
Setelah menghadapi persidangan yang begitu menegangkan, mataku terasa kering akibat tidak dapat berekspresi lagi. Orang tua kami hanya bisa menatap dengan pasi dan mengehela napas berkali-kali.
"Inilah konsekuensinya," ujar Ayah yang sedang mengurut dahi.
Kami yang berada di koridor perkantoran sekolah mulai merasakan keheningan sejenak.
"Sudahlah, semuanya berlalu begitu saja. Kami sebagai orang tua, juga tidak terlalu berekspetasi seperti ini di awal." Ibu menyambung dan dari air mukanya tergambarkan kekecewaan. "Kami akan pulang. Kalian lanjutkan sekolah sampai keputusan kepala sekolah hadir."
Entah ingin merasa heran atau bersyukur, kedua orang yang tengah lanjut usia tersebut pergi tanpa meninggalkan perkataan amarah pada aku dan Sasha. Mungkin saja, mereka merasa bersalah karena berani menyetujui pernikahan kami meski memiliki alasan yang kurang kuat. Mereka tidak memiliki hubungan darah atau terlihat dekat dengan nenekku, tapi alasan keeratan hubungan mereka masih menjadi misteri bagiku. Aku tidak pernah bertemu dengan keluarga Sasha ataupun melihat Nenek yang bersama mereka. Pertanyaan ini kerap kali terbendung dan aku kurang keberanian dalam melontarkannya.
"Aku salah besar," ucap Sasha secara tiba-tiba dan membuatku mendongak kaget. "Maaf."
"Bukan salahmu," balasku seraya membuang muka dan berbalik badan untuk pergi ke kelas. "Sebaiknya kita kembali ke kelas."
Jam pelajaran olahraga bersama waktu istirahat pasti sudah usai, dan kami harus kembali ke kelas.
Di sisi lain, aku juga tidak mau disalahkan terang-terangan meskipun tahu bahwa titik permasalahnnya ada padaku. Sifat yang egois dan aku mengakui hal buruk itu. Seandainya, seharusnya, andaikata, dan semua perkataan untuk penyesalan di masa lampau sama sekali tidak berguna untuk dikeluarkan. Inilah keputusan kami dan tanggungan yang telah hadir harus tersambut dengan lapang dada.
Aku tidak bisa menyalahkan permintaan Nenek atau persetujuan orang tua Sasha yang mau saja menikahkan putranya denganku. Jika aku benar-benar egois dan memikirkan pendidikanku secara realistis, mungkin hal ini tidak akan terjadi. Bisa saja justru aku lebih menderita dengan kehidupan miskin yang sebatang kara, sampai harus memenuhi biaya hidup seperti sekolah dan kebutuhan pokok lainnya.
Inilah pilihan hidup yang aku tempuh. Semua ada plus dan minusnya.
Sasha mulai berjalan dan aku mengikutinya. Sesampainya kami di kelas, seisi ruangan langsung menatap kami, lalu berdesas-desus dengan sekitarnya. Hana menatap kami dengan berat, lalu kembali menunduk untuk fokus ke buku pelajaran. Semua ini sungguh mengganggu, aku benar-benar harus menahan malu.
"Cepat masuk, pelajaran sudah dimulai," perintah Bu Guru yang berdiri di depan papan tulis.
__ADS_1
Secara serentak, aku dan Sasha mengangguk lalu pergi duduk pada bangku masing-masing.
Di saat bersamaan, guru di depan kelas mengeluarkan ponsel dan menatapnya sejenak. Kemudian, beliau berkata, "Anak-anak, guru-guru akan rapat sebentar. Kalian bisa rangkum bab kedua dan ambil poin-point pentingnya. Pertemuan ke depan akan Ibu tunjuk secara acak untuk membacakan hasilnya."
Yang biasanya langsung begitu ribut setelah guru pergi dari kelas, kali ini menjadi hening sejenak. Beberapa gadis mulai berdiri dari bangku yang tergeser dan bersuara keras. Mereka menghampiriku dan berjongkok di sekitar bangku ini dengan wajah penasaran.
"Lia, apa yang kami dengar tadi itu ... benar?" tanya Noa, gadis yang berada di belakangku.
