
Jam istirahat tiba dan seisi kelas kosong karena berhamburan menuju kantin untuk mengisi perut. Otakku mulai memikirkan tentang makanan apa yang akan kubeli bersama Hana nanti. Apakah mie yamin? Nasi goreng? Snack ringan? Aku harus memutuskannya sebelum keluar dari kelas.
"Lia!"
Baru saja berdiri dari kursi, Tristan memelukku dari samping dan lagi-lagi mengecup pipiku yang membuat jeritan kecil keluar dari mulutku.
"Ah, Tantan. Jangan lakukan hal ini lagi," tegurku seraya mendorong wajahnya perlahan agar terlepas dariku.
"Ini kan salam pertemuan khas kita, Lia," jawabnya dengan menolak melepaskan pelukan dariku.
Selama beberapa saat, akhirnya aku berhasil melepaskannya dariku dan jika dipikir-pikir, dia mirip sekali seperti lintah.
"Jangan begitu. Kita sudah remaja," ucapku sembari menggedik kepala ke arah pintu pada Hana bertanda mengajaknya pergi ke luar.
"Remaja atau tidak, sama saja." Tristan mengikuti layaknya anak itik pada induknya dan mulai bersungut-sungut. "Rupanya Lia semakin galak, ya."
Hana yang berada di sebelahku pun menjulurkan tangannya ke arah Tristan yang tepatnya juga berada di sisi lainku.
"Hai, aku Hana."
Selama beberapa saat, Tristan memandangi tangan yang mengarah padanya, lalu menyambut dengan ramah dan menjawab, "Senang berkenalan denganmu. Aku Tristan, masa lalu dan masa depan Lia."
Serta merta aku menjewer telinga laki-laki tukang asal bicara ini. "Jangan berkata yang tidak-tidak pada orang lain, Tantan."
Dengan berpura-pura menangis sekaligus isakan berlebihan, dia menjawab, "Ouch, sakit! Kau galak sekali padaku, Lia!"
Sesampainya di kantin, Hana dan aku sama-sama membeli cakwe beserta saosnya. Pikiran kami selalu sama satu sama lain, mungkin itulah efek pertemanan dekat. Aku pun terheran-heran mengapa Tristan tidak ingin berbelanja meskipun kutawari untuk menraktirnya.
"Lia, kenapa kamu memanggil Tristan dengan kata Tantan?" tanya Hana ketika kami sudah duduk di bangku kantin.
"Itu panggilan kasih sayang Lia untukku dan hanya Lia yang boleh memanggilku begitu," celetuk Tristan yang duduk di sebelahku secara menempel-nempel seperti perangko.
"Dahulu aku sering memanggil Tristan dengan panggilan belakangnya. Lalu, tidak sengaja menjadi terbiasa dengan menyebutkan 'Tan-Tan-Tan' dan akhirnya menjadi 'Tantan'," ujarku panjang lebar.
"Rupanya begitu." Tawa kecil terdengar dari Hana yang sedang mengunyah makanannya. "Lantas, kenapa kamu tidak makan juga seperti kami?"
Tristan berdecak kecil. "Kau wanita yang banyak bicara .... Ouch! Sakit!"
Tanganku otomatis mencubit pipinya akibat mengatakan kalimat tidak baik pada teman di hadapanku ini. Anak ini benar-benar harus diberi pelajaran.
"Aku hanya tidak berminat makan-makanan lokal! Itu saja kok. Jangan nistakan aku, Lia!" keluh Tristan dengan sandiwara kesedihan dan tersedu-sedu. "Apa kamu tega menyakiti laki-laki tampan dan imut sepertiku?"
Apa yang dikatakannya sangat benar. Tristan memiliki level ketampanan di atas rata-rata, terlebih lagi terkaruniai baby face yang membuat siapa pun dapat terkesima dalam sekali pandang.
"Tingkah kalian benar-benar lucu," ucap Hana yang membuatku melepaskan tangan dari Tristan. Secara tiba-tiba, dia pun bangkit dan mengatakan, "Aku pergi dulu, Lia!"
