Oh My Love

Oh My Love
Sepulang GYM


__ADS_3

Setelah mencoba banyaknya alat yang lumayan menyiksa tubuhku akibat tidak terbiasa dengan olahraga, aku memutuskan untuk beristirahat sejenak untuk ke sekian kalinya. Kulihat Sasha tengah melakukan sit up dan rasanya aku ingin menarik kakinya untuk pulang.


"Permisi ...." Seorang wanita dengan rambut terkuncir bulat tengah mendatangi Sasha seperti sedikit malu. "Bisa minta tolong?"


Melihatnya, suasana hatiku menjadi sedikit buruk.


"Ada apa?" Sasha terduduk dan menatap wanita yang mengenakan celana pendek dengan bra sport itu.


"Tolong kurangi beban pada smith machine yang di sana." Jarinya menunjuk ke arah alat angkat beban yang digunakan secara berdiri. "Sepertinya ... para trainer sibuk. Jadi, kamu bisa tolong aku?"


Menyebalkan. Gaya bicaranya menggunakan 'aku-kamu' yang terdengar sok akrab sekali. Tunggu dulu, mengapa aku kesal?


Sasha menunjuk ke arah bapak-bapak yang tengah minum air mineral dan habis sebotol dalam seteguk. "Bapak itu sedang kosong. Mintalah tolong padanya."


Tanpa sengaja, aku tersenyum miring dan mulai mengangkat satu barble.


"Aku sedikit takut dengan pria tua, bagaimana dong?" tanya wanita itu dengan wajah welas asih.


Bisa kuperkirakan bahwa umurnya jelas-jelas dua puluh tahun ke atas, tapi sikapnya dipaksakan imut dan tidak cocok. Sejak kapan aku mulai julid seperti ini?


"Ya, kebetulan saya juga takut dengan wanita lebih tua dari pada saya," balas Sasha dengan menggedik bahu sejenak.


Wanita itu terkekeh dan memukul pelan lengan Sasha. "Lucu sekali, kamu. Memangnya umur berapa? Pasti sedang kuliah, 'kan?"


Tanganku menjadi cepat dalam memainkan barble ini. Jelas-jelas Sasha menunjukkan ketidaktertarikannya, tetapi wanita itu justru tancap gas dalam menggoda. Apakah setiap harinya dia selalu begini di GYM tanpaku?


"SMA." Sasha membalas seraya berdiri dan berjalan ke arahku.


"Bagus kalau begitu. Masih umur segini udah giat olahraga." Wanita itu makin berseri-seri. "Bagaimana kalau aku traktir kamu di kafe terdekat?"


Aku langsung berdiri setelah Sasha berada di dekatku.


Tiba-tiba, sedikit mendekapku dan berkata, "Maaf, tapi saya ada janji untuk traktir gadis ini ke kafe terdekat."


Kebetulan ada cermin besar di dekat kami dan wajahku terlihat jelas tengah memerah. Namun, seharusnya aku marah karena dijadikan alat penghalang wanita itu. Tapi, entah kenapa rasanya lega saat dia mengangguk dan tersenyum kecewa.


"Baiklah, aku pergi dulu," pamit wanita itu sebelum meninggalkan kami.


Mulutku mulai menahan tawa dan menunduk untuk menyembunyikan reaksi ini.


"Ayo kita pulang," ajak Sasha seraya menggenggam tanganku.


Sepertinya, aku akan mandi malam. Seharusnya tadi aku tidak mandi jika tahu akan berolahraga dan banjir keringat begini.


Aku masih tidak tahan dalam mengingat reaksi kecewa wanita tadi. Seharusnya dia bepikir bahwa laki-laki setampan Sasha sudah mustahil tidak memiliki kekasih. Tanganku pun reflek menepuk punggung Sasha dan terkekeh kecil.

__ADS_1


"Reaksi wanita tadi cukup lucu," kataku dan mulai melepas tangan dari Sasha, lalu menepuk-nepuk pelan punggungnya.


