
Di perjalanan pulang, kepalaku terus menerus terbayang wajah Tristan yang terakhir memandangiku. Semu dan tidak seperti tabiat aslinya. Aku mengakui bahwa sikapnya disebabkan olehku, tetapi tetap saja aku enggan mengakui bahwa pertengkaran kami adalah salahku.
"Kepikiran dia?" Sasha berbicara dengan membuyarkan lamunanku.
"Iya," jawabku dan baru sadar jika kami berdua sudah sampai di depan apartemen. "Merelakan pertemanan, rasanya sesedih ini."
"Sedih? Kukira, kamu marah sampai berkata kasar seperti tadi."
Rasa malu menghampiri karena teringat bagaimana tidak sopannya mulut ini melontarkan kata kasar. Aku pasti berdosa sekali akibat reflek frontal tersebut. Sudah pasti Tristan begitu sakit hati dengan perkataanku dan tidak mau memaafkan. Ini begitu berlebihan, tetapi faktanya emosiku bercampur aduk dan tidak bisa dikontrol akhir-akhir ini.
Kami menaiki lift ke lantai dua, lalu sampailah di unit apartemen. Saat pertengahan jalan ke kamar pribadi, mendadak aku terpeleset dan menjerit kaget. Sasha yang tengah melepas sepatunya pun hendak menolongku, tapi dia justru ikut terjatuh akibat masih mengenakan kaos kaki dan mendapatkan efek kelicinan lantai. Aku juga baru sadar jika masih mengenakan kaos kaki yang tentunya akibat tidak fokus.
Untungnya, aku terjatuh ke samping, yakni ke sofa panjang. Otomatis Sasha menimpaku, tapi kedua tangannya begitu gesit dalam menopang tubuh agar aku tidak tertindih olehnya. Mata kami menjadi memandang satu sama lain dan tiba-tiba saja aku berdegup kencang, berharap jika dia tidak mendengar suara tersebut. Semoga saja wajahku tidak memerah pada situasi ini!
Sasha memalingkan pandangan, lalu mendengus dan berkata, "Sejujurnya, aku tidak suka kamu kepikiran laki-laki itu sampai linglung seperti ini."
Aku tertegun sejenak. Sepertinya, aku sungguh kurang fokus sampai terjatuh seperti ini.
"Ah ya, maafkan aku jika begitu," jawabku sembari mencoba bangkit dan memegang dada Sasha agar dia menyingkir. Namun, dia justru menyosor ke arahku akibat kakinya tergelincir lagi dan kami pun benar-benar tumpang tindih.
Situasi seperti ini ... memang bukanlah pertama kali. Akan tetapi, tetap saja terasa canggung!
"Menyebalkan," gumamnya yang membuatku terkejut. "Tidak peduli, aku tidak tahan!"
Mataku membulat dan lagi-lagi terkejut bukan main. Tanpa aba-aba, Sasha menyapukan bibirnya pada bibirku dengan sedikit kasar. Seluruh tubuhku seperti menolak bergerak, isi pikiranku mendadak kosong dan tidak tahu lagi harus bereaksi apa. Jantungku yang tadinya berdebar-debar, kini mulai perlahan tenang dan seolah terisi oleh kesejukan.
Akhirnya, aku bisa bernapas lega saat dia terlepas dariku. Wajahnya memerah dan aku kebingungan karenanya. Kemudian, dia membenamkan wajahnya di bahuku.
"Aku ... benar-benar cemburu karena memikirkan orang selainku," ucapnya dengan nada kesedihan. "Rasanya tidak enak memendam hal ini."
Bibirku tersenyum dan mengangkat kepalanya sampai kami bertatapan. "Aku tidak tahu jika kamu memiliki sifat cemburu."
"Dan sekarang kutunjukkan sifat itu," balasnya sembari memegangi tanganku.
__ADS_1
Aku tertawa kecil, lalu tersenyum dan menarik wajahnya mendekat, memberinya ciuman yang sama sekali tidak terekspektasi jika kurang senyaman ini. Alih-alih terasa manis dan menyenangkan, justru rasa pahit menjalar di bibirku. Aku bahkan ingin berdecih berkali-kali untuk menghilangkan kepahitan ini.
Setelah Sasha melepaskan ciumannya dariku, dia justru roboh ke sisi punggung sofa. Awalnya, aku mengira dia pingsan sampai kutempelkan jari telunjuk di bawah hidungnya. Masih ada pernapasan dan rupanya hanya tertidur. Dia pasti bangun terlalu awal untuk menyiapkan bekal yang terlalu dibentuk-bentuk.
Teringat olehku bahwa bibir ini pernah merasakan pahit yang sama. Setelah kucoba untuk berpikir lama, akhirnya menemukan jika rasa ini berasal dari permen Sasha. Menyebalkan, dia pasti sempat mengonsumsi bola kecil itu dan tidak berpikir panjang dalam menciumku.