"Mau ke mana?" tanyaku cepat-cepat, namun Hana sudah berlari lebih dulu. "Hei, Hana!"
Aku memanyunkan bibir karena tidak diajak pergi olehnya. Di sisi lain, Tristan justru menopang wajahnya dengan kedua tangan dalam memandangiku terus menerus. Wajahnya menjadi normal, manis seperti biasanya dan aku tidak tahan untuk mencubitnya lagi.
"Ouch! Aku salah apa lagi?" rintihnya dengan gaya manangis ala bayi.
Aku terkekeh pelan. "Tidak ada, Tantan. Hanya saja, wajahmu terlalu imut."
"Benarkah jika aku imut?" Matanya mulai berbinar-binar dalam menanggapi pujianku dan seketika keluhan sakit tadi hilang dalam sekejap dari wajahnya. "Jika kamu menyukaiku seperti ini, aku akan seperti ini terus, Lia."
__ADS_1
Tanganku mengelus-elus rambut kuning yang terasa lembut itu seraya membalas, "Dewasalah, Tantan. Jangan kekanakan terus."
"Aku seperti ini hanya padamu saja." Tristan kembali memasang ekspresi cemberut. Mendadak, dia memegangi perut dan melirik ke atas. "Sialan, perutku sakit."
"Jangan bicara kasar," tegurku karena tak senang dalam mendengar ucapan latahnya.
"Maaf, Lia. Oh ya, aku ingin ke toilet lebih dulu! Tunggu, ya!"
Dia pun berlari pergi ke luar kantin dan kulihat dari kejauhan bahwa dia melangkah ke arah yang salah. Toilet berada di belakang sekolah bagian dekat kantin di sini, tapi dia justru memasuki gedung sekolah yang dimana hanya ada toilet khusus guru. Sebaiknya aku menyusulnya agar tidak dihukum karena asal memasuki fasilitas khusus.
Ketika aku hendak memasuki gedung, seketika terdengar keributan dari area belakang sekolah yang lumayan terpencil akibat terhimpit oleh dinding pembatas pagar. Tanpa pikir panjang, aku menghampiri suara tersebut karena rasa keingintahuan yang tinggi. Setelah berhasil mengintip, mataku membelalak hebat saat melihat segerombolan gadis sedang mencak-mencak pada satu orang di tengah-tengah mereka.
"Hei, ******! Punya harga diri atau tidak?"
"Dia nggak tahu malu banget atas tindakannya."
"Beri pelajaran yang berat agar dia menyesal!"
Ini perundungan! Tindakan mereka betul-betul tercela dan harus kuhentikan. Jika berbicara pada guru, mereka pasti akan memberikan seribu alasan untuk terlepas dari jeratan hukuman. Maka karena itu, aku menderap ke sana dan langsung menarik tangan objek yang mereka jadikan bahan rundungan.
"Lia ...."
Tubuhku berdesir akibat kaget dan nyaris tidak percaya bahwa orang yang dirundung oleh gadis-gadis ini adalah Hana. Wajah cantik dan seputih pualam tersebut terdapat goresan luka. Sebuah kotak hadiah berwarna violet telah remuk dengan seisi coklat di dalamnya. Isakannya membuat hatiku sakit dan tidak tega untuk melihat terus menerus.
"Apa yang terjadi padamu Hana hingga mereka melakukan ini padamu?" tanyaku berbisik.
"Aku ... a-aku ..."
Mendadak bahu Hana didorong oleh gadis berseragam ketat dan di mulutnya terdapat permen untuk menambah kesan buas dalam amarahnya.
"Betul tuh. Untung saja aku mendengar dia sedang bersenandung di kelas dalam mengeluarkan kotak coklat murahan ini untuk menyatakan perasaan pada Sasha," sahut gadis yang lainnya.
"Lia, kau pergi saja dari sini dan jangan ikut campur urusan kami! Kami lumayan suka padamu karena tidak pernah tertarik pada Sasha," celetuk gadis di sebelahnya.
