Oh My Love

Oh My Love
Celaka


__ADS_3

Entah apa lagi yang diinginkan oleh ketua OSIS gadungan itu. Hari ini aku ditugaskan lagi untuk piket UKS dan untungnya hanya sedikit orang yang memerlukan pengobatan.


Seorang laki-laki yang sepertinya adalah angkatan baru di sekolah, kini meminta plester padaku akibat lututnya tergores saat jatuh pada bermain futsal, dan sayangnya stok dimintanya sudah habis.


"Aku perban saja, mau?" Tawaran pun kuberikan.


"Boleh."


Pada akhirnya, aku membersihkan lukanya terlenih dahulu dengan alkohol. Kemudian, mengoleskannya minyak tradisional dan membalut menggunakan perban tipis.


"Terima kasih. Omong-omong, Kakak kelas tiga?" tanyanya setelah bangkit dari kursi untuk mencoba menggerakkan kakinya. Kepalaku mengangguk, lalu dia melanjutkan, "Boleh aku meminta nomor telepon, Kakak?"


"Aku tidak menghafalnya," jawabku dengan senyum dan membuat laki-laki pendek ini sedikit salah tingkah.


"Baiklah, aku pergi dulu, Kak," pamitnya.


Pintu terbuka ketika dia ke luar, tetapi tidak ada suara tertutup lagi. Ketika aku berniat untuk menutupnya dan berbalik badan, rasanya seperti disambar petir saat melihat Ricky menahan pintu.


"Sedang apa kamu di sini?" Pertanyaan itu kulemparkan karena tidak ada penampilan sakit darinya yang membutuhkan pertolonganku.


Ricky pun tertawa. "Jangan kaget begitu dong, Lia. Aku hanya ingin meminta obat karena tadi sedang berkelahi."


Setelah mengucapkan alasan klise itu, dia masuk ke dalam dan duduk di kursi depanku. Matanya yang selalu menatap dengan menggoda tidak berani kulihat sama sekali.


Berpura-pura menyibukkan diri dengan merapikan kapas, aku bertanya, "Mana lukamu?"


Aku sontak mundur karena terkejut di kala Ricky membuka kancing seragamnya secara tiba-tiba. Wajahnya menampakkan kepongahan saat menunjukkan tubuh yang lumayan terbentuk. Apa dia pikir, aku akan menyukainya ketika memamerkan hal begitu? Padahal, tidak sama sekali!


"Mana lukamu?"


"Di sini." Tangannya menunjuk ke perut kotaknya dengan hiasan goresan kecil yang mungkin saja itu disengaja olehnya.


Dengan tingkat kesabaran yang tinggi, aku langsung menuangkan obat oles cair ke jari, lalu mengoleskannya ke luka kecil tersebut. Benar-benar manja, hanya garis merah seperti itu, anak kecil pun tidak akan masalah ataupun menangis.


"Lia, apa kamu punya kekasih?"

__ADS_1


"Tidak."


"Kalau begitu, bagaimana jika menjadi kekasihku saja?" tanya lagi dan lagi. "Meskipun mantanku terhitung begitu banyak. Akan tetapi, ini keberuntunganmu karena akan menjadi kekasih seseorang yang tajir, keren, tampan dan idaman gadis-gadis lainnya."


HOEK!


Jika ada mahkota untuk manusia paling memuakkan, maka Ricky-lah orangnya. Topik pembicaraan ini menyebalkan dan membuatku mual. Seandainya aku berani, ingin sekali obat pahit ini kulemparkan ke wajahnya agar dia sembuh dari penyakit pembuat orang kesal.


"Aku menolak," tegasku. "Sudah selesai. Sekarang, kancinglah bajumu."


Ricky langsung mencengkram kasar pipiku dengan satu tangannya, memicingkan matanya hingga membuatku sedikit takut.


"Jangan jual mahal begitu. Di antara laki-laki yang suka mendekatimu, bukankah aku lebih pantas?" Dia menggigit bibir dan melirik ke bawah setelah mengucapkan kalimat menjijikkan tersebut.


"Lepaskan!" Serta merta aku memberontak ketika satu tangannya lagi meraba pahaku ke atas.


Dalam kepanikan, aku berdiri dan langsung melangkah pergi ke pintu. Namun, gagang tang kutarik sama sekali tidak bergeming. Di saat bersamaan, suara gerincingan kunci terdengar dari belakangku.


"Tidak perlu buru-buru, pintunya sudah kuamankan ...." ungkap Ricky yang membuatku semakin takut dan menggedor-gedor pintu begitu brutal.


"Tidak perlu berteriak seperti itu, Lia. Tidak akan ada yang mendengarmu, karena aku telah meminta wakil OSIS-ku agar mengumpulkan anak-anak ke lapangan untuk mengumumkan pengumuman."


Seketika, dia menarikku tanganku begitu kasar. Kemudian, melemparkanku sampai menabrak ranjang besi. Mulutku menjerit saat kedua tangannya membalik tubuhku, berganti menyatukan kedua tanganku dan mengangkatnya ke atas. Dia mendorong dengan kuat sampai aku terjatuh di atas ranjan yang rendah ini.


