Oh My Love

Oh My Love
Kaivan Kembali!


__ADS_3

Sesekali aku mengerjap-ngerjapkan mata untuk memastikan bahwa ini bukanlah halu. Eajahku masih menggambarkan rasa terkejut. Bahkan saat menerima Lia kecil, senyumnya yang lebar membuatku terpaku. Sepertinya ini bukan karena terpesona, melainkan rasa malu saat teringat bagaimana aku ditolak olehnya. Bukankah Kak Kaivan harusnya sudah tinggal di luar negri?


Alih-alih memakai seragam dan datang sebagai alumni, dia menggunakan jaket hitam dengan dalaman merah marun dan celana putih.


"Apa kamu mencari bayi ini? Tadi ada yang menitipkan padaku," ucapnya seraya menyodorkan paper bag ke arahku. "Sudah lama kita tidak bertemu. Ini untukmu, Lia."


Kedua tanganku sibuk memegangi Lia kecil. Kemudian, muncul tangan ganda yang memgangi bahuku dan mengambilkan bingkisan tersebut. Sasha muncul secara tiba-tiba tanpa merasakan hawa kehadirannya.


"Terima kasih," kata Sasha dengan air muka masam.


Kak Kaivan tersenyum dan berkata, "Sepertinya ada pasangan baru di tahun ini."


Aku seperti tidak mampu menatapnya, karena merasa takut jika dia berpikir bahwa aku gadis gampangan yang cepat berpindah hati setelah ditolak.


"Lia, aku membelikanmu ponsel agar kita bisa saling mengirim pesan. Di luar negri, aku pasti akan rindu berat padamu."


Tangan Kak Kaivan merogoh-rogoh saku jaket, tetapi aku menyela, "Aku sudah punya ponsel, Kak. Sungguh."


"Oh begitu, baguslah. Jika begitu, mana nomormu?" Tersodorkan ponselnya padaku dan aku langsung melirik Sasha.


Bukankah kurang etis jika menyimpan nomor laki-laki lain setelah memiliki kekasih?


"Bagaimana jika nomorku saja?" balas Sasha dengan sinis sembari menyodorkan layar ponselnya setelah menekan-nekan nomornya sendiri.


Satu alis Kak Kaivan menjadi naik. "Tidak, terima kasih. Aku hanya butuh nomor adikku sendiri."


"Selagi bukan adik kandung, bukankah tidak perlu?" Sasha menjadi beraura gelap karena percakapan ini sangat tidak disukainya.


Kak Kaivan tidak kalah menatap dengan jutek, kemudian membalas, "Sejak kapan kau begitu mencampuri urusan orang lain seperti ini?"


Situasi ini tidak mengenakan. Di sisi lain, aku juga ingin saling berkontak dengan Kak Kaivan karena dia pernah menjadi peran penting dalam hidupku. Namun, Sasha menolak keras.


"Tidak apa," kataku pada Sasha, lalu menerima ponsel Kak Kaivan dan menuliskan nomorku padanya. "Ini, Kak."

__ADS_1


Wajah Kak Kaivan menjadi ceria seketika. "Oke, terima kasih."


"Aku bicara dengan Kak Kaivan sebentar, apakah boleh?" Aku menatap Sasha dengan memelas dan berharap dia mengizinkanku.


"Baiklah," balasnya tanpa keikhlasan, lalu aku menyodorkan Lia kecil padanya. "Jangan terlalu lama."


Kurespons dengan anggukan dan langsung berjalan pergi dengan diikuti Kak Kaivan menuju bangku di lapangan futsal. Rasanya sedikit tegang walau hanya beberapa bulan tidak bertemu. Di benakku masih terbayang bagaimana sinisnya mata Kak Karin dalam melirikku terakhir kali dan mungkin saja dia akan murka jika melihat kami seperti ini.


"Bagaimana kabar, Kakak?" Aku berinisiatif bertanya lebih dulu. "Apa pendaftaran masuk kuliah lancar? Hidup di luar negri nanti apa sudah diatur dari tempat tinggal dan keuangan? Apa ada urusan belum terselesaikan di sekolah? Lalu ..."


"Lia, jangan memberi pertanyaan beruntun dalam satu waktu." Kak Kaivan terkekeh dan semoga saja dia tidak menyadari kegugupanku. "Aku baik-baik saja seperti yang kamu lihat. Masalah kuliah, kini masih sistem daring. Lalu, aku ke sini untuk melihatmu saja."