Aku mendengus kesal dan menarik Hana ke belakangku seraya berkacak pinggang. Mataku menatap mereka satu per satu dengan tajam dan mengatakan, "Dasar minus akhlak! Begini caranya kalian memperlakukan temanku?"
Desas-desus cemoohan mereka mulai terdengar.
"Kalian seharusnya jika menyukai Sasha, pergilah untuk menyatakan perasaan padanya. Bukan dengan cara membentuk kelompok fan girl yang toxic seperti ini!" bentakku menggebu-gebu. "Tindakan kalian tidak bisa dimaafkan. Aku akan melaporkan ini langsung ke kepala sekolah, bukan ke guru BK lagi."
Gadis yang paling terdepan mulai melangkah maju dan langsung menjambak rambut panjangku sekeras mungkin. Hana menjerit histeris dan memohon agar melepaskanku.
"Kau ini tidak usah sok pahlawan!" hardik gadis penjambak ini. "Nasibmu akan sama naasnya dengan ****** tadi. Maka karena itu, tutup mulutmu dan pergilah dari sini."
Bibirku menyunggingkan senyuman dan langsung mencengkram tangannya sekuat mungkin sampai berhasil terlepas dari rambutku. Dengan cepat, aku menyentaknya dan memberi tamparan super keras hingga terjatuh dengan posisi yang sama seperti Hana.
"Jaga sikapmu, aku lebih kuat darimu," tegurku dan menunduk untuk kembali menamparnya. "Apa seperti caramu menghukum Hana? Biar aku berikan lagi."
Kepalaku mendongak dan menatap gadis-gadis yang lain sembari menunjuk ke arah martial bangunan berkarat di dekat Hana. "Meskipun kalian mengkroyokku, aku tidak segan-segan mengambil tongkat besi ini dan melukai wajah kalian seperti yang terjadi pada Hana."
Tiba-tiba, satu gadis lagi ikut maju ke depan sembari melayangkan kepalan tangannya. Namun, dia langsung membeku dalam menatap ke arah belakangku.
"Kenapa menjadi terdiam? Ayo lanjutkan lagi."
Tanpa perlu menoleh, aku bisa mengetahui ini adalah suara Tristan. Dari ekor mata, aku melihatnya sedang melipat satu tangan di depan dada dan tangan yang lainnya memegangi dagu dengan menampilkan ekspresi menikmati keributan kami.
__ADS_1
"Ah tidak, kami hanya bercanda tadi!" ucap gadis itu sembari menurunkan tangannya.
"Iya-iya, cuma belajar sandiwara kok!" sahut yang lainnya.
"Hei, girls. Ayo kita kembali ke kelas karena sebentar lagi akan bel. Ayo-ayo!"
Dalam seketika mereka membubarkan diri dalam melewati kami bertiga, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.
"Gila, guys. Laki-laki tadi seperti idol, tau! Gantengnya nggak kalah dari Sasha."
"Untung aja aku jaga sikap, kalau tidak, akan mendapatkan imej buruk darinya."
"Seharusnya aku minta bomornya dulu, sih. Ah, situasi tidak memungkinkan. Nanti aja deh."
"Nanti kita ke Mall Plaga di dekat Central Park itu, ya? Jangan lupa, lho! Ajak Sasha juga, siapa tahu dia mau. Kalau ditolak pun tidak mengapa."
Rasa jengkelku masih menempel. Secepatnya aku merapikan rambut Hana dan dia menangis tersedu-sedu.
"Aku yang salah Lia, Maafkan aku."
Kepalaku menggeleng pelan. "Tidak, Hana. Apa yang kamu hendak lakukan sudah bagus untuk kemajuan tujuanmu. Mereka yang merasa iri dan dengki yang harus disalahkan."
Kubantu Hana dalam berjalan menuju UKS dan setelah ini aku akan mengadukan apa yang terjadi tadi pada kepala sekolah agar bertindak menegakkan keadilan. Tibanya kami di UKS, kuoleskan obat tradisional di pipi dan sudut bibir yang terdapat luka. Lalu, aku mengompres pipinya yang terdapat bekas tamparan.
