
Hari baru, maka waktunya bersemedi di ruang UKS yang begitu memiliki bau obat-obatan menyengat. Mirip sekali sepeeti rumah sakit, tapi ukurannya jauh lebih kecil. Tugasku tidak terlalu banyak, seperti menjaga kotak obat-obatan dari anak-anak yang iseng ingin memasang plester di wajah agar terlihat keren. Adapun juga membantu anak yang sakit, seperti membawakannya air atau memberikan obat sesuai keluhan. Jika aku rajin menjalani piket ini, mungkin suatu saat aku akan sungguh-sungguh menjadi perawat orang sakit.
"Permisi, ada orang sakit!" sapa seorang laki-laki yang masuk dengan terburu-buru sembari merangkul temannya. "Tolong obati dia, ya."
Tanpa ikut menemani, aku ditanggalk bersama pasien laki-laki yang terdapat luka memar di wajahnya. Dengan sigap, aku mengambil sekantong es batu dari kotak pendingin dan membungkusnya dengan plastik. Lalu, aku mengompres wajah laki-laki bertampang gahar ini sampai dia mengerang kesakitan.
"Maaf! Mohon tahan rasa sakitmu," kataku dengan sedikit kaget.
"Ya, ya. Tidak apa."
Setelah itu, kuusap wajahnya dengan kain, kemudian memberi obat oles tradisional dan menutupinya dengan plester.
"Terima kasih," ucapnya tanpa bangkit dari kursi depanku. "Aku jarang-jarang berterima kasih pada seseorang."
Sesungguhnya aku tidak peduli dengan pernyataan itu.
"Ya, sama-sama."
Dia pun menyunggingkan senyum miring. "Kamu tahu? Luka ini kudapatkan karena bertarung dengan anak berandalan. Beginilah tugas seorang ketua OSIS, sangat merepotkan."
Rasanya, aku ingin berdecak kesal. Aku baru sadar jika dia adalah ketua OSIS, tetapi sikapnya sama sekali tidak mengeluarkan aura wibawa secuil pun. Dia membasmi berandalan dengan pukulan, dan bukankah dia tidak ada bedanya dengan berandalan tersebut?
Kepalaku mengangguk tanda merespons, kemudian berusaha mengibukkan diri dengan merapikan kotak P3K dan meletakan kembali es yang sudah digunakan.
"Siapa namamu?" Lengannya diletakkan pada punggung kursi dan menopang wajahnya dengan tangan. Sembari memasang wajah sok menggoda, dia melanjutkan, "Kinerjamu bagus. Mungkin, aku bisa mengangkatmu jadi anggota OSIS."
"Tidak, terima kasih," jawabku gugup. "Namaku Riliana."
Tangannya pun menepuk sekali dan berkata, "Nama yang keren! Apakah aku harus memanggilmu, Ana?"
Untuk pertama kalinya, nama panggilanku berubah.
"Bukan, tapi Lia."
Suara tawa lepas terdengar darinya yang memecahkan keheningan UKS. "Lucu sekali namamu. Ah ya, kamu pasti sudah tahu namaku tanpa kusebut, kan? Tapi, aku akan tetap memperkenalkan diri. Ricky Dermawan, anak kelaa XII IPS A."
Senyuman tipis kupaksakan untuk sekadar menggubris.
__ADS_1
"Jika mau, datangilah kelasku kapan saja," lanjutnya yang membuatku bergidik.
Sangat tidak sudi bagiku untuk berkunjung kepada orang nakal dan tampang mengerikan yang tergambarkan seperti rela memukul gadia jika berani macam-macam dengannya.
"Gila, pengobatanmu ampuh sekali!" Lagi-lagi dia berbicara dengan antusias, seolah-olah mencoba menarik perhatianku. "Karena sudah mengobatiku, akan kutraktir jam istirahat kedua nanti!"
Sama sekali tidak perlu. Hana begitu sering menraktirku tanpa diminta, bahkan begitu memaksa meski sudah kutolak. Begitu juga dengan Tristan yang tidak segan-segan mampu membeli seisi kantin dalam sekali bayar. Kedua sahabatku begitu royal, dan aku tidak butuh dengan traktiran dari orang penggoda sepertinya.
"Tidak, terima kasih," balasku seraya berpura-pura merapikan lemari berisikan obat-obat botol.
KRING!
Bel masuk berbunyi yang membuatku bisa bernapas lega dan mencari kesempatan kabur.
"Aku pergi ke kelas dulu karena sudah bel," ucapku dengan basa-basi sebelum kabur.
"Wah-wah, rupanya kamu anak yang disiplin. Aku semakin tertarik."
Menggelikan. Aku sudah pasti tidak tertarik dengannya meskipun digoda selama seribu tahun lamanya. Secepatnya, aku melangkah pergi setenang mungkin, setelah merasa jauh, kakiku langsung berlari karena merinding.
Saat memasuki kelas, suasana hatiku kembali membaik dengan disambut pelukan dari Tristan yang menampilkan kegirangan berbunga-bunga. Meskipun berujung pipiku dikecup hingga membuatku malu kepada seisi kelas, tapi ini lebih menghibur setelah masa tegang tadi.
