Oh My Love

Oh My Love
Ujian


__ADS_3

Selama seminggu, aku terus fokus mempelajari semua materi dan memanfaatkan kisi-kisi dari sekolah sebaik mungkin. Menghafal, memahami dan praktik. Kedengarannya, aku begitu alim, tapi sebenarnya tidak.


Di apartemen, aku mendekam dalam kamar terus menerus, terkecuali waktu untuk makan bersama. Memfokuskan diri untuk belajar, dan terkadang mengobrol bersama Tristan melalui telepon dikarenakan dia terus menerus menghubungiku.


Sasha pun terpaksa mencoba menjadi ghaib, seperti menghilangkan segala suara darinya atau menjauhiku dengan jarak minimal satu meter. Gara-gara masalah di sekolah, kami menjadi lebih berhati-hati dari sebelumnya.


Singkatnya, try out dimulai juga, dan membuatku semakin menggebu-gebu dalam belajar. Entah kenapa, pada masa-masa ini, setiap hari terasa begitu lambat. Mungkin, inilah yang dimaksud dari kata-kata orang bijak bahwa waktu itu relatif.


Seminggu berjalan seperti sebulan, kemudian dilanjutkan dengan ujian akhir semester.


Meskipun lembaran soal-soal ini lumayan mudah dijawab, aku tidak berharap lebih mengenai nilai-nilai yang kudapatkan. Karena, berekspetasi tinggi pasti akan berakhir menyakitkan.


Jangan menganggap bahwa aku adalah murid lumayan pintar. Di sisi aku yang pernah terlempar ke lomba akademik, itu pun hanya sebuah formalitas paksaan sekolah agar setidaknya mengeluarkan beberapa murid untuk ditampilkan ke publik dunia pendidikan. Dengar-dengar, sekolah negri ini merasa tersaingi oleh sekolah internasional yang jaraknya tidak jauh. Padahal, sudah jelas-jelas dari gelar yang disandang masing-masing bahwa internasional akan tetap lebih unggul.


Seusainya masa-masa pelepuhan otak, semua peringkat secara paralel maupun khusus perkelas akan dipajang melalui dinding mading. Jadi, yang mendapatkan peringkat tinggi akan bangga telah dipamerkan, sedangkan peringkat rendah akan merasa seolah dipermalukan. Kejadian tahun lalu, sempat ada yang merobek daftar peringkat dan terbuang ke tong sampah.


Aku bersama Hana pergi bersama ke dinding mading setelah pulang sekolah.


"Peringkat kelas XI_B IPA"


Sasha Adriansyah || 01


Tristan Alexander || 02


Lilian Ashley || 03


Hana sakura || 04


Riliana Caleste || 05


Tidak buruk juga peringkatku. Semenjak masih memasuki lima besar, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Sementara itu, aku tidak pernah melihat Tristan belajar sama sekali, tapi dia mampu menduduki peringkat kedua. Di sisi lain, aku melihat ke arah Hana yang tampak kecewa karena penurunan kedudukannya.


"Hei, kita sudah berusaha semaksimal mungkin. Jangan sedih." Tanganku menepuk-nepuk pundaknya untuk menghibur. Hana pun tersenyum dan aku melanjutkan, "Ayo tersenyum. Sebentar lagi akan diadakan festival sebelum kita libur panjang."


"Benar. Kita harus happy fun, Lia. Lupakan saja soal peringkat. Aku berharap kita seharusnya darmawisata seperti sekolah lain setelah ujian." Hana memasang senyuman paksa dan berusaha tegar dengan hasil peringkat itu. "Ah ya sudahlah. Sepertinya aku harus merahasiakan peringkatku pada orang tua agar aku bisa bertamasya sendiri."


Betul apa yang dia katakan. Sekolah kami jarang sekali mengadakan pariwisata. Kepala sekolah terlalu pelit untuk mengeluarkan dana pada murid-muridnya.


"Wah-wah, aku tidak menyangka harus berada di bawah peringkat si wajah datar itu," ucap Tristan yang mendadak muncul di belakangku dan membuatku nyaris menjerit akibat kaget.


Kedua tangannya melingkar di perutku dan dia meletakkan dagu pada bahuku sembari terus meratapi pengumuman peringkat.

__ADS_1


"Padahal, aku sudah mengalah saat ujian agar Lia berada pada peringkat atasku," lanjutnya dengan suara muram.


Aku langsung mencubit pipinya dengan kesal. "Maksudmu, kamu telah sengaja menjawab salah ke beberapa soal demi aku?"


Tristan pura-pura merintih kesakitan dengan berlebihan. "Tentu saja. Aku mau gadis cantik sepertimu menjadi unggul. Aku sudah cukup unggul dari segi visual, otak tidak perlu, Lia."


Kepala Hana menggeleng pelan dan menatap Tristan dengan lesu. "Ada-ada saja tingkah lakumu."


"Kenapa? Kau iri ya, Dora?" tanya Tristan dengan jahil.


"Jangan panggil aku Dora!"


Sasha pun hadir untuk ikut melihat peringkat pada mading. Setelah itu, dia melirikku. Bukan, dia melirik Tristan dengan sinis dan bisa kurasakan bahwa Tristan sedang menggertakkan giginya.


"Sasha, peringkatku turun!" Hana mengeluh dengan sedih dan memeluk Sasha secara mendadak.


"Sabar," balas Sasha pada Hana tanpa mengubah pandangannya dari Tristan. "Hei, perbuatanmu seperti itu akan dianggap melanggar adab di sekolah ini. Jangan samakan negaramu dengan di sini."


Setelah ditegur seperti itu, Tristan justru semakin mempererat pelukannya padaku.


"Perlu kaca? Sebaiknya kau menegur gadis di depanmu itu," timpal Tristan tidak kalah ketus.


