
Aku dan Hana pergi ke kantin, lalu menemukan Sasha tengah membaca buku catatan kecilnya sembari mengetuk-ngetuk pelan kotak makan yang tadi ditunjukkan untukku.
"Sedang membaca apa?" tanyaku saat sampai dan duduk yang berhadapan dengannya bersama Hana di sebelahku.
"Hanya menghafal beberapa kosakata asing," balasnya, kemudian membukakan kotak makan untukku. "Makanlah, bel masuk sebentar lagi akan berbunyi."
Sembari menerima pemberiannya tersebut, kecurigaanku membuat sebuah pertanyaan terlemparkan, "Sikapmu begitu santai. Apa tidak mau bertanya mengenai percakapanku bersama Tantan tadi?"
Sasha tersenyum. "Tidak perlu." Lalu, dia mengeluarkan ponsel yang menampilkan data rekaman. "Hana sudah membantuku."
Sontak, aku menoleh dan melihat Hana berpura-pura tidak mendengar dalam menyantap kue cokelatnya yang tadinya dibeli sebelum duduk di sini.
"Jika aku yang di sana, mungkin saja akan ada pertengkaran lagi antara kami dan membuatmu panik. Kepanikan adalah hal yang harus kamu hindari, maka karena itu kuputuskan dengan solusi ini," lanjut Sasha yang kembali menatap buku catatan kecilnya.
Aku pun memeluk Hana hingga dia terkejut. "Terima kasih."
"Iya, Lia. Kapan saja," balasnya seraya menunjuk ke arah bekal makan siangku. "Makanlah. Sedari tadi, Sasha pasti menunggu reaksimu melihat isinya."
"Aku tidak berkata begitu." Sasha menyahuti.
"Tapi reaksimu mengatakan seperti itu, tau?" ledek Hana yang membuatku tertawa.
Terlihat dalam kotak kecil ini berisikan nasi dan bola-bola ayam dengan saus berwarna karamel. Ada juga pokcoy dan juga tersedia sendok.
"Apa kamu memasak ini pagi-pagi buta?" Aku menyendok nasi bersama ayam dan memasukkan ke mulutku.
"Tidak mungkin, Lia," Hana berceletuk. "Dia pasti membeli bento instan dari mini market dan tinggal dipanaskan ke oven."
Aku pun mempercayainya dengan manggut-manggut.
"Jangan berbicara sembarangan. Aku memasaknya sendiri," balas Sasha.
Hana pun menyeringai. "Hanya bercanda."
Pada bel masuk tiba, aku tidak melihat Tristan sama sekali sampai jam istirahat kedua sekali pun. Tasnya masih tertinggal di kelas, tetapi empunya tidak menunjukkan batang hidung. Tiga mata pelajaran dihitung alva oleh guru akibat tidak ada kejelasan darinya.
Waktu yang kutunggu-tunggu sudah usai, yakni pulang sekolah. Aku tetap sama masih kepikiran mengenai keberadaan Tristan dan apakah mungkin dia pulang lebih dulu setelah kami berbicara? Mungkin, dia marah sebab ada orang ketiga yang mendengar ucapannya, terlebih lagi begitu sensitif. Aku tahu jika Hana bukanlah bermulut ember, tetapi tetap saja bisa membuat Tristan was-was akan rahasianya yang sebenarnya ingin ditunjukkan padaku.
__ADS_1
Namun, apakah yang semua dikatakannya adalah fakta atau sekadar perkataan untuk menggertak?
TING! TING! TING!
Lamunanku terbuyarkan dengan duara dentingan bel dari arah gerobak hijau yang menjual es krim potongan. Semua yang kupikirkan seolah terlupakan begitu saja dalam membayangkan lezatnya es krim tradisional yang tidak kalah enak dari buatan pabrik.
Ah ya, aku lupa jika tidak membawa uang saku.
Sasha yang berada di sebelahku telah kutarik ujung bajunya seraya berkata, "Ayo beli es krim!"
Ketika melangkah pergi, dia menahan lenganku. "Itu tidak sehat. Akan kubelikan es krim buah saja ketika kita sampai untuk pulang."
"Maksudmu, es krim yang hanya dibanjiri susu lalu dibekukan? Rasanya biasa saja. Aku ingin es krim potong yang gurih itu!" Jariku menunjuk ke arah gerobak dengan sang penjual memberikan jempol ke arah Sasha seolah mendengar percakapan kami. "Ayolah."
"Tidak boleh."
"Boleh!"
