Oh My Love

Oh My Love
Menolak Tristan


__ADS_3

Dengan mencak-mencak dan usaha sebesar mungkin, akhirnya aku berhasil mencegah Tristan untuk mengantarkanku pulang. Sebelum itu, aku pun berkamuflase di belakang Hana ketika pulang sekolah agar tidak bertemu Kak Kaivan hingga mencoba menawarkan pulang bersama seperti yang lalu.


"Kita langsung saja ke rumahku, Lia! Ayolah, ayolah." Tristan merengek layaknya bayi, sembari menarik-narik ujung seragamku.


"Tidak bisa, Tantan. Aku harus pulang lebih dulu."


Izin pada Sasha, hal itu harus kuutamakan agar tidak menimbulkan masalah lagi. Jika dia tidak memberiku izin, aku tidak peduli. Yang terpenting, aku sudah memberi info dalam kegiatanku tanpanya.


Wajah Tristan menjadi cemberut dan aku tidak tahan untuk mencubit-cubit pipinya sebelum pergi ke halte untuk pulang.


"Baiklah, aku akan menunggu di depan apartemenmu saja satu jam ke depan," ucap Tristan dengan pasrah.


Singkatnya, tibalah aku di apartemen dan membersihkan diri lebih dahulu. Kemudian, aku melakukan bersih-bersih sedikit dan merapikan beberapa perabotan. Di saat yang sama, terdengar deritan engsel yang menandakan sebuah pintu sedang terbuka. Ketika aku mencoba menoleh ke asal suara, mulutku menjerit akibat terkejut.


"Ada apa?" tanya Sasha panik, yang di mana dialah si pembuka pintu tadi.


"Hei, gunakan bajumu lebih dahulu sebelum ke luar kamar!"


Aku menutup mata dengan satu tangan akibat tangan sebelahku sedang memegangi kemoceng. Dia tidak tahu bahwa aku bisa menggila apabila melihat tubuh laki-laki yang indah seperti yang kulihat secara sekilas tadi. Tidak heran, dia begitu hebat dalam bidang olahraga. Terlebih lagi, kegiatan GYM selalu dilakukannya setiap minggu.


"Berlebihan," cibirnya yang membuatku menggertakkan gigi.


"Berlebihan katamu? Coba bayangkan saja jika posisi kita dibalik," balasku sembari membalik badan dan lanjut membersihkan debu pada meja dekat televisi.


Sejenak, dia terdiam. Kemudian mengatakan, "Tidak ada masalah."


Tidak ada masalah katanya? Cih, otaknya begitu cerdas ketika di sekolah dalam menjalani pendidikan. Namun, saat seperti ini justru mendadak otaknya menjadi blank.


"Sasha," panggilku dan mendapatkan respons dehaman kecil. "Aku ingin mengunjungi rumah temanku."


Terdengar suara dispenser dan air mengalir. Lalu, dentingan sendok yang mengaduk di dalam gelas dan menghasilkan aroma teh chamomile.


"Rumah Kaivan? Atau si pirang gila itu?"


"Hei, enak saja mengatakan sahabat kecilku dengan julukan seperti itu!" sergahku dan spontan membalik badan sampai melihat Sasha yang sedang menyandarkan pinggulnya di meja makan sembari menyeruput teh. Buru-buru aku memalingkan wajah dan melanjutkan, "Terserah apa katamu. Aku akan pergi sekarang."


Tanpa menunggu jawaban Sasha, aku langsung pergi ke kamar dengan menjaga pandangan dari tubuhnya. Kemudian mengambil tas selempang kecil yang imut, dan mengambil telepon genggam untuk menghubungi Tristan. Astaga, aku lupa untuk meminta nomor teleponnya! Kurasa tidak perku menghubunginya, karena dia mengatakan akan menungguku di depan apartemen. Aku pun melangkah keluar kamar, lalu akan pergi dari apartemen.


"Hati-hati di jalan."


Baru saja hendak memegang gagang pintu utama, aku mematung setelah mendengar ucapan Sasha tersebut. Untuk pertama kalinya mulut tersebut berinisiatif bicara untukku. Pada saat seperti ini, aku mengambil kemsempatan dengan menghampirinya dan menjulurkan tangan kosong.


Dia terdiam tanda kebingungan, dan aku mengatakan, "Salam perdamaian. Maka karena itu, ayo berteman."


Lagi-lagi mulutnya terbungkam dengan ditutupi cangkir teh yang kutebak sudah habis sedari tadi. Apakah dia tidak sadar jika kelakuannya dalam mengulur-ulur waktu sangatlah menyebalkan? Aku begitu susah menjaga ketegaran di saat berhadapan dengannya seperti ini.