"Jika saja aku melihat gadis jelek tadi berhasil menampar Lia, maka aku akan membalasnya sepuluh kali lipat," ujar Tristan yang sedang menontonku dalam mengobati luka Hana.
"Jangan memukul perempuan, Tantan," tegurku tanpa menoleh ke arahnya.
"Baik Lia jika itu yang kamu mau."
Selimut sudah menghangatkan tubuh Hana yang berada di atas ranjang. Meskipun lukanya tegolong ringan, aku tidak ingin dia merasakan malu akibat wajahnya yang membuat merasa tidak dapat tampil percaya diri. Aku mengucapkan selamat tinggal karena bel akan berdering sebentar lagi. Saat pulang sekolah nanti, aku akan membangunkannya dan mungkin ikut mengantarkannya ke rumah.
"Aku tidak menemukan toilet di sekitar sini, Lia." Tristan menggoyang-goyangkan lenganku. "Ayo tunjukkan toilet di sekolah ini."
Dia mulai mengeluh dan ucapannya mengartikan bahwa kemunculannya tadi disebabkan hendak bertanya lokasi pembuangan hajat tersebut. Malangnya. Sejak tadi, dia pasti menahan diri karena kesibukanku terhadap Hana.
Dengan berbaik hati, aku menunjukkan lokasi dituju dan langsung mengerjainya dengan berlari seolah-olah meninggalkan Tristan yang berteriak untuk menunggunya. Karena aku tidak ingin dicatat oleh anggota OSIS jika telat memasuki kelas, kaki ini langsung melangkah pergi tanpa memikirkan nasib Tristan yang sudah pasti panik dengan aroma busuk toilet para laki-laki.
Aku membuka pintu kelas yang anehnya dalam keadaan setengah tertutup. Di tempo yang sama, sebuah ember terjatuh di atas kepalaku dan membanjiri air ke seluruh tubuh ini. Seragam yang kukenakan menjadi basah dan otomatis terlihat transparan. Aku merasa tubuhku telah terekspos pada pandangan semua anak yang melihatku. Telingaku menangkap suara tawa cablak yang dimana berasal dari gadis-gadis di depanku.
Dalam seperkian detik sebelum tanganku membalaskan perbuatan mereka, seketika sebuah benda keras menghantam kepala belakangku dan terjatuh di pundakku, lalu barulah tergeletak lantai sebuah penghapus papan kayu. Sakit dengan rasa nyeri menjalar di kepalaku. Aku sontak menoleh dan melihat dua gadis berlari sembari terbahak-bahak yang tentunya mereka adalah pelakunya.
Tubuhku merasa kedinginan dan otomatis kedua tanganku memeluk diri sendiri. Kipas angin di dalam kelas mendukung tubuhku untuk mengigil dan kepalaku mulai terasa pusing. Ini gara-gara semalam, aku kurang tidur karena memikirkan masalah Sasha.
"Rasakan itu! Makanya, jangan berbuat macam-macam pada kami!" seru salah satu gadis yang berada di dalam kelas. "Mampus, deh!"
"Ayo-ayo! Cepat kabur!" ajak gadis yang lain dengan berlari dan mendorongku kuat-kuat sampai aku terjerembab.
Lagi-lagi kepalaku menambahkan rasa sakit akibat terbentur di lantai.
Dunia seperti sedang berputar, pandanganku mulai kabur dan suara di sekitaran menjadi bergema. Di ambang kesadaran, terlihat sebuah wajah di depanku yang memanggil namaku berkali-kali. Sasha, apakah itu dia? Aku tidak tahu pasti. Tubuhku mulai terangkat oleh kedua tangan yang menggendongku dan terasa sebuah goncangan menandakan bahwa aku tengah dibawa lari secepat mungkin.
Pada akhirnya, kesadaranku habis total dan dunia menjadi gelap.
- ♧ -
__ADS_1