Oh My Love

Oh My Love
Festival yang Mengecewakan


__ADS_3

Syukurlah, matahari bersinar terang di hari ini hingga tidak membuat kendala bagi festival sekolah. Lihatlah bagaimana banyaknya kedai makananan, permainan dan stan-stan keren di dalam kelas yang sudah didekorasi.


Seusai pulang sekolah kemarin, Tristan sudah memberikanku kostum maid indah yang di mana berpasangan bersamanya. Berwarna hitam dan putih, lengan panjang dengan kembang pada pundak, rok selutut beserta stocking yang menambah nilai plus. Tidak lupa juga dengan aksesoris seperti bandana pita dan sarung tangan.


Tidak urung pujian-pujian dari banyak orang telah membanjiri Tristan yang mengenakan kostum maid ala restoran kelas atas. Atau mungkin lebih cocok digelari pelayan kerajaan. Sementara itu, Sasha juga tidak kalah menawan dengan kostum maid sederhana. Rompi hitam, kemeja putih dan pita hitam kecil di kerahnya.


"Lia, kamu ingin menjadi maid juga?" Hana beetanya sembari membawa kotak besar kostum maskotnya.


Tanganku melambai kecil. "Aku hanya menemani Tantan yang tidak suka dipasangkan menjadi maid bersama Sasha. Dia bahkan menolak jahitan buatan anak kelas kita."


Mendadak, tanganku ditarik oleh seseorang hingga aku berdiri di antara Sasha dan Tristan.


"Gila! Kayak satu putri dengan dua pangeran."


"Mereka seperti model iklan dan sama sekali tidak cocok menjadi pelayan."


"Untung saja Lia lumayan memiliki paras cantik, sehingga tidak merusak pemandangan pada dua pria tampan di sebelahnya."


Lagi-lagi tersebar pujian dan aku ikut terciprati.


"Hei, hei! Aku dan Lia asalah couple dresscod di sini!" seru Tristan sembari merangkulku dan sebelah tangannya memberi piece sign saat ada yang tengah memotret kami. "Sedangkan si wajah datar itu, dia tidak diajak."


Setelah mendengar ucapan itu, Sasha memutar kedua bola matanya dan melangkah pergi.


"Kalian berdua couple dresscod? Bagus! Di acara utama, akan ada kontes costum couple dan sistemnya seperti modelling. Kalian harus ikut!" celetuk salah satu gadis di depan pintu kelas.


Aku dan Tristan sontak saling memandang tanda setuju. Pasti hadiahnya hebat dan aku menjadi tergiur untuk menggaetnya!


Karena aku tida bertugas sebagai pelayan sungguhan atau melayani tamu yang datang, maka karena itu aku akan berkeliling di setiap stan dan kedai-kedai di lapangan. Pasti begitu asyik dan tidak ada bedanya dengan taman hiburan tengah kota.


Di kala hendak ke luar dari kelas, mendadak seseorang nyaris menabrakku di pintu. Wajahnya ditutupi oleh kedua tangan, kemudian dia mencoba mengintip dan langsung menangis.


"Hana?" Aku terkesiap dengan kostum maskot dikenakannya yang terlihat kurang bagus.


"Ini bukan kostum maskot, melainkan kostum mempermalukanku," rengek Hana yang memegangi kostum berbulu coklat dengan ekor panjang, alias monyet. "Sepanjang jalan dari toilet untuk berganti pakaian dan ke kelas untuk mengkonfirmasikan kostum telah kugunakan. Bayangkan betapa malunya aku, Lia!"


Buu-buru aku memeluk Hana. "Ganti saja dan bilang pada koordinator jika kamu merasa malu mengenakan kostum ini, Hana."


Ucapanku disetujui dengan anggukan. "Tapi, seragamku ada di toilet."

__ADS_1


Dahiku mengerut. "Kamu lupa membawanya? Astaga, Hana. Kamu harus ke toilet dan melewati banyak orang lagi."


Tidak heran jika Hana enggan menggandakan pakaiannya yang notabenenya hawa hari ini kurang sejuk.


"Maka karena itu, Lia, sekarang aku bingung sekali."


Tidak sengaja, aku melirik ke arah tirai besar yang menghiasi dinding dan mampu menyembunyikan tiga orang di baliknya. Secepatnya aku memanggil salah satu teman sekelas dan meminta pertolongan untuk menjaga tirai tersebut saat aku bersama Hana di dalamnya.


"Ayo, kita bertukar baju sementara," usulku yang membuat Hana terkejut. "Lalu, pergilah ke toilet untuk berganti seragam. Setelah itu, kembalikan kostumku."


"Tunggu dulu, Lia. Apa kamu tidak membawa seragam biasa?"


Kepalaku menggeleng. "Aku berangkat ke sekolah dengan langsung mengenakan kostum. Ah sudahlah, Hana! Ayo cepat kita bertukar di balik gorden besar itu!"


Serta merta kami berganti pakaian dengan buru-buru. Setelah selesai, aku mendorong Hana untuk mempercepatnya pergi ke toilet dan segera berganti pakaian.


Lucu juga kostum milik Hana ini. Aku menjadi merasa pelawak handal jika mencoba menjadi monyet sungguhan. Sayang sekali, Tristan tidak berada dalam kelas karena dia sedang menggubris para penggemarnya yang sangat heboh di luaran. Jika dia ada, kami pasti akan tertawa bersama akibat melihat kostum menggelikan yang kukenakan.