Memberontak sekuat mungkin, berusaha menjerit meskipun dibungkam, semua itu sia-sia dibandingkan tenaganya yang kuat. Begitu takutnya aku sampai tidak mampu meneteskan air mata. Gemetaran, meski menolak untuk pasrah. Berkali-kali batinku melantunkan harapan agar diselamatkan, tetapi rasanya aku akan benar-benar celaka kali ini.


Secuil keberuntungan, kakiku berhasil menendang kakinya sampai dia terjatuh dari kasur. Secepatnya, aku mengambil vas bunga dan mencoba melemparnya, tapi Ricky mampu berkelit. Wajahnya semakin geram dengan mengibaskan rambut depan, seolah tidak akan membiarkan domba kecil sepertiku terlepas dari cengkramannya.


"Sialan, jangan melawan!" bentaknya seraya menderap ke arahku.


Sebelah tanganku menggedor-gedor keras ke jendela. Secuil harapan pun hadir dengan lewatnya Hana di depan mataku, dan dia melihatku dengan membelalak kaget. Mulutku langsung menjerit keras ketika Ricky memegangi bahuku dan Hana sontak berlari pergi.


Hancur, masa sekolahku yang indah akan hilang. Seharusnya, aku tidak berada di sini atau mungkin enggan hadir ke sekolah.


Ricky melemparkanku lagi ke salah satu ranjang. Dalam satu sentakkan, dia melepaskan kancing-kancing baju seragamku. Di sela erangan dan gemetar hebat, laki-laki brengsek ini menyapukan bibirnya pada bibirku. Pikiranku berkecamuk, menolak pasrah meskipun tidak bisa membela diri. Dia menahan pergerakan kakiku dengan cara menindih, sedangkan satu tangannya mulai meraba-raba bagian perutku.

__ADS_1


"Begitu mulus, sangat disayangkan jika tidak dinikmati," gumamnya sampai napasnya pun terasa di wajahku.


Begitu menjijikan, dan ingin sekali meraung-raung frustasi. Aku bukanlah ****** yang pantas diperlakukan seperti ini! Tidak ada kesalahanku di masa lalu sampai mendapatkan karma seperti ini!


BRAK! BRAK!


Pintu terdobrak sekali, dua kali, dan ketiga kalinya berhasil terbuka yang membuat Ricky melonjak kaget, lalu menoleh panik.


"Kurang ajar! Siapa yang berani mengangguku di saat seperti ini?" bentak Ricky di sela-sela permohonanku dalam memintanya berhenti.


Tanpa diduga-duga, sebuah tinju melayang ke wajahnya hingga dia terpental jatuh dari atas ranjang. Suara erangan ganas beserta tabrakan akan benda-benda UKS terdengar jelas menakutkan.


Bagaikan waktu berjalan perlahan, Sasha muncul dengan mengangkat kepalan tangannya dan melayangkan serangan. Kedua kerah Ricky diraihnya dan memberi pukulan bertubi-tubi tanpa memberi celah untuk dibalas. Melihat wajah Sasha yang dipenuhi amarah, membuatku bertanya-tanya bagaimana dia bisa tahu kami di sini?


"LIA!"


Hana muncul dengan histeris, membawaku keluar dari ruangan terkutuk ini dan membantuku memasangkan kancing-kancing yang sebagian telah hilang. Tangisanku pecah di pelukannya, membuatku merasa muak dengan tubuh yang sudah tersentuh secara najis.


DRAK!


Kami berdua serentak menoleh dan berteriak kala melihat Sasha yang terpelanting ke lemari kayu yang berisikan obat-obatan cair yang beruntun jatuh hingga pecah. Tanpa jeda, Ricky mengayunkan kakinya dengan menendang ke pelipis lawannya.


Sungguh brutal, dan mengerikan!


"Kalian jika membocorkan hal ini, maka akan kuhabisi juga!" Ricky mengancam ke Hana dan aku.


Belum sempat dia menghampiri kami, Sasha menjambak rambutnya dan memberi tendangan lutut di bagian kepala belakang. Hana mengambil kesempatan untuk membawaku kabur dengan merangkulku sekuat tenaga. Aku seperti tidak sanggup berjalan, seakan-akan energi habis hanya untuk ketakutan.


Seandainya mereka berdua tidak ada, maka hidupku akan terasa kiamat. Aku ... sungguh bersyukur mengenal mereka.


Di tengah jalan, anak-anak mulai berlalu lalang dan keramaian kembali muncul. Hana pun berteriak meminta tolong agar ada yang menghampiri UKS. Anak-anak yang tidak ingin ketinggalan berita pun langsung meluncur menuju lokasi pertengkaran antara Ricky dan Sasha, bahkan ada seorang guru yang tidak kalah pergi ke sana.


"Tenanglah, Lia. Aku ada di sini," bisik Hana yang begitu memberi rasa iba padaku. "Kita harus ke kelas dahulu."


Untuk pertama kalinya, aku merasakan kehororan hidup yang begitu nyata dan seolah akan mengancam nyawaku.

__ADS_1


- ♧ -


__ADS_2