Oh My Love

Oh My Love
Anak yang Hilang


__ADS_3

Tibalah waktu sekolah yang membuatku bersemangat. Tentu saja tangan Sasha kugenggam saat berangkat menuju sekolah, agar menunjukkan pada dunia bahwa kami benar-benar sepasang kekasih.


Di kala kami memasuki bus menuju sekolah, terlihat pada tempat duduk terdepan seorang gadis kecil berpakaian merah muda dan masih mengenakan popok. Sepertinya, dia bisa berjalan dan berumur dua tahun, atau mungkin kurang. Dari seluruh penumpang, tidak ada yang bersikap mempedulikan anak itu.


"Sepertinya, ibunya lupa membawanya," ucapku sembari duduk di kursi sebelah gadis tersebut, lalu memangkunya.


Akhirnya, berujung dengan pecahnya suara tangisan.


"Astaga, Lia." Sasha menutup wajahnya dengan satu tangan akibat semua pandangan tertuju ke arahnya akibat erangan bayi kecil ini. "Biarkan saja anak itu."


"Dia anak yang hilang. Kasihan, Sasha," balasku cemberut, kemudian kembali menatap si kecil ini. "Hei, hei, hei. Siapa namamu? Jangan nangis, ya ... mamamu pasti akan datang."


Bus mulai berjalan dan anak kecil ini terdiam seolah menyukai pergerakan kendaraan. Sementara itu, Sasha duduk di sebelahku dan memandangi si bayi dengan malas.


"Kamu tidak suka anak kecil?" tanyaku sembari bermain-main dengan kedua tangan mungil ini.


"Tidak terlalu."


"Jangan begitu." Aku membalik tubuh bayi ini menjadi menghadap ke arahku dan terlihatlah wajahnya yang sangat menggemaskan. "Nanti jika kamu menjadi seorang ayah, pasti mengurus bayi juga."


Sasha terdiam tanpa merespons.


Pipi tembam dan sedikit merona, rambut pendek seperti Hana, mata besar dan perut yang gemuk. Lucu sekali, aku tidak kuat untuk terus menerus mencubit kulitnya.


"Kita sudah sampai, letakkan bayi itu," perintah Sasha seraya bangkit.


"Ayo."


"Jangan bawa bayinya."


"Hei," Aku menatapnya dengan kesal. "Sedari tadi, seisi bus tidak ada yang mempedulikan bayi ini. Dia adalah anak hilang dan kita harus menolong untuk mengembalikkan ke orang tuanya."


"Caranya?"


"Tentu saja ke kantor polisi."

__ADS_1


Kami berdua ke luar dari bus, lalu Sasha bertanya, "Kamu akan dihitung terlambat jika pergi ke kantor polisi sekarang. Para OSIS akan menghukummu jika kembali ke sekolah."


Benar juga. Setelah aku mengembalikkan anak ini, tiada bukti di tanganku jika sedang melakukan pertolongan. Untung saja Sasha mengingatkanku.


"Baiklah. Maka tidak ada pilihan selain membawa si kecil menggemaskan ini," kataku dengan bersemangat berapi-api, lalu memasuki sekolah dengan tidak mempedulikan teguran Sasha yang bercuap-cuap.


Aneh, anak seimut ini bisa dilupakan oleh ibunya dan tidak disukai oleh Sasha.


Sesampainya aku di kelas, banyak anak yang langsung menghampiriku untuk melihat bayi pada gendonganku ini. Karena terlalu ribut, dia menangis dan seketika digendong oleh anak lain yang mampu mendiamkannya dalam sekejap.


"Apa itu adikmu, Lia?"


"Menggemaskan sekali, benar-benar tidak tahan untuk mencubit pipinya!"


"Wah, aku tidak bawa snack untuk bayi imut ini. Lain kali, aku akan bawa untuk jaga-jaga."


Sasha hanya menggeleng dengan pasrah dalam menonton tingkah laku kami, lalu dia duduk dan membaca buku pelajaran.


"Lia," Tiba-tiba Tristan muncul di sebelah kiriku dengan menunjuk-nunjuk bayi tersebut. "Sejak kapan kamu punya adik."


"Dia bukan adikku, Tantan."


"Jangan bicara seperti itu, nanti ada yang salah paham," jawabku, lalu kembali mengambil si bayi imut tadi. "Akan kubawa anak ini ke kepolisian dengan laporan anak hilang. Kalau sekarang, sepertinya para OSIS tidak mengizinkanku."