"Konyol."


Parah sekali, dia mencibirku! Serta merta aku menarik kembali tangan permohonan perdamaian ini dan menjadi berkacak pinggang.


"Apa kamu tidak suntuk jika kita terasa asing meski dalam satu atap?" tanyaku dengan ketus.


"Apa peduliku?"


"Jika dilihat-lihat, kamu lumayan peduli padaku," balasku yang membuatnya mengerutkan dahi. "Kukira, sikapmu sungguhan manusia cuek. Rupanya, hanya dinding gengsi yang menutupi sifat aslimu."

__ADS_1


"Dan aku tahu bahwa sifat baik dadakanmu ini di atas dasarkan sekadar balas budi," jawab Sasha seraya meletakkan cangkirnya di meja. "Dan aku tidak butuh itu."


"Sudahlah."


Kakiku langsung melangkah pergi darinya dan keluar dari unit apartemen dengan sedikit kesal. Percuma saja, aku seperti sedang bicara bersama tembok. Padahal, niatku sudah lumayan bagus untuk ke depannya.


Setelah menggunakan lift dan melewati lobi utama, aku langsung disambut dengan mobil jazz putih yang di mana terdapat seorang sopir sedang berdiri pada salah satu sisi.


"Dengan Nona Lia?" tanya pria paruh baya yang mengenakan seragam sopir tersebut. Kepalaku mengangguk dan beliau langsung membukakan pintu di bagian kursi penumpang. "Tuan muda Tristan yang memerintahkan saya untuk menjemput anda. Silakan masuk, Nona."


Tanpa basa-basi lagi, aku memasuki mobil dan pergi menuju rumah Tristan. Jarak yang ditempuh lumayan jauh, sampai akhirnya terlihatlah sebuah rumah besar dan megah. Bibirku tersenyum tipis karena tidak merasa heran jika Tristan adalah anak yang lahir di keluarga kaya raya.


Mobil telah terparkirkan di dalam garasi, lalu sang sopir mengantarkanku masuk ke dalam rumah ini melalui pintu depan yang sudah disambut hangat para pelayan.


"Lia!" panggil Tristan yang berlari ke arahku, lalu memberi sambutan dengan pelukan erat.


Bahunya begitu lebar, sehingga rasanya seperti sedang tenggelam di tubuhnya yang benar-benar memelukku secara menyeluruh. Mungkin, ukuran guling Tristan tidak ada bedanya dengan tubuhku.


"Ayo ikuti aku. Ada sesuatu yang menunggumu!" Tristan meraih tanganku untuk memandu jalan dalam rumah.


Nuansa silver dan emas. Berkelap-kelip dan menyegarkan mata memandang. Lampu gantung yang memiliki aksesoris seperti kristal. Ukiran dinding bercat emas, beberapa hiasan dinding seperti lukisan dan patung pahatan kecil yang pastinya memiliki harga tinggi.


"Sebenarnya, aku tinggal di apartemen. Sama sepertimu, Lia," ujar Tristan sembari mengajakku menaiki tangga. "Sepertinya, tidak etis juga mengajak gadis ke apartemen pribadi. Bisa-bisa, aku akan menyergapmu dan tidak mengizinkanmu keluar."


"Dan itulah salah-satu alasanku tidak mengizinkanmu ke apartemenku," jawabku setelah tertawa kecil.


Tristan pun menatapku dengan jahil. "Oh, rupanya kamu takut jika aku tersegap olehmu, Lia? Tidak apa, aku ikhlas apa pun yang kamu lakukan padaku."


Lagi-lagi Tristan memelukku layaknya guling.


Akhirnya, kami sampai di sebuah kamar yang berisikan dua pelayan sedang mematung di dekat kasur. Selanjutnya, sebuah ruangan tambahan yang berisikan banyak barang-barang bermerk seperti pakaian, sepatu dan perhiasan.


"Ambillah apa yang kamu mau. Nanti akan disiapkan oleh pelayanku," kata Tristan dengan membentangkan kedua tangannya.


Dia memperlakukanku begitu luar biasa, tetapi bukankah ini berlebihan? Aku menjadi merasa tidak enak hati melihat semua ini. Bahkan, reaksi Tristan dalam melihat ekspresiku mungkin telah sadar akan isi hatiku.


"Mungkin memilih barang bisa nanti saja. Bagaimana kalau kita menonton bersama?" tanya Tristan yang membuatku mengangguk. "Baiklah, ayo kita ke studio movie!"


Bukan pertama kalinya untuk menonton bioskop di rumah Tristan saat kami menginjak umur sepuluh tahun. Aku masih ingat bagaimana sebuah ruang teater pribadi untuk menonton film-film yang belum ditampilkan di televisi. Kini, ruang teater tersebut menjadi lebih megah dan membuatku terpukau.