"Wah, Lia. Kostummu sangat lucu. Cobalah bersuara seperti monyet," ucap salah satu teman sekelasku dengan menahan tawa.


"Baiklah, aku akan menjadi seperti monyet. Tapi, monyet rabies yang akan menggigitmu!" Aku pun menderap ke arahnya dengan berpura-pura akan menggigit hingga beberapa anak tertawa terpingkal-pingkal.


OH TIDAK!


Aku lupa jika Kak Kaivan akan menemuiku untuk melihat penampilanku sebagai maid. Sejujurnya, aku merasa biasa saja memakai kostum monyet ini. Akan tetapi, aku tidak ingin berpenampilan konyol khusus di depan Kak Kaivan! Tanpa berpikir panjang lagi, aku langsung berlari ke luar dari kelas dan berusaha berkamuflase di antara keramaian.


"Apakah kamu melihat Lia? Dia anak kelas XI IPA."


Terdengar suara Kak Kaivan dari dekat! Ini pasti yang dirasakan Hana ketika berusaha menutupi identitas diri saat mengenakan kostum. Dengan cepat, aku berhasil sampai di dekat kantin dan bersembunyi di bawah kolong meja-meja secara merangkak. Beberapa anak ada yang terkejut setelah sadar kehadiranku, tetapi aku menegurnya untuk diam secepat mungkin. Adapun toilet khusus perempuan masih berada di seberang dan aku harus melewati jarak senggang pada keramaian.


Hana pasti ada di dalam sana.


Saat aku berdiri dan hendak menyeberang, tiba-tiba terdengar suara pembawa acara utama festival pada panggung lapangan yang bisa kulihat dari sini.


"Mari kita sambut kontestan pertama kita, Sasha Adriansyah dengan Hana Sakura!"


Aku terperangah hebat saat melihat Hana yang mengenakan kostumku bersama Sasha di atas panggung, layaknya pasangan serasi. Wajahnya menampilkan keceriaan dan bangga, sedangkan Sasha tetap tiada eskpresi. Bukankah seharusnya yang berada di sana adalah aku bersama Tristan nanti?


Entah berapa lama aku berdiri sehingga waktu terasa berjalan cepat. Acara pertama tidak terasa akan usai dengan penutupan dalam penobatan pemenang pasangan terbaik. Bukan terperangah ataupun terkejut, aku hanya bisa menatap dengan sedu bagaimana Hana yang dikenakan mahkota kemenangan bersama Sasha.

__ADS_1


Kecewa, benar-benar kata yang tepat untuk dilontarkan.


"Lia, kamu di mana?"


Lamunanku terpecahkan saat mendengar suara Kak Kaivan yang tidak menyerah dalam mencariku. Dengan panik, aku kembali ke kantin dan bersembunyi di bawah meja dengan melantunkan doa agar tidak siapa pun menemukanku. Selang beberapa menit, aku ke luar dan mengendap-endap masuk ke gedung sekolah lagi dengan menoleh ke segala arah untuk memastikan kondisi sekitar.


Bagus, tidak ada Kak Kaivan!


Aku terheran, di mana keberadaan Hana setelah dia puas memenangkan kontes couple costum? Apakah dia kembali ke kelas? Sepertinya iya.


Mendadak, tanganku ditarik dengan keras sapai tubuh ini nyaris terjerembab. Mulutku dibungkam oleh satu tangan untuk mencegah jeritan kaget. Aku pun disandarkan pada ceruk dinding dan langsung melihat bahwa Sasha-lah pelaku simulasi penculikan tadi. Kami berada di himpitan antara dinding dan pilar.


"Gantilah kostummu ini dengan kostumku," perintahnya yang membuatku melongo. "Cepat, aku mengenakan seragam di dalam sehingga tidak perlu khawatir saat melepaskannya."


"Apa maksudmu?"


Dia berdecak kecil. "Kamu mau berpergian dengan begini sampai merangkak-rangkak di kantin? Aku melihat semua tingkahmu!"


Astaga, betapa memalukannya aku!


Spontan aku menutup mata dengan kedua tangan ketika Sasha melepaskan rompi dan kemejanya. Kemudian, dia meletakkan pakaian itu sesudah menarik tanganku sebagai tempat pemberian.


"Sejak berangkat, aku sudah mengenakan seragam. Tidak sepertimu. Lain kali, bawalah prepare," katanya dengan menasehatiku begitu bijaksana. "Cepat pakai. Toilet laki-laki ada di sebelah kita, masukklah."


"Kamu gila? Mana mungkin aku ..."


Mulutku ditutup lagi olehnya dengan satu tangan. "Jangan banyak bicara! Toilet perempuan sangat jauh dari sini."


Benar juga. Mengapa toilet perempuan dengan laki-laki harus berjauhan? Sangat menjengkelkan.


Dengan terpaksa, aku menurut dan pergi ke toilet laki-laki dengan ditemani oleh Sasha. Ruang toilet dengan lima WC yang diberi pembatas-pembatas. Sasha pun berdiri di depan pintu salah satu WC yang aku masuki. Bagaikan kilat, aku usai mengenakan kostum maid laki-laki tanpa pita.


"Sasha," panggilku dengan lirih dan langsung dijawab olehnya menggunakan dehaman. "Aku tidak memakai rok!"


Terdengar suara tepukan yang bisa kutebak bahwa dia menepuk dahi sendiri.


"Oke, aku akan kembali."


"Hei, hei! Kamu mau ke mana? Jangan tinggalkan aku di sini sendirian!"

__ADS_1


- ♧ -


__ADS_2