
Setelah menghabiskan waktu satu jam dalam membereskan barang-barang pribadi dan beristirahat sebentar, kami berangkat dengan berjalan kaki untuk berkeliling puncak sampai ke kaki pegunungan. Seperti kegiatan pramuka, tetapi jauh lebih santai.
Sebelum itu, kami semua menghamburkan diri ke kios-kios yang berteberan cinderamata dan sangat menarik. Ada yang berjualan buah-buahan, sayuran dan makanan hangat. Namun, sayang sekali Sasha melarangku untuk menghamburkan uang pada mereka semua.
Kami semua berlanjut berkeliling-keliling sembari diperintah oleh para pemandu untuk mengobservasi beberapa objek menarik. Jalan setapak yang lumayan luas, dipagari kayu-kayu besar dan cukup kokoh untuk mencegah anak-anak yang iseng terjun ke bawah. Pemandangan ke bawah pun sangat indah dan tidak akan merasa bosan setiap kali mengaguminya.
Berkali-kali Hana berteriak panik karena kotornya jalanan dan terinjak-injak sampai tanah basah terciprat ke celana putihnya. Tristan tertawa keras bersamaku, dan Sasha hanya menggeleng kepala atas tingkah kami semua.
Taman kecil ditemukan oleh seseorang yang di mana banyak bunga-bunga pegunungan dan pohon-pohon buah yang bisa kami petik. Terdapat sebuah teropong yang memandang ke asrian di bawah. Beberapa ada yang berfoto-foto dengan meriah, bermain kejar-kejaran, terpeleset, memanjat-manjat, dan syukurlah tidak ada hal-hal sakral yang mengganggu.
"Ayo kita naik kanu bebek! Ayo-ayo, semuanya ikut!" teriak salah satu anak yang menemukan danau saat kami sampai di kaki gunung.
"Sepertinya akan mendung. Aku tidak ikut," sahut gadis yang berada di depanku.
"Aku ikut! Kegiatan ini jarang sekali dilakukan. Aku mau menyewa para bebek itu!" celetuk yang lainnya.
Serta merta aku menghampiri Sasha dan berkata, "Ayo kita menaiki kanu bebek itu! Kumohon, boleh, tidak?"
Di sela-sela memohon pada Sasha, karena hanya dia yang memegang uang agar aku tidak boros, gerombolan gadis-gadis penggemar Tristan mulai mengerumuninya dan mengajak hal yang sama sepertiku.
"Sepertinya, kehadiran Tristan membuatku lebih leluasa," kata Sasha yang memandangi para gadis itu dengan prihatin. Kemudian, dia kembali menatapku yang sedang menarik-narik ujung bajunya. "Baiklah-baiklah. Sebaiknya kita harus cepat, karena banyak anak yang ingin menyewanya."
Buru-buru kami berdua pergi menyewa kanu bebek tersebut dan menaikinya dengan bersemangat. Cara menjalankannya bukanlah menggunakan pengayuh tangan, melainkan pengayuh kaki seperti bersepeda dan tempat duduk seperti sofa hingga kami bisa menjalankan bebek dengan santai.
"Lia! Seharusnya, kamu ikut denganku!" teriak Tristan dari jauh yang sudah menaiki satu bebek.
"Aku ikut, aku ikut! Jangan tinggalkan aku!" Hana ikut menyusul dengan menaiki kanu milik Tristan secara melompat.
"Hei, hei, hei! Jangan melompat sembarangan seperti itu!" Kepanikan melanda Tristan. "Sial, kapal ini akan jatuh."
__ADS_1
Hana menjerit terhadap goncangan dengan didukung gelombang danau yang cukup deras. Hingga akhirnya, mereka menjadi terjatuh dan untungnya skill renang telah terkuasai untuk selamat dari air yang dalam ini.
"Mereka gampang tercebur ke air. Kita harus hati-hati juga, Lia," kata Sasha yang mengayuh kanu dengan perlahan.
"Baiklah."
Keadaan mereka berdua membuat anak-anak lainnya sedikit panik. Malang bagi Tristan dan Hana yang harus kembali ke penginapan untuk berganti pakaian. Mereka pasti menggigil karena suhu di sini sangatlah dingin.
"Dingin?" Sasha melepaskan jaketnya dan mengenakannya padaku. Padahal, aku belum menjawab pertanyaannya itu.
Kaosku terlalu tipis dan seharusnya aku menenakan jaket sepertinya.