"Berhenti, Lia." Sasha tampak tidak nyaman dengan sikapku. "Jika saja aku tidak menolak orang tadi, mungkin pukulanmu ini lebih keras hingga aku muntah darah."


Leluconnya cukup garing untuk tipekal manusia sepertinya.


"Berlebihan," cemoohku dan menepuk bahunya lagi. "Jadi ... kamu harus menraktirku ke kafe seperti perkataanmu tadi ..."


Ucapanku terpotong akibat mendengarkan dunia berteriak dan tentu saja itu berasal dariku. Satu kakiku tersandung dengan kaki sebelahnya saat menurun di tangga kecil menuju ke luar dari gedung GYM. Alhasil, aku nyaris terjatuh secara sempurna jika Sasha tidak menjadi tembok penghalang. Namun, tetap saja kakiku terkilir!


Inilah efeknya terlalu menertawai seseorang.


Pada akhirnya, Sasha membantuku berjalan sampai ke taksi, lalu pergi pulang. Sialnya, sesampainya kami di apartemen justru lift sedang dalam masa perbaikan sementara. Ujung-ujungnya, kami harus menaiki tangga darurat. Untunglah unit kami di lantai dua.


Tibanya di apartemen, aku langsung menumbangkan diri ke sofa dan membenamkan wajah dengan tangan akibat malu. Sudah pasti orang-orang di sekitar GYM tadi ada yang melihatku setelah tertawa, lalu tertimpa karma.


Sasha mengangkat kedua kakiku sampai aku merintih. Kemudian, dia memangku kakiku dan menatap kepadaku dengan prihatin.


"Biar kupijat," ucapnya dalam menatap fokus ke kakiku.


"Tidak perlu, Sasha ..." Lagi-lagi perkataanku terpotong akibat menjerit keras, tetapi kali disebabkan dia yang memijat pergelangan kakiku seperti menyetrum dengan tegangan tinggi.


Diobati seperti ini justru lebih terasa menyiksa dari pada terjatuh di tangga tadi!


"Sakit, Sasha!" rintihku dan memelototinya.


Dalam seperkian detik, dia berhenti. Namun, mendadak kembali memijatku sampai rasanya seperti dihujam dengan sadis. Aku pun berteriak dan reflek bangkit hingga wajah kami hampir berbenturan. Kami menjadi saling menatap satu sama lain dengan sedikit terkejut.


Di situasi hening seperti ini, entah mengapa rasanya ada suasana mendukung dari belakang kami untuk mendorong diri. Akan tetapi, Sasha memundurkan kepalanya dan perlahan meletakkan kakiku. Dia pun bangkit dengan buru-buru, seolah salah tingkah dan merasa canggung.


"Aku akan mandi dulu, tunggu."


"Mengapa begitu ...?" Pertanyaanku belum selesai, tetapi dia lebih dulu melesat masuk ke kamar pribadinya.


Apakah dia menolak diri pada situasi tadi? Sejujurnya, aku sedikit kecewa.


Perlahan, aku bangkit dan pergi mengambil kotak P3K di laci bawah televisi. Minyak tradisional kuambil, lalu kembali duduk sebelum menyapukan minyak pijat tersebut ke kakiku.


Mengenaskan juga nasibku hari ini dan menjadi pelajaran jika menertawai seseorang yang tertimpa kesialan adalah hal buruk.


Akibat bosan, aku mengambil ponsel dari kamar dan memainkannya di sofa sembari menghidupakan televisi agar suasana sedikit tidak sepi. Sosial media yang akhir-akhir ini berisikan beuty vlogger membuatku tertarik. Terutama yang lumayan hits hari ini dengan nama akun @Verny_Norcate mempunyai ribuan pengikut, sampai mengikuti photoshot di jepang.


"Lia." Wajah Sasha mendadak muncul di belakang ponselku dan terlihat sudah usai mandi dengan rambut yang sedikit basah.


"Jangan muncul seperti itu, dong!" ucapku akibat sedikit terkejut.

__ADS_1


"Aku sudah mandi," sambungnya yang membuatku bingung. Untuk apa dia mengabari hal kecil seperti itu?