Spontan, aku melepaskan tangannya dari perutku dan mencoba menjaga sedikit jarak. Di saat bersamaan, Sasha pun mengelus bahu Hana untuk mengkode melepaskannya dari pelukan. Kejadian seperti ini benar-benar di luar kendali. Aku tidak suka pada pertengkaran mereka.


Dari ujung belakang Sasha, terlihat Kak Kaivan dengan wajahnya berseri-seri yang sedang melangkah mendekat ke arahku. Karena aku merasa senang dengan kehadiran Kak Kaivan, serta merta aku berjalan muntuk menemuinya.


"Kak Kaivan!" sapaku dengan ceria. "Peringkatku menetap di sepuluh besar. Hebat, 'kan?"


Tangannya pun mengelus-elus ubun-ubunku. "Hebat. Adik kecilku ini begitu pintar."


Aku merasa bangga sekali saat dipuji sepeti itu dan berharap waktu berhenti sejenak agar hal seperti ini terus menerus kurasakan.


"Mau kubelikan hadiah sebagai tanda keberhasilanmu?"


Wajahku mulai memerah saat Kak Kaivan menunduk sejenak untuk mensejajarkan wajah kami dalam bertatapan.


"Hei, hei ada apa ini?" Tiba-tiba, Tristan merangkulku dan memasang wajah kebingungan. "Lia, bukankah kamu ada janji berpergian bersamaku?"


Kepalaku menjadi miring seraya menjawab, "Sejak kapan?"


"Sejak sekarang," balasnya. "Ayo, biar aku yang belikan hadiah berlimpah untukmu."

__ADS_1


Aku tidak mau melewatkan momen langka bersama Kak Kaivan. Tristan bisa setiap hari bersamaku, tapi tidak dengan Kak Kaivan. Maka karena itu, aku menggeleng pelan tanda menolak.


"Kak Kaivan jarang sekali ada waktu untukku, Tantan. Aku harus menghargai niat baiknya," ujarku dan menepuk-nepuk pelan pipi Tristan. "Dan seharusnya aku yang memberimu hadiah karena berhasil naik peringkat dua hanya dalam waktu singkat sebagai anak baru di sekolah. Baiklah, kita lain kali saja untuk berpergian ya, Tantan."


"Baiklah, baiklah."


Dia pun pasrah setelah aku memasang wajah welas asih untuk menolak ajakannya. Aka tetapi, aku terkejut setelah Tristan mengecup pipiku sekilas, kemudian melangkah pergi tanpa pamit.


"Apa dia selalu bertingkah kurang ajar seperti itu?" tanya Kak Kaivan yang membuatku tersenyum keki. "Aku bisa saja menghukumnya karena tidak beradab pada gadis."


Kedua tanganku reflek melambai kecil. "Jangan, dia memang suka begitu sejak kecil. Maafkan dia, Kak."


"Ya, jika Lia yang berkata seperti itu. Maka, aku tidak akan berbuat apa-apa."


Kak Kaivan pun mengangguk memberi tanda untuk kami berjalan pergi. Setelah aku berbalik, terlihat Sasha yang masih saja berdiri di tempat yang sama tanpa Hana. Matanya terus menatapku, seakan ingin mengatakan sesuatu. Ah ya, ke mana perginya Hana?


Tunggu dulu. Aku lupa mengenai kekasih Kak Kaivan. Ini kan hari penentuan peringkat dan pastinya Kak Karin tentu hadir ke sekolah.


"Kak ...." Aku menarik ujung baju seragam Kak Kaivan hingga kami berhenti melangkah secara serentak di depan gerbang. "Sepertinya, aku tidak perlu menerima hadiah dari Kak Kaivan."


Seketika Kak Kaivan memegangi sebelah pipiku seraya bertanya, "Ada apa? Apa aku membuat kesalahan?"


Kepalaku menggeleng dan melepaskan tangan Kak Kaivan dari wajahku. "Sepertinya Kak Karin akan cemburu jika kita pergi bersama seperti ini lagi."


Diam sejenak. Kak Kaivan menutup mulutnya dengan satu tangan sembari menatap ke langit.


"Aku sudah putus dengan Karin, Lia."


Tertegun, mengerjapkan mata berkali-kali, berusaha berpikir jernih dan mulai memalingkan wajah dari Kak Kaivan. Rasa bersalah seolah mengalir di urat tubuhku dan mulai berdesir.


Pasangan serasi yang selalu membuat hatiku mendung, kini berpisah. Alih-alih bahagia, justru aku semakin sedih dengan dua hal. Pertama, mungkin Kak Karin cemburu padaku disebabkan kekasihnya sering kali bersamaku hingga rasa bersalah menyelimutiku. Kedua, aku sedih jika Kak Kaivan patah hati hingga wajahnya menampilkan senyuman pahit.


"Apa gara-gara aku?" tanyaku dengan menundukkan kepala. "Pasti Kak Karin merasa sangat tidak suka jika aku berdekatan dengan Kak ..."


"Bukan itu, Lia," sela Kak Kaivan. "Karin begitu posesif. Terlalu mengekang ini dan itu, membuatku tidak menyukai dalam hubungan bersamanya."


Aku mengangguk tanda memahami. Memang sukit jika terjebak dalam hubungan yang sudah tercemari suatu hal hingga menimbulkan ketidaknyamanan. Yeah, sebenarnya aku membicarakan diri sendiri.


"Sudahlah, lupakan hal itu," katanya dengan mengembalikkan wajah ceria. "Aku akan membelikanmu hadiah, sekalian juga membelikan sedikit perlengkapan untuk hari esok."


"Memangnya ada apa untuk hari esok?"

__ADS_1


"Besok festival sekolah, Lia."


- ♧ -


__ADS_2