Oh My Love

Oh My Love
Masa-Masa yang Manis


__ADS_3

Tidak ada banyak kegiatan untuk hari ini. Kami berdua pun enggan untuk pergi ke luar, karena akan menghancurkan kepercayaan guru-guru yang memulangkan kami dengan tujuan beristirahat.


Ponsel mulai kuperiksa setelah mengisi daya, lalu terbanjiri banyak notifikasi pesan dari Tristan dan Hana. Mereka mengirim banyak gambar dalam menunjukkan keasyikan study tour, menanyakan kabar dan tidak menerima panggilan telepon dariku.


Terdengar bunyi bel pintu dan saat aku ingin membuka, Sasha lebih dulu menyambut seorang staff lobi. Setelah itu, sebuah bucket berisikan benda berukuran kotak yang diberikan olehnya kepadaku.


"Katanya staff itu lupa memberikan padamu kemarin," kata Sasha seraya melepaskan bucket itu dariku.


"Ini dari Tantan." Kuperhatikan isinya adalah batangan coklat yang sangat banyak. "Padahal, coklat pemberiannya enam lalu masih belum habis di kulkas."


Semua manisan ini kumasukkan ke dalam freezer yang lumayan penuh. Jika kumakan bersama Sasha, dalam dua tahun pun tidak akan habis dan sepertinya dibagikan ke orang lain sungguh tidak sopan karena ini barang pemberian.


"Apa kamu akan memakan sebanyak itu?" Kepala Sashaa muncul di atas bahuku dalam melihat banyaknya isi freezer. "Berat badanmu cepat naik dan aku terpaksa membawamu ke gymnamsium."


"Sejak kapan kamu banyak bicara begini?" tanyaku yang membuat Sasha terpukul kelak. "Jangan bicarakan masalah berat badan pada seorang gadis jika masih sayang dengan nyawamu."


"Bagaimana jika hari coklat, kugantikan menjadi hari sehat saja?"


"Kamu saja yang rayakan hari sehat," balasku seusai membereskan coklat-coklat ini dan meletakkan sisa bucket di tengah meja makan. "Makanan sehatmu aneh sekali. Minuman aneh, permen aneh, dan aku sering sekali lihat tong sampah di dapur berisikan penuh cangkang telur. Untuk apa makan protein sebanyak itu?"


Mulutnya terdiam, seolah sedang intropeksi diri. Padahal, aku hanya bercanda dalam menjabarkan hal-hal normalnya.


Benar-benar membosankan sekali hari ini. Sasha pergi ke GYM, sedangakan aku menyibukkan diri dengan memegangi ponsel sembari berchattingan bersama Tristan. Aku menolaknya untuk teleponan karena ingin menjaga perasaan Sasha meskipun dia tidak ada di sini.


Duduk di meja makan sembari menyamil coklat, mengulur-ulur beranda sosial media yang berisikan berita terkini perihal teman-teman sekolah dalam keasyikan berwisata. Kebosanan adalah sarana bagus untuk tidur, maka karena itu aku mengantuk dan mata terpejam begitu saja.


Selama beberapa waktu, aku terbangun akibat tidak enak dalam posisi duduk dan kepala diletakkan di atas alas piring. Namun, ada sedikit nyaman dengan kepala yang diusap-usap begitu lembut. Dalam setengah sadar, aku melihat ke depan dan melihat Sasha yang meletakkan kepalanya di meja dengan beralasan lengan kiri, sedangkan tangan kanannya mengusap rambutku.


"Sudah pulang dari GYM?" tanyaku seraya duduk tegak.


"Ya, dan sekarang aku ingin mandi," balasnya lalu bangkit dari kursi dan memasuki kamarnya.

__ADS_1


Bicaranya singkat sekali, tapi perbuatannya sangat manis. Aku jadi kesal karenanya. Giliran mengobrol santai, ucapannya singkat, padat, dan jelas. Sedangkan saat menasehatiku, kalimatnya sepanjang narasi novel.


Terlihat bucket bekas coklat tadi sudah diletakkan di atas meja dekat televisi. Kemudian, aku melihat bungkusan berisi penekuk dan waffle berbagai rasa di pinggir meja makan ini. Sasha bukan tipekal suka manisan, maka dia pasti membelikannya untukku. Oleh sebab itu, kuambil semuanya dan pergi ke sofa untuk menonton film rekomendasi yang diiklankan di beranda sosial media tadi.