Alisku sontak naik keduanya setelah terduduk dari tidur miring. "Oke, lalu?"


"Dan ... aku sudah sikat gigi." Sasha yang tadinya berjongkok di sebelahku, kini perlahan bangkit dan mendekat kepadaku.


Akibat sedikit mengejutkan atau panik, aku menjadi terbaring lagi sampai kami berhadapan. Tampangnya begitu santai, sedangkan aku terheran-heran.


"Baguslah jika sudah sikat gigi, lalu apa yang mau kamu lakukan?" tanyaku dengan mengarahkan ponsel di depan wajah.


"Apa lagi?"


Jantungku berdebar keras saat Sasha menyingkirkan ponselku dengan satu jari, kemudian mendongkan wajahnya padaku. Diam dalam terkejut saat dia menciumku dengan lembut bukan hanya sekali, melainkan berkali-kali yang seolah sedang membelai bibirku oleh bibirnya dalam wangi menthol tersebut.


"Sasha," gumamku sembari memegangi kedua pipinya setelah melepaskan ciumannya untuk bernapas sejenak.


Akhirnya aku paham mengapa dia mengatakan bahwa telah menyikat giginya. Dia menolak untuk menciumku karena sadar bahwa kondisi mulutnya masih terkontaminasi pahitnya hopje dan tadinya aku sudah memperingati untuk tidak menyentuh bibirku jika telah mengonsumsi permen pahit itu.


Aku mulai tegang saat tangan Sasha memegangi pinggangku. Kaos yang tipis ini, ujungnya mulai sedikit terangkat oleh tangan itu.


TING! 


Bel pintu apartemen telah berbunyi, tetapi tidak menganggu Sasha sedikit pun. Wajahnya kembali menghampiriku dan jari telunjukku langsung menahan bibirnya.


"Buka dulu pintunya, Sasha," ucapku dengan senyuman jahil.


Tanpa basa-basi, dia bangkit dan langsung pergi ke pintu. Aku reflek bernapas lega saat tadinya terasa tercekat ketika Sasha memegangi pinggangku. Dengan menekuk kaki ke atas, aku membenamkan wajah pada lipatan kedua tangan dan terasa memanas karena hal tadi.


Aku mencoba melihat ke pintu yang dibukakan Sasha. Seorang staff lobi tengah berbincang dengannya, lalu menyerahkan sesuatu. Setelah itu, dia kembali ke padaku dan terlihatlah sebuah bingkisan.


"Apa itu?" Aku bangkit dan mengambil bingkisan itu dari tangannya.


"Entahlah, coba saja buka," balas Sasha sembari membantuku membukakan bingkisan berbentuk bulat. Kemudian, terlihatlah banyak coklat kecil dengan warna putih dan hitam dalam berbagai bentuk. "Rupanya snack."


"Coklat!" Kuambil satu berbentuk segitiga dan memakannya dalam sekali masuk. Terasa buah yang begitu berair dan dipadukan coklat putih lumayan cocok. "Pemberian dari siapa?"


Sasha melahap satu cokelat dan tampaknya dia kurang suka. "Kata staf tadi, dari apartemen lantai bawah. Dia membagikan ini ke semua kamar."


"Sepertinya ada acara memanjatkan syukur sampai berbagi makanan yang mungkin mahal ini," kataku dengan mengambil satu coklat dan mengunyahnya dengan rasa aneh sampai mengerutkan dahi. "Sepertinya ... isian coklat ini adalah pepaya."


"Tidak enak?"


Aku menggeleng. "Kombinasinya tidak cocok dan sepertinya yang digunakan adalah pepaya muda."


Semua cokelat tersebut kuangkat dan memasuki kulkas. Teringat olehku mengenai banyaknya cokelat batang pemberian Tristan yang masih menumpuk di freezer. Kepalaku menjadi teringat oleh wajahnya yang semu dalam menatapku terakhir kali. Kuembuskan napas berat dari mulut dan menutup kulkas rapat-rapat.

__ADS_1


- ♧ -


__ADS_2