Oh My Love

Oh My Love
Salah Rasa


__ADS_3

Jantungku berdegup kencang saat berada di posisi mengerikan. Toilet laki-laki lebih horor daripada rumah hantu di wahana permainan! Bagaimana jika ada orang yang mengetuk dan bertanya apakah toilet ini dihuni? Lantas, aku harus menjawab apa dengan suara yang jelas-jelas mencerminkan sebagai gadis?


Keteganganku semakin bertambah di kala mendengar suara pintu toilet utama terbuka dan keran wastafel sedang mengalirkan air. Gawat, ke mana Sasha yang harusnya menjagaku?


"Di mana ya keberadaan Lia?"


JLEB!


Rasanya seperti ditikam dadakan akibat terkejut dengan suara tersebut. Benar-benar bahaya, kenapa harus kebetulan Kak Kaivan berada di sini?


Suara pintu utama terbuka untuk kedua kalinya dan suasana menjadi hening sejenak.


TOK! TOK! TOK!


Bulu kudukku meremang ketika pintu WC di depanku ini terketuk. Bagaimana caranya aku memberitahu jika ada seseorang di dalam sini?


"Ini celananya."


SYUKURLAH, RUPANYA ITU SASHA!


Dengan membuka sedikit celah pintu, aku mengeluarkan tanganku dan langsung menerima sebuah lipatan celana.


Secepat mungkin, aku mengenakan celana hitam ini, lalu berbisik, "Apakah aku bisa keluar?"


Tidak ada jawaban, dan aku langsung tertuduk di atas tutup WC dengan pasrah. Berapa lama aku harus berada di tempat apak ini?


"Toilet sudah kosong. Ayo, keluarlah," bisik Sasha yang membuatku senang bukan main dan bisa bernapas lega.


"Tadi, Kak Kaivan ada di sini, bukan?" Aku bertanya, tetapi menjadi salah fokus setelah melihat Sasha mengenakan celana seragam abu-abu. "Sepertinya, kostum yang aku kenakan harus dipulangkan esok saja agar tidak ada yang curiga."


"Ya, sebaiknya begitu," jawabnya tanpa menggubris pertanyaan pertamaku.


Kami berpisah ketika sudah keluar dari satu koridor dan sepanjang jalan aku tidak menemukan keberadaan Hana sama sekali. Bahkan, Kak Kaivan juga tidak terlihat batang hidungnya.


Begitu lamanya aku berkeliling stan-stan, dan akhirnya menemukan Kak Kaivan yang sedang berbincang-bincang bersama Kak Karin. Melihat pemandangan ini, membuatku teringat kejadian kemarin yang di mana Kak Kaivan menolakku dengan alasan klasik.


Kala itu, aku tidak percaya dengan apa yang dikatakannya dan berusaha memastikan telingaku baik-baik saja.


"Kak, apa menganggapku sedang bercanda?" tanyaku sungguh-sungguh.


Dia pun menggaruk belakang rambut ala duta shampo dengan canggung, lalu mengelus rambutku. "Aku sungguh-sungguh."

__ADS_1


Satu hal yang mendorongku untuk mengambil kesempatan yang sudah lama kutunggu-tunggu, yakni Sasha. Hana dan dia dalam proses berpacaran dan aku juga harus mengikutinya. Singkatnya, aku hanya ikut dia dalam mengcontohkan diri kebebasan ada pada pernikahan kami.


"Meskipun aku sudah putus dengan Karin, bukan berarti aku sedang menutup hati," ujar Kak Kaivan lembut. "Kamu lihat kan bagaimana sulitnya kami menjalani hubungan? Bertengkar, sulit memahami, berbagai masalah yang dihadapi dengan keegoisan. Semuanya berujung usai dan kehilangan kontak masing-masing.


Aku termenung dan memahami perasaannya yang sesungguhnya tidak mau memisahkan diri dariku dengan cara enggan merusak hubungan seperti berpacaran.


"Tapi ... kita tidak tahu ke depannya, bukan?" lanjutnya dan aku sontak mendongak seolah mendapatkan harapan. "Lia, adikku tersayang. Jangan memasang tampang murung begitu karena ucapanku. Ayo tersenyum."


Aku seperti telah digantungkan perasaan olehnya. Meski begitu, aku sedikit malu karena menyatakan cinta berujung tertolak meski secara baik-baik.


Kini, kubuyarkan lamunanku saat Kak Karin menyadari aku yang berdiri menatap mereka dalam kejauhan. Kemudian, dia pergi dengan melangkah berat seperti dihentak-hentakkan dalam menggunakan sepatu heels. Awalnya, aku mengira Kak Kaivan mengejarnya, tapi justru dia menghampiriku.


Dari perlakuannya saja sudah membuatku terbawa perasaan.


"Astaga, Lia. Dari mana saja? Kamu sudah kucari ke seluruh sekolah," ucap Kak Kaivan dengan air muka kelelahan.


"Maaf. Tadi, aku menonton kontes couple costum." Telunjukku menggaruk pelipis akibat merasa keki. Untuk menghilangkan situasi canggung ini, aku mencoba menarik pembicaraan lain. "Bagaimana jika kita mengeliling stan-stan kelas, Kak?"


Seharusnya aku tidak mengatakan hal ini, karena hatiku masih berkecamuk rasa rendah diri setelah tertolak.


"Ide bagus. Ayo."


Kutepiskan pikiran yang menganggu tersebut dan kembali fokus pada ajakan Kak Kaivan dalam menghampiri stan drama, stan restoran jepang, kedai-kedai di lapangan, bermain permainan yang sama saja seperti taman bermain di tengah kota dengan suasana berbeda.