Berawal dari perebutan perebutan film, Tristan menyodorkan genre horor pada pemegang proyektor di ruangan ini. Sedangkan, aku menolak keras karena nuansa ruangan di sini begitu mendukung hawa ketakutan. Maka karena itu, aku merekomendasikan genre komedi. Setelah beberapa lama berdiskusi, akhirnya Tristan menang dan aku menjadi kecewa berat.


Popcorn tersedia di antara kami dan film pun dimulai.


Begitu banyak adegan klise, tetapi berhasil membuatku menutup mata. Tidak ada taburan pendukung kenikmatan penonton seperti komedi ataupun romansa. Aku yakin, sutradara dari film ini pasti psikopat yang suka menyiksa orang dengan ketakutan. Bahkan, pada bagian pertengahan tersapat jump scare yang membuatku terkejut dan berhasil berteriak.


Dengan penuh inisiatif, Tristan memindahkan popcorn di antara kami menjadi tepat di sebelahnya. Kemudian, gagang kursi sebagai pembatas antar pentonon juga dilepaskannya begitu mudah. Pada tempo yang sama, lagi-lagi terdapat adegan mengejutkan di mana sang hantu menampakkan diri pada keseluruhan layar. Tristan merangkulku dan memdekapku pelan ke dalam pelukannya, lalu menepuk-nepuk bahuku sebagai sarana penenang. Baguslah, seperti ini jauh lebih baik dan mudah ketika aura menakutkan akan muncul kembali.


"Di mana atau kapan pun, aku akan selalu melindungimu, Lia," bisiknya yang membuatku gagal fokus dalam menonton. "Tidak apa, takutlah. Dengan begitu, kamu pasti merasa membutuhkan pelindung ... sepertiku."


Kepalaku langsung mendongak dan menatap Tristan. "Apa maksudmu?"


"Mau aku jelaskan sesuatu?"


Mataku membulat untuk bertanda mengiyakan ucapannya.

__ADS_1


"Saat berpisah darimu selama tiga tahun, aku seperti benar-benar menggila. Rasanya, frustrasi jika jauh darimu. Aneh ...," ujar Tristan sembari menatap film yang tidak membuat matanya berkedip. "Emosiku tidak bisa terkontrol. Pada akhirnya, aku selalu melukai orang di sekitarku dengan berbagai cara. Di saat itu juga, orang tuaku berinisiatif untuk memasukkanku ke pelatihan beladiri MMA dan berhasil memasuki kejuaraan nasional hanya bermodalkan otak yang dihantui oleh bayanganmu."


Tidak ada suasana ceria, lucu ataupun menggemaskan dari Tristan. Layaknya laki-laki dingin seperti biasanya, yang membuatku terpaku diam.


"Jadi, keinginanku hanya satu. Yakni bersamamu terus, demi menjaga kewarasanku," lanjutnya setelah kembali memandangi wajahku dengan senyuman manis. "Kamu mau kan selalu bersamaku? Apa pun itu. Kebahagiaan, perlindungan, kebutuhan, segalanya akan kuberikan."


Perlahan, aku duduk tegak seperti biasa dengan melepaskan diri dari dekapannya. Menatap wajah Tristan yang sedang memasang air muka pasi dengan senyuman.


"Hei, aku ini sahabatmu. Sampai kapan pun, aku juga akan selalu menemanimu, Tantan." Sebuah jari kelilingking kuacungkan padanya seraya melanjutkan, "Ini janjiku."


Tristan menutup kelingkingku dengan memegangi tangan ini dan meletakkannya di atas pahaku. Wajahnya mendekat ke arahku, dan matanya terpejam. Cepat-cepat aku memalingkan wajah karana tahu tujuannya adalah menciumku. Di waktu yang sama, Tristan tahu akan penolakanku dan kepalanya justru diletakkan pada bahuku.


"Bukan sebagai sahabat, Lia. Bukan sebagai sahabat," gumamnya dan aku langsung menoleh untuk melihatnya. "Tapi ... sebagai kekasihmu."


Hatiku bagaikan diketuk sejenak, sampi-sampai ritme detak jantungku melonjak cepat. Wajah ini terasa memanas dan hawa canggung perlahan membungkam mulutku sejenak. Perkataan tersebut membuatku sulit mempercayai bahwa Tristan sungguh-sungguh menyukaiku. Mustahil aku menjalin hubungan cinta dengan seseorang yang sudah kuanggap sahabat karib. Menjadi kekasih akan berujung putus dan permusuhan. Aku yakin itu, dan tidak mau kehilangan sosok teman di sisiku. Di sisi lain, statusku masih menjadi istri Sasha, walaupun aku tidak sudi mengakuinya. Akan tetapi, aku tetap harus menjaga harga diri di mata Sasha dan keluarganya.