Aku menarik kedua pipinya sampai melebar seperti adonan roti. "Jangan melantur begitu. Kembalilah ke bangkumu, Tantan."
Entah perasaanku saja atau bukan, sedari tadi Sasha memerhatikanku sejak memasuki kelas ini. Mungkinkah dia ingin mengatakan sesuatu padaku? Jika iya, dia bisa melakukannya ketika pulang sekolah.
Singkatnya, pembelajaran mulai dengan begitu serius. Di kelas favorit ini, aku mulai berambisi untuk meningkatkan nilaiku dari seisi kelas yang super pintar. Sementara itu, aku melirik ke arah Tristan uang memainkan bolpoin di atas bibirnya. Sedangkan Hana sibuk mengagumi penampilan barunya dengan bercermin pada kotak bedak yang dia sembunyikan di balik punggung Tristan yang lebar. Walaupun begitu, mereka tetap saja murid yang jenius.
Aku tidak bisa mengintip Sasha, karena berada di belakangku. Akan tetapi, sudah pasti dia memerhatikan papan dengan bersungguh-sungguh.
Seusainya jam pelajaran kedua, waktu istirahat pun hadir yang di mana bukanlah amasaku untuk menjadi penunggu UKS lagi.
"Hana, ayo kita memakan pangsit di kantin!" ajakku secara paksa hingga Hana meninggalkan cerminnya di atas bangku.
"Kamu terlalu terburu-buru, Lia," keluh Hana.
"Hei, hei! Tunggu aku, Lia!" Tristan yang tadinya mengantuk, kini terbangun dan langsung menyusul kami berdua.
__ADS_1
Namun, sayang sekali dia harus terjebak pada kerumunan penggemarnya lagi. Aku tidak tahan untuk menahan tawa saat melihat wajah lesu Tristan dalam pasrah dihalangi oleh gadis-gadis tersebut.
Hana dan aku langsung meninggalkannya dan pergi ke kantin, lalu memesan dua mangkok pangsit kuah dan air mineral. Tentu saja aku yang menraktir kali ini. Kami pun dudik pada bangku biasanya dan mulai menikmati santapan.
"Aku merasa lebih cantik saat berpotongan rambut seperti ini," ujar Hana pada diri sendiri dengan memegangi kedua pipinya. "Betapa imutnya aku."
"Iya, Hana. Kamu imut sekali," balasku seraya menyuapinya satu potong pangsit. "Aku juga merasa bangga dengan rambut panjang se dada ini."
"Kamu memang cantik, Lia. Bahkan bagian depan rambutmu yang membelah hingga melihatkan dahi juga menambah nilai keanggunanmu," jawabnya setelah tertawa kecil yang membuatku merasa percaya diri level tinggi.
Mendadak, sebuah piring berisikan pangsit dengan kuah merah terletakkan di sebelah Hana dan menghadirkan seseorang yang tidak diundang. Hana pun terkejut dan auto menggeser tubuhnya.
Lagi-lagi aku bertemu si ketua OSIS berandalan.
"Sepertinya, takdir mempertemukan kita," ucap Ricky padaku seraya mengibas rambut depannya ke belakang.
Sejujurnya, dia termasuk memiliki ketampanan yang lumayan. Sangat disayangkan, akhlaknya yang minus, kepribadian yang begitu mengganggu, membuatku tidak merasa nyaman sama sekali.
"Hei, Lia. Bagaimana jika kita pergi beduaan setelah pulang sekolah?" Ricky memberi senyuman tipis, lalu memasukkan pangsit yang terlihat sangat pedas itu ke mulutnya.
Mataku melirik Hana, lalu kembali menatapnya seraya menjawab, "Maaf, aku tidak bisa."
"Iya, Lia ada kerja kelompok bersamaku." Hana pun membantuku karena peka dalam situasi tidak nyaman ini.
Ricky langsung menoleh ke Hana dengan tatapan mengintimidasi. "Kalau begitu, bisakah kau cancel kerja kelompok itu?"
Ketegangan menyelimuti Hana sampai tidak berani menjawab. Laki-laki keras kepala ini akan terus berada di dekatku jika tidak diberikan jawaban yang tepat untukknya.
"Aku bisa memikirkannya. Mungkin esok saja," dustaku dengan berusaha menelan keresahan dari ekspresi wajah.
Untuk menenangkan emosi di hati, aku mencoba meminum air mineral dari botol, dan barulah merasa sedikit segar.
"Begitu? Baiklah, baiklah ..." Tanpa meminta izin, Ricky meminum air mineralku dan memberikan lirikan tajam sekaligus senyum tipis ke arahku. Dasar penggoda kelas kakap! "Aku pergi dulu kalau begitu, sampai jumpa."
Setelah menjetikkan jari dengan gaya sok keren, dia pergi jauh dan aku bersama Hana mengembuskan napas lega secara serentak.
"Aku tidak tahu apa pesonamu, Lia. Sampai-sampai, kedua ketua OSIS sekolah ini menyukaimu!" ucap Hana yang memasang wajah kekaguman.
__ADS_1
Aku menggedik bahu. "Entahlah, Hana. Mungkin saja ... ini kutukan."
- ♧ -