Seketika Hana lewat di depan kami dengan menjilati es krim potong berwarna merah muda dengan perisa stroberi. Reaksi Sasha justru menjadi masam tanpa merasakan es krim tersebut.
Ingin sekali aku menariknya dan meminta untuk membelaku dalam pembelian es krim tersebut.
"Baiklah, hanya sekali saja." Secarik uang bernominal kecil telah keluar dari saku Sasha. "Biar kubelikan."
Tiba-tiba, terdengar tangisan cablak dari belakangku dan terlihat seorang gadis kecil kisaran berumur empat tahun tengah dipegangi oleh salah satu guru wanita. Setelah Sasha datang dengan membawakan es krim, aku pun mengambilnya dan memberikan pada anak kecil tadi sampai tangisannya mereda.
"Terima kasih," ucap anak tersebut dengan melahap es krim tersebut sampai pipi tembamnya bertambah volume. "Kakak ganteng ini benar-benar baik."
Jelas-jelas, aku yang memberikannya meskipun rampasan dari Sasha!
"Tidak seperti kakak yang ganteng, tapi galak tadi," sambungnya yang membuat dahiku mengerut.
"Tadi dia menangis karena dibentak oleh anak-anak. Maklumi saja anak kecil, sikapnya cukup meresahkan," ucap guru wanita yang tidak pernah mengajar di kelasku tersebut.
"Nah, itu kakak galaknya!" Gadis ini menunjuk ke belakang dan terlihatlah Tristan yang mengenakan tas di satu bahu, berjalan dengan dagu terangkat.
Aku terkejut bukan karena kehadirannya, melainkan mulutnya yang menghembuskan asap dan di tangannya terdapat guluran rokok terbakar.
__ADS_1
"Ibu pergi dulu," pamit guru ini, berpura-pura tidak melihat Tristan yang harusnya ditegur.
Aku pun langsung mendekati Tristan, mengambil tangannya dan merampas rokok tersebut sampai membuang tanpa merasa bersalah. Tidak ada perlawanan darinya, seperti ikhlas begitu saja.
"Apa-apaan ini?" Mataku melotot dalam menatap wajahnya tergambarkan keputusasaan. "Mendadak menjadi berandalan?"
"Diamlah," balasnya hingga aku terkejut karena pertama kalinya diberi repons seperti ini.
Apakah dia tengah marah karena aku menolaknya mentah-mentah tadi pagi?
Sebatang rokok lagi dikeluarkan dari kotaknya, lalu aku merampasnya dan melemparkan jauh hingga wajahnya tampak geram. Aku tidak takut, karena dia bukanlah Tristan yang kukenal.
"Begini caramu marah? Dengan merusak tubuh?" Kulontarkan omelan di tengah-tengah keramaian masa pulang sekolah ini.
Tristan berdecak kecil. "Apa urusanmu? Hatiku sudah begitu rusak, dan apakah kamu peduli? Jangan berlagak seperti ini, menyingkirlah."
Dia berjalan melewatiku dengan angkuh, sedangkan Sasha menghampiriku dan menggedik kepalanya untuk memintaku lanjut berjalan pulang.
"Sialan!" celaku yang membuat kedua laki-laki ini terkejut dan mematung. "Apa untungnya bersikap begini? Agar aku merasa bersalah, begitu?"
Beberapa anak mulai memandangiku, sedangkan Tristan menoleh dan melihatku dari ekor matanya.
"Lalu, membuatku menjadi orang jahatnya di sini?" lanjutku dengan emosi menggebu-gebu. "Apa perasaanmu nyaman dengan menampilkan karakteristik yang sama sekali tidak cocok?"
"Lia, hentikan." Sasha berbisik dan menggenggam tanganku. Dia ingin menghindari ikut campur dan pertengkaran lagi, maka karena itu mengurangi tindakan dalam mencegahku secara berlebihan.
"Banyak sekali bicaramu." Tristan menjawab yang membuatku tersentak. "Diam dan pergilah sana dengan kekasihmu itu. Sia-sia menampilkan sandiwara dengan kepedulian palsu."
Rasanya aku ingin menangis akibat kekhawatiranku disebut kepedulian palsu.
"Kepedulian palsu?" Aku menaikkan intonasi bicara. "Ah brengsek, kita kan teman!"
Tanganku semakin dicengkram kuat oleh Sasha dan kutahan mata ini untuk menangis. Akan tetapi, Tristan justru lanjut melangkah pergi dan kehadirannya sirna begitu saja.
Apakah aku adalah orang yang salah di sini?
- ♧ -
__ADS_1