Tunggu dulu, jika rasa ini sama seperti dahulu, bukankah berarti dia pernah menciumku? Akan tetapi, dia tidak mengakuinya saat itu.
"Bangunlah, Sasha." Aku mencolek-colek pipinya. "Ganti seragammu dulu."
Alih-alih membuka mata, tangannya justru memelukku dan mendekapku sedikit erat. Seketika aroma sabun tercium darinya, membuatku sedikit nyaman dan nyaris melupakan nasib bibirku. Akibat terbawa suasana, aku ikut tertidur dengannya di siang hari ini.
Setelah sekian lama yang terasa sebentar, aku terbangun dan langsung melihat ke arah jam dinding menunjukkan sore hari. Aroma masakan lezat tercium dan aku langsung terbangkit hingga melihat Sasha yang sudah mengenakan pakaian santai dengan lengan panjang digulung sesiku.
"Aku tidak enak membangunkanmu, maaf," ucapnya sembari meletakkan sebuah piring. "Ayo makan, karena siang tadi kita belum makan."
Aku berdiri dan melihat ke arah meja yang berisikan nasi beserta aneka lauk pauk menggiurkan.
"Sepertinya tidak sopan jika aku makan dalam keadaan seperti ini," kataku sembari melihat ke arah seragam yang sudah kucel. "Aku akan mandi dulu."
"Apa-apaan kamu ini? Sedang belajar jurus teleportasi?" Aku memelototinya sembari mengelus dada. Melihat wajahnya yang cerah, aku pun paham akan maksudnya. "Jangan menggodaku. Aku tidak mau menodai bibirku lagi karenamu."
Reaksi Sasha justru kecewa dalam mendengarkan ucapanku. "Sebenarnya aku tidak memintamu menciumku. Tapi ... ya sudahlah."
Rupanya aku terlalu percaya diri dan ini cukup memalukan. Rasanya, ingin menghilang dari hadapannya dalam sekejap mata.
"Kenapa merasa ternodai?" Kedua alisnya terangkat dengan makna keingintahuan yang tinggi.
"Itu karena permen pahitmu!" Aku menunjuk bibirnya dengan kesal dan beraktik mual. "Jangan menciumku setelah memakan permen itu. Sungguh pahit."
Dia berpikir sejenak, lalu mengangguk. "Sebegitu tidak sukanya dengan hopjes itu?"
"Tidak suka," balasku seraya memasang tampang masam. "Bukankah aku sudah membuangnya ke tong sampah?"
__ADS_1
"Aku memungutnya."
Serta merta aku mengurut dahi dan ingin mengatakan bahwa itu adalah hal jorok. Bukankah dia super cinta kebersihan?
"Lagi pula, dilindungi pembukus. Sampah kita adalah organik, jadi tidak perlu khawatir kotor." Sasha berdalih sembari mengeluarkan biji-bijian yang dimaksud dari kantong, lalu melahapnya ke mulut.
Lidahku reflek menjulur karena terbayang rasa pahitnya.
"Lagi pula, bukan pertama kalinya aku menciummu setelah memakan ini." Dia menggoyang-goyangkan bungkusan permen itu dan tersenyum miring.
Otakku bekerja keras untuk mengingat kapan kami berciuman tanpa kurasakan pahit di bibir.
"Kapan?" tanyaku dengan isi kepala kosong.
"Sama seperti tadi, sebelum kamu tertidur."
Kedua alisku menyatu. "Saat aku tertidur dahulu setelah menonton TV itu?!"
Bibirnya menambahkan lebaran senyum dan aku seperti akan murka.
Sebelum dia lanjut kembali ke dapur, aku melanjutkan, "Tapi, kamu mengatakan jika tidak sengaja menyentuh bibirku?"
"Apa isi pikiranmu saat aku mengatakan itu?" Sasha duduk di kursi, lalu menarik tanganku sampai aku duduk di sebelahnya.
Ah ya, aku hanya terbayangkan jika tangannya yang menyentuh bibirku secara tidak sengaja. Berarti ... perkiraanku saat itu benar!
"Menyebalkan." Tanganku memukul lengannya akibat malu dalam mengingat hal tersebut.
Sasha tertawa kecil, lalu mengambil satu nugget dan membuka mulutnya. "Jangan begitu, hentikan. Ayo buka mulutmu dan makan ini."
"Kamu saja. Mulutmu lebih membutuhkan itu," balasku dengan kesal dan lanjut memukuli lengan penuh ototnya.
Andai saja saat itu dia jujur, hubungan kami ini pasti akan dijalani lebih awal.
__ADS_1
- ♧ -