
Berkali-kali mata ini mengerjap, menerima cahaya masuk ke mata dan merasakan bahwa tanganku tengah tergenggam oleh seseorang. Mataku memicing dan orang itu adalah Sasha yang tengah membenamkan wajah di pinggir kasurku.
Aku memandangi sekeliling yang di mana kami berada pada ruang inap rumah sakit akibat terlihat infus dan selimut putih. Lalu, hadirlah kedua orang tua kami dengan wajah gelisah dan perasaanku menjadi tidak enak. Pasti mereka diminta pihak rumah sakit untuk mendampingiku sebagai pasien.
"Lia, mengapa kamu tidak bilang kondisimu?" tanya Ibu dengan wajah prihatin yang duduk di sofa belakang Sasha. "Kamu ... hamil, Nak?"
Terdengar seperti tamparan hebat di wajahku. Aku bingung untuk menanggapi dan seolah ini sebuah kesalahan yang harus diakui. Tidak, ini jelas-jelas bukan kesalahan. Jika iya, bukankah mereka harusnya mencegah dengan menolakku dengan Sasha untuk bersama-sama?
Sasha mempererat genggamannya dan mendongak ke arahku hingga terlihat pipinya yang lebam. "Seharusnya, kamu jujur saja padaku. Jangan memendam sampai banyak pikiran seperti ini," ucapnya dengan gelisah.
"Dokter mengatakan jika kamu pendarahan. Efek terbebani pikiran dan stress berkelanjutan," ujar Ayah yang sedang bersandar di punggung sofa. "Rupanya, kalian sudah dewasa, ya."
Apa yang terdengar, sedikit memalukan. Sasha juga mungkin merasakan itu.
"Apa mungkin, seharusnya Lia tidak sekolah dahulu?" Ibu mempertanyakan hal yang membuatku terkejut. "Jika kondisimu seperti ini, lebih baik tidak perlu."
"Tapi, sebentar lagi akan ujian pertengahan semester," kataku ragu dan melirik Sasha yang merasa bingung. "Hanya kehamilan baru, tidak masalah bagiku, Bu."
"Justru hamil baru haruslah dijaga betul-betul," sergah Ibu dengan tegas. "Menurut saja, Lia. Ini kebaikanmu. Jangan sampai Ibu berpikir harus menggugurkan kandunganmu demi pendidikan."
Sontak, aku memegangi perut yang berisikan nyawa tidak bersalah ini. Mustahil aku melakukan hal kejam yang jelas-jelas tidak salah kehadirannya. Hal pertama kalinya dalam hidupku, tidak akan kubuang sia-sia. Aku tidak ingin menjadi jahat sama sekali.
"Jangan," gumamku, "Kumohon."
"Ibu, jangan berkata seperti itu." Sasha menutup matanya dengan satu tangan untuk menutupi setengah reaksi kesalnya.
"Ayah bisa mengurus sekolah dengan mengatakan kamu sedang sakit berat. Masalab keterangan dokter, bisa kami urus." Ayah menyahuti dengan senyuman. "Ujian secara paket saja, Lia. Tidak masalah. Sasha akan menemanimu selama belajar."
Hatiku merasa lega saat mendengar hal ini. Mendukung dan beraura positif.
Sembari mengupas apel, Ibu melanjutkan, "Ibu pasti akan sering ke apartemen kalian untuk menyempurnakan gizi cucuku nanti. Bagaimana jika Lia di rumah kita saja?"
__ADS_1
Sasha otomatis menoleh. "Jangan berlebihan, Bu."
"Berlebihan apanya? Kamu anak laki-laki, tidak tahu apa-apa maka diam saja. Yang membutuhkan gizi adalah Lia, bukan kamu." Ibu menjadi mengomeli Sasha yang sepertinya tidak ingin ditinggalkan olehku. "Biarkan Lia di rumah sakit untuk menghabiskan infusnya. Ibu akan sesering mungkin menjenguk dan menbawakan makanan enak."
Sepiring apel diberikan padaku, membuatku yang awalnya tegang menjadi bahagia. Baru saja ingin mengambil sepotong, Sasha lebih dulu mencomotnya. Namun, dia justru menyuapiku dengan senyuman kecil.
"Nanti kami ke sini lagi. Sepertinya, kalian butuh waktu berdua," celetuk Ayah yang langsung menarik Ibu ke luar dari ruang inap. "Kami pergi dulu."
Pintu tertutup, menyisakan kami berdua dalam keheningan.
