benar, otakku hanya berisikan pelajaran saja. Ini ... pertama kalinya bagiku dalam menjalani hubungan dan terlebih lagi serumit ini."
"Jadi, apa kesimpulan akhirnya?"
"Jangan pedulikan kertas perjanjian itu lagi," jawabnya pelan.
"Lalu?"
"Aku tidak tahu lagi. Maka karena itu, beri tahu aku, jelaskan secara rinci karena otakku hanya berisikan pelajaran."
Perkataannya mengandung sindiran sekali. Sontak, aku melepaskan pelukan darinya dan menunjuk kepalanya seraya berkata, "Maka karena itu, isi juga mengenai hal-hal tentangku. Jangan pelajaran saja."
Bibirnya tersenyum kecil. "Baiklah, akan kucoba."
Aku memutar tubuh, dan melangkah kembali ke kamar. Namun, Sasha menahanku lagi dengan cara memegangi tanganku.
"Habiskan dulu sarapannya," perintahnya.
"Aku sudah kenyang karena sikapmu tadi. Sudahlah, aku ingin ke kamar dulu."
"Tidak bisa, habiskan sarapan dulu. Jangan buang-buang makanan."
Mau tidak mau, pasrah adalah solusinya, karena genggaman Sasha sedikit kuat dan tidak bisa membuatku membantah.
"Kepedulianmu lumayan resek juga," cemoohku sembari melahap sandwich kembali. Untung saja lezat hingga aku menikmatinya sampai habis.
"Bersiap saja menerima sikap peduliku yang kamu mau," balas Sasha dengan tangan yang mengelus rambutku, lalu kembali ke tempat duduknya.
- ♧ -
__ADS_1