Semua mata memandang kami berdua dengan iba dan manggut-manggut tanda memahami.


"Aku jadi susah memanggilmu. Namamu siapa?" Aku berbicara pada bayi ini yang sedang mengemut tangannya. "Biar kupanggil dengan 'Lia kecil' saja, oke?"


"Aku ada biskuit, apa boleh kuberikan pada bayi itu?" Hana menunjukkan bungkusan biskuit susu dan aku mengangguk tanda setuju. "Sepotong biskuit untuk Lia kecil .... Untuk Lia besar tidak usah."


Sasha terkekeh dengan ucapan Hana dan membuatku meliriknya dengan kesal.


"Tidak ada yang namanya Lia besar." Tristan mencomot biskuit Hana dan melahapnya ke mulut. "Mereka berdua sama-sama imut. Tapi, masih imutan Lia yang ini." Jarinya menunjuk ke arah kepalaku. "Jadi, dua-duanya adalah Lia kecil."


Jam pelajaran pun tiba dan sesuai dugaanku, setiap guru yang mendatangi kelas akan menanyakan tentang si Lia kecil di pangkuanku. Aku tahu bahwa ini larangan tidak tertulis, tapi mustahil kubiarkan bocah ini kulepaskan begitu saja saat diperintah untuk menitipkannya ke ruang guru. Para guru pasti tidak mau bertanggung jawab karena mereka sangat sibuk.

__ADS_1


Singkatnya, jam istirahat dimulai dan aku lebih baik mengisi perut lebih dulu sebelum izin ke luar sekolah. Kuminta Hana untuk menggendong Lia kecil sebentar agar aku bisa memesan kwetiau goreng dua porsi untuknya dan aku. Hana ingin berbelanja juga, tetapi kedua tanganku sudah penuh untuk bergantian menggendong. Selanjutnya, Tristan menjadi sasaran penggendongan bayi dan Hana berbelanja sesuka hati.


Rupanya, menjaga bayi lumayan sulit.


Lihat saja Sasha, dia begitu santai dalam menunggu kami di meja kantin sembari bermain rubik yang mengasah otak seperti biasanya. Seharusnya, dia juga ikut peran dalam menggendong!


"Sepertinya pahaku kaku karena memangku bayi dua jam non stop," keluhku seraya menyuap kwetiau goreng, lalu memberikan sesuap pada Sasha yang duduk di sebelahku.


"Aku sudah bilang untuk tidak membawa bayi itu," balas Sasha bersamaan dengan usainya penyelesaian rubik.


Hana pun menyambung, "Jika anak hilang, harus dibantu. Perilaku Lia sudah benar, meski melelahkan juga."


Seketika Tristan hadir dengan membawa sepotong waffle yang sudah tergigit, lalu menawarkannya padaku dan kutolak menggunakan gelengan kepala.


"Hei, mana Lia kecil?" Hana memelototinya tajam.


Jari telunjuk Tristan menunjuk ke arahku. "Ini. Memangnya kau tidak lihat?"


Dalam seperkian detik, aku pun sadar bahwa Lia kecil tengah menghilang. Mataku pun ikut memelototi Tristan yang tersangka terakhir kali dalam membawa bayi imut itu.


"Apa?" tanyanya dengan wajah polos. "Oh, si kecil itu. Aku menitipkannya pada fans girl-ku."


Aku, Hana dan Sasha tertegun karena terkejut bukan main.


"Aku akan menghukummu nanti, Tantan!" ucapku sembari bangkit dan berjalan cepat ke luar kantin untuk mencari Lia kecil.


"Baik, Lia! Kutunggu hukuman darimu. Ah, hukuman Lia pasti manis sekali," balas Tristan yang membuatku nyaris darah tinggi.


Kami bertiga berkeliling-keliling secara berpencar. Mencari di setiap sudut, kolong meja, jalanan dan tangan setiap orang yang siapa tahu membawa Lia kecil. Benar-benar menbuatku takut sampai jantung terasa tengah senam, sedangkan ibu kandungnya pasti jauh lebih panik dariku saat kehilangan seperti ini.


"Hei, Lia ...."


Mendadak, bahuku dicolek oleh seseorang dan membuatku hampir berteriak. Saat membalik badan, aku membelalak hebat dengan apa yang terlihat.


Lia kecil sudah ditemukan! Akan tetapi, yang membuat mataku membulat ialah orang menggendongnya.

__ADS_1


"Kak Kaivan?"


- ♧ -


__ADS_2