"Rasa sukaku padamu ... bukan sekadar kasih sayang antar teman. Bukan, Lia." Kepalanya terangkat dan kami menatap satu sama lain dengan pasi. "Maka karena itu, jadilah kekasihku."


"Sayangnya, aku tidak bisa, Tantan," jawabku sembari mengelus pipinya. "Aku tidak mau menjalani hubungan percintaan."


Tristan tertawa kecil dalam tersenyum ke arahku. "Sepertinya, aku tidak perlu menanyakan alasannya padamu. Tentu bukan karena kesalahan padaku atau dirimu sendiri."


Dalam pososi berhadap-hadapan seperti ini, dia kembali meletakkan dahinya di bahuku. "Pasti karena waktu, perpisahan dan rasa sakit yang takut kamu ekspetasikan," lanjutnya lirih.


Meskipun bukan, tapi itu juga alasan kecil yang mendukungku untuk menolak permintaan Tristan.


"Walaupun begitu ..." Tristan diam sejenak. "Aku tahu pasti jika di masa depan nanti, kamu akan berpikir lebih matang memilih secara benar untuk pasangan seumur hidup. Maka karena itu, aku akan menunggu."


Aku tahu, maksudnya adalah pernikahan yang di mana harapannya adalah menjadi suamiku. Namun, tidak ada kata setuju yang menggema di hatiku. Rasa sayangku hanya sebagai teman untuk Tristan, tidak lebih maupun kurang. Dalam segi kesempurnaann, tentunya akan tergelari oleh Tristan. Entah itu dari segi ketampanan, kepedulian, kekayaan, dan segala kriteria yang memenuhi idaman wanita di dunia ini. Akan tetapi, tidak tahu apakah nantinya setelah lulus dari SMA atau lebih tepatnya bercerai dari Sasha, aku akan menerima cinta Tristan atau menolak.


Perasaan hati tidak ada yang tahu dan tentunya bisa terbolak-balik sewaktu-waktu.


"Lia, sedari tadi kamu terdiam karena ucapanku, ya?" tanya Tristan yang membuat lamunanku seketika terpecahkan. Serta merta kedua tangannya memegangi pipiku dan berkata, "Jangan membuat aku sebagai beban pikiranmu. Tenang saja, sampai kapan pun, aku menunggu jawaban dalam menerima cintaku ini!"


Sudut bibirku menjadi naik dan mulai melepaskan tangan Tristan dari pipiku.


"Terima kasih atas ketulusanmu, Tantan," balasku ceria. "Jadi, mari kita lanjutkan menonton filmnya. Ayo, berikan pop corn tadi."


Kepalanya menggeleng pelan sembari memenuhi permintaanku. Setelah kembali menatap layar lebar, tertulis kalimat "the end" yang membuat suara tawa terlepas dari mulut kami. Terlalu lama sibuk dengan obrolan kami, sehingga tidak sadar bahwasannya film horor ini telah usai.


"Oh ya. Aku ada oleh-oleh untukmu. Ini bukan hadiah, dan kamu harus menghargai," ucap Tristan seraya menarik tanganku untuk ke luar dari ruang teater.


Sikapnya menjadi kembali sedia kala, seolah-olah tidak ada yang terjadi pada kami sebelumnya. Aku kira, kami akan menjadi canggung setelah membicarakan topik tadi. Syukurlah, aku senang bila seperti ini.


Kami berdua berhenti di depan lemari es yang cukup besar dan memiliki pintu kaca, sampai-sampai isi di dalamnya dapat terlihat. Dua pelayan membawakan paper bag pada Tristan dan begitu banyak coklat batangan terambil olehnya dari lemari es tersebut.


"Aku tahu jika kamu suka sekali coklat. Maka karena itu, aku berusaha memilihkan coklat terbaik dari berbagai negara yang aku kunjungi," kata Tristan dengan bersemangat, lalu menyodorkan dua paper bag besar tersebut padaku. "Ini, jangan lupa habiskan! Jangan dibuang atau diberikan ke orang lain juga."


Aku tertawa kecil seraya menerima pemberianna tersebut. "Aku pasti menghargai pemberianmu, Tantan."


"Kecuali pemberian cintaku," balasnya dengan wajah jahil. "Pastikan semua coklat ini memasuki perutmu."


Meskipun menggunakan nada bercanda, aku tetap saja merasa kurang nyaman.


- ♧ -

__ADS_1


__ADS_2