"Terima kasih," balasku, lalu melihat ke arah hutan-hutan yang jauh di belakang Sasha. "Kamu tidak kedinginan?"
"Tidak, gunakan saja itu." Dia pun ikut menoleh ke arah belakang. "Sedang melihat apa?"
Danau ini sangat luas sekali. Kuperhatikan beberapa lama, bentuk kawasan air ini seperti angka delapan. Bahkan, aku melihat seperti ada hiliran sungai.
"Nikmati saja, ini kan keinginanmu," ucap Sasha yang fokus memandang ke depan. "Jangan khawatir, gerombolan sekolah kita tidak akan pergi tanpa mengabsen."
Kami mengayuh dengan sesuka hati, sesekali mengobrol beberapa topik random yang sangat sulit membuat Sasha tertarik selain membahas pelajaran.
DAR!
Suara petir menyambar dan membuatku menjerit hingga Sasha mendekapku dalam pelukannya. Dia tahu jika aku sedikit takut dengan petir dan berinisiatif menenangkanku.
Rintik hujan mulai hadir dan membuat Sasha buru-buru mengayuh kanu untuk kembali ke dermaga kecil. Namun, gelombang air begitu deras dan mencegah kami untuk pergi ke arus berlawanan. Kanu menjadi terombang-ambing dengan keras dan aku mencengkram baju Sasha untuk menahan diri dari terjatuh. Dia pun menggenggam tanganku erat-erat sampai dan mencoba menjaga keseimbangan. Kami terhampar ke bagian danau terjauh dan dermaga sudah tidak terlihat akibat tertutupi oleh daratan sekaligus pepohonan.
BYUR!
__ADS_1
Kanu tergoyahkan dengan dahsyat dan menjatuhkan kami ke dalam air.
Sialnya, aku tidak bisa berenang untuk memunculkan diri ke permukaan. Aku hanya bisa mengandalkan napas dan paru-paruku untuk bertahan. Air mengelilingi dengan tingkat cahaya yang rendah. Begitu dingin dan rasanya tubuhku seperti batu yang sangat berat hingga perlahan akan turun di dasar air ini. Sangat dalam, aku bisa merasakan begitu lambatnya tubuhku untuk menyentuh dasar dan sedikit lagi akan kehabisan nafas untuk bertahan dalam kesadaran yang sangat singkat.
Sementara itu, bibirku menyunggingkan senyum lega sebelum napas habis dalam melihat Sasha yang menyusulku begitu cepat.
Tangannya menjulur ke arahku, wajahnya terlihat pucat. Dirinya yang begitu menampilkan air muka ketakutan, justru diriku berekspresi lega dengan nyaman.
Aku ditarik dengan kuat, bersamaan dengan air yang mulai memasuki saluran pernapasanku. Akhirnya, kami berhasil ke permukaan dalam keadaan hujan deras.
"Lia, bertahanlah!" Sasha terdengar terengah-engah dan sudah pasti kedinginan. Sedangkan dermaga sangatlah jauh dari sini. "Kita harus ke daratan terdekat."
Kepalaku sangat sakit dan tidak kuat untuk ikut berjuang ke daratan bersamanya.
"Bertahanlah, bertahanlah!" tegas Sasha.
Aku berusaha mempertahankan kesadaranku, sampai kami berhasil ke daratan dengan menggigil hebat. Sekilas, terlihat bibir Sasha yang mulai membiru dan aku pasti tidak kalah pucat dengan wajahnya.
"Di seberang ada gubuk ... jauh sekali, tapi kita harus ke sana!" ucapnya sembari merangkulku dan membantuku berjalan setelah terbaring di atas tanah. "Ayo, Lia. Kita harus berusaha berteduh. Kita tidak bisa berlindung di bawah pohon, berbahaya."
Benar, pohon adalah sarana tepat untuk memancing petir menyambar kita.
"Aku pusing sekali," kataku dan baru ingat bahwa kanu yang tadinya membuat kami terjatuh telah membentur kepalaku sebelum tenggelam secara bersamaan.
"Baiklah." Sasha menggendongku di punggungnya.
Dengan usaha semaksimal mungkin, kami pergi menuju gubuk yang jauh sekali dan harus mengitari danau. Sesekali, Sasha terpeleset, kaki gemetar dan tubuh tersiksa dengan kedinginan. Tour yang seharusnya menyenangkan, justru menjadi menyiksa seperti ini.
- ♧ -
__ADS_1