"Kak Kaivan, tadi sedang membicarakan apa dengan Kak Karin? Apa kalian tengah balikan?" tanyaku ketika kami duduk berdua di ayunan bawah pohon yang baru saja dibuatkan oleh beberapa anak.


Sebelum mendapatkan respons, aku melihat Hana serang melingkarkan kedua tangannya di lengan Sasha dan berjalan pergi memasuki gedung. Namun, Sasha pun melepaskan Hana, lalu berjalan pergi seolah tidak nyaman.


"Iya, bagaimana kamu tahu?" balas Kak Kaivan.


Dia mengatakan bahwa hubungan mendalam akan berujung berpisah. Akan tetapi, dia justru kembali ke masa lalunya. Bukankah jika begitu, dia bisa denganku saja?


"Mau bagaimana pun, aku seperti tidak bisa hidup tanpanya." Embusan napas terdengar darinya. "Dia juga begitu. Tapi ..."


"Tapi apa?"


"Dia memintaku untuk memutuskan hubungan denganmu."


Mulutku terkunci rapat-rapat, tidak tahu harus menjawab apa sebagai pembelaan. Jelas-jelas Kak Kaivan mengatakan bahwa dia begitu mencintai kekasihnya. Otomatis, lebih memilih keputusan gadis spektakuler itu dari padaku.


Kepalaku menunduk. "Tidak apa." Aku terdiam sejenak. "Jika boleh tahu, kenapa Kak Karin meminta kita seperti itu?"

__ADS_1


"Karena dia mendengar percakapan kita kemarin, Lia."


JLEB!


Hatiku benar-benar terasa dihantam oleh bebatuan. Malu, penyesalan dan bersalah, bercampur jadi satu. Seharusnya, aku tidak ceroboh dalam menyatakan perasaan hingga berakhir buruk seperti ini! Mataku terasa panas dan tanganku menggenggam tali ayunan dengan keras.


"Tenang, meskipun begitu, aku akan tetap berusaha agar hubungan kita tidak terputus."  Kak Kaivan bangkit dan menghadap ke arahku seraya memberi elusan di kepala. "Jangan menangis lagi meskipun aku tidak ada. Ah ya, Karin menungguku di luar sana karena sudah waktunya pulang. Tadi, dia memberiku kesempatan untuk mengucapkan perpisahan padamu."


Bagaimana caranya aku bisa tersenyum di situasi ini?


"Yah, ini pertemuan terakhir kita. Mungkin, aku akan kesulitan untuk menemuimu, adikku tersayang. Maka karena itu, kakakmu ini mengucapkan selamat tinggal."


Ucapan yang membuat hatiku nyeri, tubuh membeku dan mata menatap nyalang ke arah laki-laki yang tengah berbalik badan, lalu pergi begitu saja. Aku benar-benar bodoh dan tidak bisa membaca situasi.


Dalam seperkian detik, aku baru tersadar jika aku kehilangan keberadaan Kak kaivan. Secepatnya, aku bangkit dan berlari masuk ke dalam gedung untuk mencarinya. Di tengah perjalanan, aku teringat bahwa dia pergi ke luar. Secepatnya aku berbalik saat sudah menginjak lantai dua yang tadinya ingin ke kelas Kak Kaivan di lantai ini.


Aku bahkan belum mengucapkan kalimat perpisahan atau pemberian khusus sebagai kenang-kenangan kami. Mengapa aku begitu ceroboh dalam membiarkannya pergi begitu saja?


Berkali-kali batinku melantunkan doa agar bisa bertemu dan memeluk Kak Kaivan walau untuk yang terakhir kali.


Alih-alih bertemu dengan Kak Kaivan, justru aku bertemu Hana dan Sasha tengah berduaan di depan balkon salah satu kelas. Entah sihir apa yang menghampiri, aku menjadi mematung dan begitu jelas dalam mendengar obrolan mereka.


"Sejak kecil, kamu selalu peduli padaku. Melindungiku, berbagi bersama dan bermain dengan riang. Tidakkah kamu mengingat itu?" tanya Hana yang memegang tangan Sasha di atas pembatas balkon. "Lantas, kenapa kamu berubah, Sasha?"


Laki-laki dingin itu tidak menjawab.


"Kamu lihat tidak, Lia bersama ketua OSIS? Mereka begitu serasi," lanjut Hana yang mengalihkan pembicaraan dalam menyebut namaku. "Aku tahu bahwa kostum milikmu telah kamu berikan padanya."


"Sedangkan kostum yang kau pakai adalah miliknya." Sasha membuat Hana terbungkam dengan jawabannya.


"Lalu, apa urusannya denganmu? Kamu menyukai Lia, Sasha? Ayo, katakan padaku!"


Ini bukanlah Hana yang kukenal. Bukan seorang pemaksa, pembuat seseorang kecewa, bahkan membicarakanku dengan berbau sedikit bumbu negatif. Ada apa dengannya? Apakah rasa cintanya membutakan persahabatan kami?


"Bukan urusanmu," balas Sasha. "Untuk ke sekian kalinya, Hana. Berhentilah memintaku untuk menjadi kekasihku. Sampai kapan pun, aku tidak akan mau."


Terkejut dan sedih, itulah yang Hana rasakan sampai terlihat pelupuk matanya tengah menggenang. Aku yang menonton mereka berdua tidak bisa memberi reaksi apa pun.


Ketika mereka berdua membalik badan serentak dan Sasha hendak meninggalkan Hana, mereka membelalak sekaligus terdiam dalam menatapku. Mereka tahu pasti jika aku mendengar obrolan tadi. Jadi, apakah aku harus marah atau justru kebalikannya?


- ♧ -

__ADS_1


__ADS_2