"Pasti Sasha yang memaksamu, 'kan? Diam-diam, dia menghanyutkan," sahut yang lainnya yang membuatku mengepal satu tangan akibat Sasha dibicarakan secara negatif.
"Hei, pasti berat bagimu. Lia adalah anak teladan, dan malangnya harus begini."
Mereka memberikan banyak ucapan untuk menghibur, tetapi bagiku sangatlah mengganggu.
"Jangan bicarakan hal ini, aku sedikit tidak nyaman," balasku pada mereka dengan lesu. "Kita ada tugas, bukan? Kerjakan dulu."
Selama beberapa saat, terdengar dengungan dari speaker kelas yang menandakan adanya pengumuman.
"Bagi seluruh siswa, diharapkan untuk pergi ke lapangan utama sekarang juga. Sekali lagi, bagi seluruh siswa, diharapkan untuk pergi ke lapangan utama sekarang juga."
Suara napas berat terdengar dari banyak anak yang tidak suka akan pengumuman tersebut. Satu persatu, mereka semua pergi ke luar kelas dan terlihat bahwa koridor di isi oleh anak-anak yang berjalan malas dalam menuruti perintah.
Ketika hendak bangkit, tanganku digenggam oleh Hana yang tengah tersenyum tipis. Aku membalasnya dengan senyuman juga, lalu kami pergi ke lapangan.
Secara otomatis, semua murid membentuk barisan di bawah teriknya sinar matahari. Beberapa mulut melontarkan keluhan dan mengumpat-ngumpat. Bahkan, yang memberikan pengumuman pun belum hadir hingga membuat kami semua menunggu begitu lama.
__ADS_1
"Baiklah, perhatian pada kalian semua."
Terdengar suara tegas yang membuat keheningan. Pak Kepala sekolah yang penuh akan wibawa tengah berjalan ke depan. Jantungku berdegup kencang dan berfirasat akan adanya hal yang menjorok ke arahku bersama Sasha.
"Terima kasih atas kesanggupan kalian yang tengah hadir untuk saat ini. Sebagai seorang kepala sekolah, saya ingin menyampaikan pesan yang sangat penting untuk kita semua," ujar beliau sebelum menghela napas dan mengedarkan pandangam. "Pergaulan bebas adalah salah satu masalah besar yang dihadapi oleh remaja saat ini. besar yang dihadapi oleh remaja saat ini. Pergaulan bebas mungkin menyenangkan di awal, tetapi pada akhirnya mereka hanya akan membawa dampak negatif pada kehidupan kita.
Sebagai murid-murid yang berpendidikan, kalian harus tahu bahwa pergaulan bebas tidak hanya merusak masa depan kalian, tetapi juga berdampak negatif pada keluarga ..."
Rupanya berpidato dengan sindiran keras mengenai permasalahan tadi. Dengan begini, sudah pasti topik hangat sekolah bertambah meledak dan begitu mempermalukanku. Rasanya, aku ingin sekali menghilang dari bumi dalam sekejap mata.
Beberapa menit berlalu sampai kaki mulai terasa pegal. Aku yang berada di barisan belakang mulai berjongkok bersama dengan anak-anak lainnya. Waktu yang dihabiskan benar-benar melebihi saat upacara bendera.
"Terakhir, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada kalian para murid yang telah mendengarkan pesan saya ini dan memperjuangkan masa depan ..."
Akhirnya, pidato beliau berakhir.
"Pasti tadi membahas tentang kakak kelas XII_A yang katanya hamil, ya?"
"Kepala sekolah pasti sebentar lagi memanggil mereka ke depan untuk dipermalukan."
"Lucu sekali. Aku tidak sabar untuk melihat siapa yang sebenarnya kepala sekolah sindir kali ini."
Perkataan yang berbisik telah masuk ke telingaku. Aku menjadi ketakutan dengan apa yang mereka harapkan. Doa kulantunkan diam-diam agar harapan mereka semua tidak terkabulkan.
"Baiklah, kalian semua boleh kembali ke kelas masing-masing," lanjut Pak Kepala Sekolah.
__ADS_1
SYUKURLAH!
- ♧ -