
Hening sejenak, sebelum semua orang memasang wajah super terkejut yang tidak bisa kupedulikan sama sekali. Sasha dan Hana tidak kalah kaget dari semua orang, termasuk Pak Guru yang tengah mendekat dengan wajah begitu berkerut.
"Apa bapak tidak salah dengar?!" tanya beliau dengan ketus, lalu menoleh ke arah anak-anak lain dan berteriak, "Kalian, cepat bantu dia untuk dibawa ke UKS!"
Dengan cepat, beberapa gadis merangkulku dan langsung membawa ke UKS.
"Sasha Andriansyah! Ikut saya ke ruang BK!" perintah Pak Guru yang membuatku cemas berat setelah mendengar dari kejauhan.
Emosi ini sulit kukontrol, seolah bendungan dalam memendam sudah tidak bisa ditahan. Seharusnya, aku berlatih mengontrol perasaan ini dan berpikir dua kali sebelum berbicara. Aku ... benar-benar ceroboh hingga Sasha yang harus menjadi korban.
Selama dirawat dalam UKS, aku terlalu cemas dan rasa sakit di perut tidak terhiraukan. Akhir dari segalanya pasti akan menjadi bahan gosip yang panas mengenai kehamilan ini. Semua orang akan tahu dan pihak sekolah tidak mungkin mempertahankan hal yang tidak lumrah ini. Semoga saja tidak begitu. Berkali-kali kulantunkan doa pada batin agar Sasha tidak mendapatkan beban tanpaku saat di sidang.
"Lia," panggil seorang gadis dengan canggung. "Apa kamu sudah merasa enakan?"
Dengan menatap lemas, aku menjawab, "Ya."
"Kalau begitu ..." Matanya melirik ke kanan. "Kamu terpanggil ke kantor kepala sekolah. Pak Guru olahraga mengatakan jika cideramu tidaklah berat hingga perlu memanggil doker. Maka karena itu, kamu harus pergi."
Dalam keadaan berat hati, aku menyambut uluran tangannya untuk membantuku bangkit dari ranjang, lalu berdiri dengan gugup. Aku memiliki firasar buruk akan kedepannya nanti.
Sesampanya kami di depan kantor kepala sekolah, gadis ini berpamitan denganku. Berkali-kali aku menghela dan mengembuskan napas agar menenangkan diri sebaik mungkin. Meyakinkan diri untuk menahan emosi sekuat mungkin agar tidak menyambut masalah lagi dan lagi.
Tanganku pun menarik gagang pintu dan tampillah Sasha yang tengah duduk di sofa, sedangkan sang empu ruangan tentunya berada di bangku khusus tersendiri. Bukan seorang ayah yang kehilangan anak bernama Ricky, melainkan pria paruh baya lain yang mengantikan posisi tinggi ini. Pihak yayasan pasti mengubah posisi akibat kasus yang terlibat sebelum ini. Semua mengartikan bahwa orang di hadapanku tidak mengetahui hubunganku bersama Sasha.
__ADS_1
Aku duduk di sofa dengan berhadapan pada kekasihku yang tengah memasang wajah murung sembari menunduk.
"Saya tidak menyangka bahwa sekolah yang saya tempati memiliki murid seperti ini. Sudah jelas bahwa berpacaran di sekolah adalah tindakan yang melanggar aturan besar." Beliau menatapku lekat-lekat dan aku langsung menunduk. "Lalu, kalian membuatebih buruk lagi dengan hamil?"
Aku mendongak dengan memelas. "Pak, kami minta maaf atas ..."
"Tidak ada maaf-maafan di sini!" bentak Pak Kepala Sekolah yang membuatku tersentak, sedangkan Sasha semakin menunduk. "Kalian menyebarkan citra buruk sekolah ini! Kalian tidak hanya berdampak pada diri kalian sendiri, tetapi juga merusak citra sekolah dan bisa mengundang masalah bagi lingkungan sekitar."
Rasanya, aku ingin menangis. Kedua tanganku sontak menutupi wajah yang kaku akibat akan menumpahkan air mata. Ketegangan ini pasti lebih mengerikan yang dirasakan Sasha daripada diriku sendiri.
"Pertanyaannya sekarang adalah, apa yang akan kalian lakukan dengan masalah ini? Apa yang akan terjadi pada pendidikan kalian dan penanganan anak yang akan kalian lahirkan nanti?"
"Saya bisa bertanggung jawab sesuai perkataan saya tadi, Pak Kepala Sekolah. Jadi, saya mohon ..."
"Tidak akan menyelesaikan masalah atas permohonanmu tersebut!" sela beliau yang memotong ucapan Sasha tadi.
"Kalian harus menanggung akibat dari tindakan kalian! Langkah pertama adalah memanggil orang tua kalian dan memberlakukan konsekuensi selaras dengan pelanggaran yang dilakukan," sambung Pak Kepala Sekolah, bersamaan dengan pintu yang terbuka dan menampilkan mertuaku atau kedua orang tua Sasha.