"Ada apa dengan wajahmu itu?" tanyaku setelah menolak disuapi apel lagi. "Apa Ayah dan Ibu awalnya memukulmu karena tidak terima kehamilanku?"
Duduknya menjadi tegak dan menoleh ke kiri. "Bukan apa-apa."
"Jujur saja."
Diam sejenak, lalu dia menjawab, "Bukan karena Ayah atau Ibu. Melainkan, Tristan."
"Ada masalah apa dengannya?" tanyaku terheran-heran.
"Apa kamu tidak sadar jika ruang inap ini VIP?" Sasha membalas dengan timpal balik pertanyaan. Aku pun memandangi sekeliling kedua kalinya dan tidak tahu akan hal itu akibat tidak pernah rawat inap sebelumnya. "Tidak mungkin orang tuaku membayar semahal ini."
Mataku mengerjap beberapa kali dan mencerna perkataan Sasha dengan serius. "Dia yang memesankan ruang ini?"
"Iya."
"Bagaimana bisa?"
"Saat aku membawamu, kami bertemu di lapangan sekolah dan saat itu dia sepertinya sedang menunggumu. Setelah melihatmu yang sedang kugendong, dia terlihat panik sekali dan langsung memesan taksi. Kukira untuk kita, namun untuknya sendiri. Hana juga ada di sana dan dia ikut denganku untuk mengantarkanmu ke sini." Matanya menatapku dengan pasi. "Laki-laki itu bercuap-cuap pada bagian administrasi. Mereka berdebat. Staff meminta bayaran sebelum memberi perawatan lebih lanjut sekaligus ruang inap terbaik untukkmu. Akan tetapi, Tristan mempertegas untuk memasukkanmu langsung ke UGD dan siapkan ruang inap sebelum membahas pembayaran."
Bisa kubayangkan betapa paniknya Tristan terhadapku dan begitu mengamuk hanya masalah kecil.
__ADS_1
"Akhirnya, kartu pembayaran dia lemparkan ke staff dengan emosi membeludak dan melakukan pembayaran saat itu juga," Sasha tersenyum miring seolah lucu membayangkan rasa puas dari melihat reaksi staff kapitalisme tersebut. "Seusai memeriksamu, dokter memintaku untuk memanggilkan walimu dan aku langsung menelepon orang tua kita."
Hana pasti merasa ada yang aneh mengapa waliku adalah orang tua Sasha, dan Tristan curiga karena aku tidak memiliki siapa-siapa justru memiliki wali.
"Setelah itu, dokter memberi tahu diagnosamu pada Ibu yang tentunya didengar oleh mereka berdua bahwa kini kamu hamil, Lia. Kami bertiga terkejut hebat, terlebih lagi sedang mengenakan seragam sekolah."
Dia pasti begitu malu dan berpikir bahwa kami melakukan kenakalan luar biasa. Jelas-jelas tindakan kami tidak salah dan sah secara mata yang tahu.
"Setelah itu, Tristan menonjokku dengan keras, menarik kerahku dan mencaci maki. Dia mempertanyakan aku tidakkah bisa menahan diri dan tidak sadar jika masih berstatus pacaran," lanjutnya setelah menghela napas berat.
Seandainya saja Tristan tahu sesungguhnya kami sungguh menikah, apakah dia masih bisa bersikap seperti itu?
"Hana tidak berani melerai dan berujung para staff memisahkan kami."
"Apa yang kamu katakan saat dihajar oleh Tristan?" selaku seraya mencengkram selimut tanda khawatir.
"Tidak ada, aku hanya diam. Tenang saja," jawab Sasha dengan kelegaan di wajahnya. "Jangan khawatir."
Ya, selagi ada dia, aku tidak perlu mengkhawatirkan apa pun.
"Apakah mereka nantinya menganggap kita buruk?" Kepalaku menunduk dan lagi-lagi merasa resah. "Aku tahu bahwa mereka tidak akan membicarakan hal ini pada anak-anak di sekolah. Tapi, rasanya malu jika hal ini terbongkar pada mereka yang menjadi teman lama kita."
Kedua tanganku digenggam lembut oleh Sasha, seperti sedang menenangkanku. "Tidak apa, jangan terlalu dipikirkan."
"Tapi ..."
"Lia," Matanya menetapku lekat-lekat. "Ada aku. Apa yang perlu kamu takutkan? Sudah kubilang, jangan khawatir."
Bagaimana nantinya kedua temanku memandangku yang seperti ini? Pasti ... mereka menatap dengan rendah dan mengintimidasi.
- ♧ -
__ADS_1