Satu jam berlalu, dan kebosananku hadir kembali. Sasha pasti belajar di dalam setelah mandi dan tidak mau menemaniku di sini. Menyebalkan juga. Spontan aku pergi ke kamarnya tanpa mengetuk pintu, karena sebelumnya dia melakukan hal yang sama, ini adalah balas dendam yang tipis.


Di kala memasuki kamar Sasha, dan melihat ke segala arah, aku mematung dan nyaris berteriak karena kaget. Bahkan, sang empu pun juga terkejut hebat dalam keadaan tanpa pakaian sehelai pun dengan membuka pintu kamar mandi setelah membersihkan diri. Bahkan, handuknya saja tidak berguna dengan digantungkan pada bahu begitu saja.


Gawat, vitamin A seperti ini tidak bisa kulanjutkan terus menerus.


"MAAF! AKU TIDAK LIHAT APA-APA KOK!" teriakku sembari menutup pintu kamarnya kembali. Sebenarnya, aku melihat secara keseluruhan, tapi tentu tidak mau kubicarakan agar Sasha tidak merasa malu berat.


Ah, rasanya aku mau menggila.


Ketika dia ke luar dari kamar dengan pakaian utuh, aku menjadi keki sedangkan dia memalingkan wajah terus menerus.


"Waffle di atas meja itu, tidak sadar kuhabiskan," kataku dengan tujuan mengubah suasana agar tidak terasa tegang.


Sudah aku duga. Baguslah, aku tidak ingat untuk menyisakannya agar bisa mencicip apa yang dia beli.


Secara tiba-tiba, Sasha mendekat dan merangkulku sampai terduduk di sofa, lalu menghidupan televisi. "Wajahmu memerah sekali, apa malu karena melihatku tadi?"


"T-tidak kok!"


Apa dia tidak berpikir bahwa bisa membuat seorang gadis kejang-kejang karena melihat tubuhnya? Isi otakku menjadi saling berkecamuk, tau?


"Jangan begitu," ucapnya sembari menunjuk-nunjuk pipiku yang tirus. "Lagi pula, ini bukan pertama kalinya bukan?"


Lagi-lagi wajahku memanas dan sepertinya akan mengeluarkan lava dari ubun-ubun.


"Tapi, jangan begini juga!" sergahku malu-malu.

__ADS_1


"Begini bagaimananya?" Sasha menyeringai dengan wajah datarnya, lalu mendekat padaku yang membuatku sontak memundurkan badan hingga jatuh terbaring. "Berarti, tidak mau seperti tadi?"


Spontan, tanganku mendorong wajahnya yang mulai menampilkan godaan dan membuatku tidak tahan sampai salah tingkah.


"Jangan begitu, kamu menyebalkan!" kataku ketus.


CEKLEK!


Kami berdua tersentak kaget dan langsung melirik ke arah pintu utama unit apartemen yang mendatangkan dua orang terpenting di hidup kami. Siapa lagi jika bukan mertuaku atau ayah dan ibu Sasha. Mereka berdua pun tidak kalah kaget dan membeku dalam menonton posisi kami yang sangat tidak patut untuk dilihat.


Ah ... rasa maluku menjadi berlipat-lipat ganda hari ini.


"Wah, wah, wah .... Sepertinya kita salah waktu dalam mengunjungi," ucap Ibu seraya mendorong-dorong Ayah yang masih termenung dalam menatap kami berdua di depan pintu. "Ayo cepat."


"Mereka seperti kita sewaktu muda, ya," celetuk Ayah Sasha yang membuatku salah tingkah.


Spontan aku bangkit dan langsung menyundul kepala Sasha tanpa sengaja hingga dia mengerang dengan volume kecil.


"Maaf!" bisikku saat dia mengelus-elus dahinya. Aku bangkit dan langsung menghampiri ayah bersama ibu Sasha secepatnya sebelum mereka membuka pintu. "Ayah, Ibu, jangan pergi dulu. Biar aku suguhkan teh untuk kalian berdua."


Tidak, tidak, tidak! Reaksi mereka menjadi canggung sekali!


"Tidak apa, Lia. Kami bisa datang saat esok, atau mungkin menghubungi kalian berdua melalui telepon rumah dulu," ucap Ibu dengan senyuman lebar, lalu beliau menyodorkan tas kain besar dan berat ke padaku. "Ini, ambillah."


Setiap mereka mengunjungi kami, selalu memberi sesuatu seperti sayur-sayuran atau lauk pauk, dan kini pun sama saat aku memeriksanya.


"Kami pergi dulu, selamat bersenang-senang!" sindir Ibu yang membuatku lagi-lagi merasa malu.


Aku seperti ingin hilang dari bumi saja.


- ♧ -

__ADS_1


__ADS_2