Rupanya, mereka sudah terpanggil sebelum aku di sini.
"Selamat siang Bapak dan Ibu, terima kasih sudah datang ke sekolah," sambut Pak Kepala Sekolah dengan air muka yang masih menampakkan amarah. Kedua mertuaku duduk di sofa lain dan Pak Kepala Sekolah melanjutkan, "Sepertinya Bapak dan Ibu menerima panggilan dari kami karena anak Bapak dan Ibu terlibat dalam pelanggaran berat di sekolah. Anak Bapak, Sasha Andriansyah, diketahui berpacaran dengan Riliana Calestr dan saya harus memberitahu bahwa mereka akan menghadapi konsekuensi yang serius."
Ayah mengerutkan dahi, sedangkan Ibu melirikku seperti mulai memahami situasi ini.
__ADS_1
"Apa yang anak kami lakukan adalah kesalahan besar. Sebagai orang tua, kami memohon maaf dan kami siap untuk bekerja sama dengan sekolah untuk menyelesaikan masalah ini. Bisa tolong jelaskan detailnya?" tanya Ayah yang menatap ke arah Sasha.
"Sudah jelas bahwa berpacaran di sekolah adalah sesuatu yang melanggar aturan. Kedua anak memilih untuk melanggar aturan itu dengan meroket dalam tindakan seksual dan Riliana Caleste hamil. Itu sangat merugikan sekolah." Pak Kepala Sekolah menatap ke arah kertas di tangannya. "Perihal ini. Saya ingin bertanya satu hal bahwasannya mengapa wali atas nama Riliana adalah Bapak dan Ibu?"
Situasi ini semakin mengancam.
"Sekarang, kami sepenuhnya menyadari tingkat kesalahan anak kami. Apa yang bisa kami lakukan untuk membantu menyelesaikan masalah ini dan memastikan anak kami menanggung konsekuensi dari tindakan mereka?" jawab Ayah dengan setenang mungkin. "Dan perihal Lia, dia sudah saya anggap anak sendiri ... karena ..." Perkataan ini terdengar ragu-ragu. "Saya sudah tahu kosekuensi dari hal ini. Maka dari itu, saya ucapkan sejujur-jujurnya bahwa ..."
"Bahwa kami mengadopsi Lia, tetapi belum dapat surat pengurusan kartu keluarga." Ibu menyela dengan air muka tegang.
Ayah pasti berpikir bahwa kepala sekolah ini bisa menutup mulutnya dari hukum seperti ayah Ricky sebelumnya. Tanggungan akhir jika rahasia pernikahanku dan Sasha terbongkar, bisa jadi akan fatal jika memberitahu pada orang tanpa berpikir panjang. Untung saja Ibu langsung memotong pembicaraan.
"Ini juga kecerobohan kami sebagai orang tua yang kurang membatasi anak-anak tidak sedarah dalam hubungan dekat. Maafkan kami," sambung Ibu dengan menatap Pak Kepala sekolah yang berwajah semakin berang.
Pak Kepala Sekolah pasti memaki-maki dalam batinnya ketika mendengar dua orang pasangan yang telah menjadi saudara angkat menjadi berakhir seperti ini. Walaupun bukan fakta, tapi tanggapan beliau bisa saja seperti itu.
"Kami berharap Bapak dan Ibu dapat memberikan dukungan dan membimbing anak Anda untuk belajar dari kesalahan mereka. Kedua anak harus ditempatkan di bawah pengawasan untuk segera mengambil tindakan yang tepat terkait dengan kehamilan dan melaporkannya ke sekolah. Kami juga berusaha untuk mencegah terulangnya pelanggaran semacam ini di masa depan." Pak Kepala sekolah menatapku, lalu ke Sasha. "Keputusan saya hanya ada dua. Memberikan diskors atau dikeluarkan secara mutlak."
Semua mata melotot setelah mendengar pernyataan tersebut.
"Rapat dengan pihak yayasan akan saya lakukan dalam permasalahan besar ini. Dengan usaha sebesar mungkin, saya akan menghalangi media dan menutupi desas-desus pada murid yang akan mencemarkan nama sekolah," sambung beliau. "Apa yang saya lakukan di sini adalah untuk kebaikan semua orang, termasuk anak Bapak dan Ibu."
Aku, Sasha dan kedua orang tua kami saling menatap satu sama lain, seolah ingin bertukar pikiran. Ini semua salahku, seharusnya bukan begini akhir dari segalanya. Tanpa sengaja, air mataku pun menetes dan aku menyekanya cepat-cepat.
__ADS_1
"Bapak dan Ibu telah dipersilakan ke luar bersama kedua anaknya. Terima kasih atas kerja sama Bapak dan Ibu."
- ♧ -