
Aku tidak akan berbohong tentang hal ini. Lihat saja laki-laki yang selalu bersikap layaknya anak kecil itu, alias Tristan. Hanya dengan mengganti warna rambut, aku menjadi tidak heran lagi mengapa para gadis tergila-gila dengannya daripada Sasha.
"Hei, hei, Lia! Aku berhasil membujuk orang tuaku untuk menetap di negri ini!" ucap Tristan dengan antusias yang sedang duduk di hadapanku.
Kini kami berada di kantin dengan Hana di sebelahku, sedangkan Tristan dan Sasha bersebelahan di seberang.
"Baguslah, aku turut senang," kataku dengan bertepuk tangan kecil.
"Oh, ya ... kenapa si muka datar ini berada di sini?" tanyanya sembari menunjuk ke arah Sasha yang sedang membaca buku pintar kecil sembari mengunyah kacang.
Aku menjadi sulit menjawab alasan mengapa Sasha menjadi akrab dengan kami karena sebelum ini, sudah kuperingati Hana bersama Sasha untuk menutup mulut akan kejadian yang menimpa kami dari Tristan. Jika perihal alasan, aku takut jika dia menindaki hal ini dengan salah.
Teringat olehku akan masa lalu yang di mana kami berdua begitu lengket dalam pertemanan. Tristan begitu suka mengikuti ke mana pun, bahkan dia selalu sigap menghampiri rumahku setelah pulang dari sekolah dasar internasionalnya. Bukan itu yang menjadi kenangan utama yang aku ingat. Melainkan tentang peliharaan pertamaku.
Saat itu, aku senang sekali bermain dengan anak kucing yang selalu berkeliaran di sekitar nenek kala berkebun. Memberinya makan, minum, membuatkan mainan dari ikatan jerami. Namun, Tristan enggan bermain dengannya menggunakan alasan jika hewan itu kotor. Selang beberapa hari, dia membunuh anak kucing tersebut.
"Maaf, Lia. Aku yang menginjak kucing jelek itu," ujar Tristan yang membuatku menangis.
"Kenapa kamu membunuh kucing imut ini, Tantan?" rengekku sembari mengubur mayat kucing kecil.
"Aku melihatnya mencakarmu. Jadi ... sesuatu yang menyakitimu, bukannya harus disingkirkan, ya? Kata ayahku begitu."
Terdengar seperti ucapan anak kecil yang salah menafsirkan perkataan orang tua. Hanya sekadar perilaku melindungi teman dengan cara yang salah.
"Ini, aku berikan boneka lembut untukmu. Sama-sama kucing juga!" ujar Tristan sehari setelah aku menguburkan mayat kucing.
Awalnya, aku menerima dengan senang hati dan langsung melupakan hal kemarin. Sekarang, aku paham jika hal kecil tersebut bisa berdampak buruk pada tempramentalnya.
Lamunanku terbuyarkan dan langsung tersenyum keki kepada Tristan.
"Begini, Tantan ... emm ..." Bagaimana caranya aku berbohong dengan mulus?
"Sasha dan aku sudah jadian," celetuk Hana yang membuat kami semua terperangah hebat. "Maka karena itu, dia ada di sini karenaku."
Sontak, aku dan Sasha saling berpandangan tidak percaya dengan pernyataan tersebut. Hana benar-benar memilih kedustaan yang hebat.
__ADS_1
"Wow! Selamat, bung," ucap Tristan pada Sasha dengan wajah mengejek. "Lantas, kenapa kau tidak bersama pacarmu berduaan saja?"
Serta merta Hana menempel padaku dan menyahuti, "Aku masih ingin bersama Lia."
Tristan memasang wajah kesal dan bibirnya menggerakkan kalimat ejekan tanpa bersuara. Daripada topik kebohongan ini terus menerus mengalir, lebih baik aku menggantinya.
"Tantan, apa alasanmu sampai bisa menetap di sini? Ayolah, beritahu temanmu ini!" Senyumanku melebar untuk mengartikan rasa tidak sabar dalam menunggu jawaban.
Wajah Tristan menjadi memelas dan satu telunjuknya melingkar-lingkar di atas meja. "Sebenarnya, ini rahasia besar, Lia ...."
"Kenapa bermain rahasia padaku?" tanyaku kecewa. "Jangan bilang, kamu mengancam orang tuamu?"
"Tentu tidak!"