Apakah Kak Karin tidak masalah jika kami bertemu?


"Lalu, selama ini di rumah saja?"


"Kemarin, aku ikut bersama keluarga Karin ke luar kota untuk menemaninya photoshot di agency baru," ujarnya seraya menatap langit.


"Bagaimana bisa kamu berpacaran dengan anak sok artis itu? Seperti ada yang salah." tanya Kak Kaivan yang membuyarkan lamunanku.


Sasha bukanlah sok artis atau sombong dengan wajah jutek dan tatapan malasnya. Hanya saja, dia merasa tidak nyaman dengan sekitaran yang begitu menganggu aktifitasnya.


"Iya, aneh," jawabku muram. "Terlihat seperti menikung teman, ya?"


Aku berasumsi bahwa Kak Kaivan ingin bertanya mengenai Hana yang menyukai Sasha. Dia tahu pasti akan hal itu, tetapi lebih memperhalus pertanyaan agar aku tidak sakit hati. Selama aku mengenalnya, kata 'aneh' pertama kalinya dilontarkan untukku.


"Bukan begitu maksudku, Lia."


Suasana hatiku sudah rusak dan justru menjawab, "Terima kasih atas kedatangan, Kak Kaivan. Tapi, aku ada sedikit urusan. Maaf, aku pergi dulu sebelum jam istirahat berakhir."


"Lia!"


Aku beranjak pergi tanpa menggubrisnya dan tahu bahwa ini tidak sopan. Akan tetapi, kemunculannya sangat mengkhawatirkan hatiku yang bisa saja dilema akan perasaan lama. Sikap Kak Kaivan seolah memberiku harapan, maka karena itu lebih baik menjauh. Lagi pula, aku harus menjaga perasaan Sasha untuk tidak berlama-lama bersamanya.

__ADS_1


Pergi ke kantin untuk menghampiri Sasha yang bersama Hana dan Tristan, ada juga dua gadis fansnya yang ikut nimbrung dalam satu meja.


Aku dekati Sasha dan mengambil Lia kecil yang sedang meminum susu kotak kecil dengan mulut yang belepotan coklat. Menyebalkan juga anak-anak yang memberi makanan sembarangan pada bayi sekecil ini.


"Ayo kita ke kantor polisi," ajakku pada Sasha.


"Baik." Dia pun bangkit dan kami berjalan pergi ke luar gerbang. "Bicara apa saja tadi bersamanya?" tanya sembari memesan taksi menghunakan ponsel lipat yang terlihat jadul.


"Hanya menanyakan kabar saja."


"Menanyakan kabar sampai berduaan?"


"Aku tidak tahu jika dia tidak ada pembicaraan penting, Sasha," jawabku setelah menghela napas.


Seharusnya, aku tidak perlu seperti tadi jika tahu berujung buruk.


Taksi pun datang dan perjalanan menghabiskan beberapa menit. Setibanya kami di kantor polisi, terlihat seorang wanita muda tengah duduk pada salah satu kursi tunggu. Ketika aku memberi laporan anak hilang, polisi yang melayani kami langsung memanggil wanita tadi yang di mana adalah ibunya.


"Ya ampun, Mira," ucap wanita itu dengan perasaan lega dalam menggendong anaknya. Lia kecil bernama Mira, nama yang indah. "Terima kasih ya, kalian berdua."


Dia merogoh saku celananya, tapi Sasha mengatakan, "Tidak perlu upah, Bibi. Kami pamit dulu."


Sebelum pergi, aku memegangi tangan lembut Lia kecil atau Mira. Kemudian, pergi dengan perasaan senang karena sudah membantu seseorang.


"Dari kejadian ini, jika aku menjadi seorang ibu, aku tidak akan menaiki bus," ucapku sembari menunggu taksi baru bersama Sasha. Seharusnya dia memesan taksi untuk pulang dan pergi agar tidak perlu menunggu-nunggu seperti ini.


"Memangnya kamu ingin menjadi seorang ibu?" tanyanya dengan menatap layar ponsel.


Sedikit menyebalkan juga mendengar perkataannya. "Semua wanita pasti ingin menjadi ibu, tau?"


Bibirnya menyunggingkan senyum, yang membuatku tidak mengerti apa di pikirannya.


- ♧ -

__ADS_1


__ADS_2