Meskipun dia tipekal pemaksa, aku tidak serius melemparkan pertanyaan itu.
"Aku diberi pekerjaan tetap di sini, hanya itu saja, Lia." Dua jari Tristan terangkat dan memberikan senyuman kaku.
Hana yang masih mengunyah kacang pun menjadi kagum. "Wah, kamu bekerja ketika masih remaja?"
Sasha menaikkan sebelah alisnya. "Kau kan orang kaya. Untuk apa bekerja?"
Dia pun mulai memandangi Hana dan Sasha dengan tatapan ceria, tetapi berkesan marah. "Bisakah kalian berdua meninggalkan kami? Aku ingin membicarakan sesuatu yang penting."
Hana menoleh padaku. "Selagi ada yang menemani, tidak apa-apa jika kami pergi. Aku ke kelas dulu."
Mereka berdua beranjak pergi dan meninggalkan aku bersama Tristan. Semoga saja, dia tidak menanyakan hal yang kubayangkan.
"Sebenarnya, aku tidak suka jika mereka menempel padamu," ucapnya dan meletakkan kepala di atas meja. "Sejak awal, aku tahu mereka berdua saling suka. Jadi, aku tidak perlu turun tangan untuk menjauhkan mereka darimu."
Kucubit hidungnya yang mancung seraya berkata, "Jangan begitu. Mereka juga temanku, Tantan."
"Tidak bisakah temanmu hanya aku saja?" Wajahnya pun lebih memelas dan berkesan imut sekali.
Baguslah, rupanya tidak ada hal penting yang kami bicarakan sampai mengusir Hana dan Sasha.
__ADS_1
"Waduh, apakah ini pacar baru?"
Suara tepukan tangan terdengar, lalu aku melihat Ricky mendekat dengan wajah yang sudah diobati. Aku harus tenang, meskipun jari-jariku mulai gemetar.
"Lihat, siapa ini?" Ricky menatap Tristan dengan kepala yang dia miringkan. Kemudian, dia menatapku dengan tawa kecil. "Hebat, seleramu adalah orang-orang tampan."
Mendadak, Tristan menghantam wajah Ricky ke meja hingga seisi kantin serentak menoleh. "Jaga nada bicaramu dengan Lia," hardik Tristan dengan lirih sampai aku sedikit menjerit karena kaget.
Tunggu dulu, sejak kapan Tristan menjadi seagresif ini?
Ricky memberontak dan melangkah mundur seraya mengerang tanda mengamuk. "Sialan. Lihat saja kau, Lia! Kau akan menanggung akibatnya."
Setelah mengucapkan kalimat mengutuk, dia melangkah pergi dengan emosi membara dan membuat Tristan menatapku kebingungan.
"Apa dia punya masalah denganmu sebelum ini?" Matanya menatapku lekat-lekat.
"Tidak ada," jawabku dengan ragu. "Dia memang anak nakal yang suka mengganggu. Lupakan saja. Nanti, dia juga akan mendapatkan balasan setimpal."
"Lia, apa kamu serius?"
"Iya, percayalah."
Wajahnya menampilkan keseriusan yang membuatku tidak nyaman. Semoga saja, Ricky tidak bertingkah lagi dan Tristan tetap tidak mengetahui apa pun.
Menjijikkan, aku terbayang akan hal mengerikan itu. Gawat, traumaku kembali menghantui hanya karena kemunculan si bajingan tadi. Apakah kepala sekolah tidak bisa bertindak adil pada murid-muridnya meskipun anaknya adalah kriminal? Aku tahu, sebagai oang tua apsti tidak mampu melepaskan anaknya ke hukuman berat. Namun, bisakah beliau memindahkan sekolah anaknya saja?
Tanganku sudah gemetar dan ingin sekali mencengkram sesuatu. Aku butuh Sasha!
"Aku ingin ke kelas, bisakah kamu menemaniku, Tantan?" tanyaku dengan menyumbunyikan tangan di belakang dan menahan gemetar dengan merapatkan rahang gigi.
Tristan langsung bangkit dari duduknya. "Oke. Tapi, sedari tadi kamu belum memakan apa pun, Lia."
"Tadi pagi, aku sudah memakan roti isi dari Hana. Rasanya masih kenyang, kok," kataku sejujurnya.
"Baiklah kalau begitu. Ayo, kita pergi."
__ADS_1
Syukurlah, tidak ada pernyataan lagi.
- ♧ -